Biopori dan Drainase Vertikal

Biopori dan Drainase Vertikal

Dinas Sumber Daya Air
Rabu, 24 Maret 2021, 06:38 WIB

Sebagai wilayah perkotaan dengan banyak bangunan dan jalanan yang diaspal, Jakarta kekurangan permukaan tanah, sehingga air yang masuk ke ke dalam tanah menjadi sedikit. Padahal, air tanah merupakan kebutuhan dasar warga ibu kota setiap hari. Akibatnya, pada musim kemarau, Jakarta terancam kekeringan, karena kekurangan persediaan air tanah. Sedangkan pada musim hujan terancam genangan dan banjir, karena air hujan tidak terserap ke dalam tanah. 

Untuk mengatasi kekeringan atau banjir di Jakata, biopori dan drainase vertikal merupakan salah satu solusinyai. Biopori adalah lubang resapan silindris yang dibuat secara vertikal ke dalam tanah. Sedangkan drainase vertikal atau sumur resapan merupakan lubang resapan silindiris yang lebih besar dan berguna untuk menampung air hujan atau air yang mengalir di permukaan tanah. Biopori serta drainase vertikal dapat membantu meningkatkan persediaan air tanah dan mengurangi genangan di atas permukaan tanah. 

Biopori dibuat dengan mengisi sampaj organik ke dalam lubang yang dapat mengundang organisme tanah. Organisme tanah inilah yang dapat mengurai sampah, lalu menghasilkan mineral-mineral yang baik untuk air tanah dan dapat menyuburkan tanah. 

Berbeda dengan biopori, drainase vertikal atau sumur resapan tidak diisi dengan sampah organik, karena fungsi utamanya adalah menampung persediaan air tanah dengan volume yang lebih besar.

Biopori

Biopori dipilih sebagai cara yang paling tepat untuk dibangun secara masif di Jakarta. Hal ini karena biopori umumnya hanya berdiameter sekitar 10 cm dengan kedalaman hingga 100 cm. Ukurannya yang tidak terlalu besar memudahkan biopori untuk dibuat dan mempermudah pencarian lahan sebagai lokasi pembuatannya. Warga ibu kota juga dapat dengan mudah membuat biopori di lahan rumah masing-masing. Berikut adalah cara membuat biopori:

  • Siapkan peralatan untuk membuat lubang, yaitu alat bor, sekop, pipa panjang dengan diameter yang sesuai, penutup lubang, semen dan pasir apabila diperlukan, serta sampah organik berupa tumbuhan, ranting, atau dedaunan (bukan sampah makanan).

  • Temukan tempat yang sesuai dengan kondisi tanah yang dapat meresap air dengan baik, tidak lempung dan cadas. 

  • Buat lubang vertikal berdiameter 10-25 cm dengan kedalaman 100 cm. 

  • Masukkan pipa ke dalam lubang tersebut.

  • Taruh sampah organik ke dalam pipa, kemudian tutup dengan penutup lubang.

  • Perkuat tepi lubang di permukaan dengan semen dan pasir yang telah diaduk.

  • Rawat biopori secara rutin dengan mengganti sampah organik setiap 2-3 bulan. Bekas sampah organik yang telah terurai dapat bermanfaat menjadi pupuk kompos. 

Untuk informasi lebih lanjut, silakan mengunjungi web Dinas Sumber Daya Air Jakarta.


Artikel Terkait

Dinas Sumber Daya Air

Bidang Sumber Daya Air mempunyai tugas melaksanakan pengelolaan sumber daya air di wilayah sungai yang meliputi perencanaan, pelaksanaan konstruksi, operasi dan pemeliharaan dalam rangka konservasi dan pendayagunaan sumber daya air dan pengendalian daya rusak air pada sungai, pantai, bendungan, embung dan tampungan air