Kota Administrasi Jakarta Timur dipimpin oleh seorang Walikota dan dibantu oleh Wakil Walikota. Walikota Kota Administrasi Jakarta Timur saat ini adalah Dr. Munjirin, S.Sos., M.Si., dan Wakil Walikota Kusmanto, S.Sos., M.Si.
Wilayah Kota Administrasi Jakarta Timur memiliki 10 (sepuluh) kecamatan dan 65 (enam puluh lima) kelurahan. Adapun daftar dari kesepuluh kecamatan di Jakarta Timur adalah sebagai berikut;
Jakarta Timur memiliki jejak sejarah yang berbeda dibanding wilayah lain di Jakarta, sebab wilayah ini tumbuh dari kawasan agraris yang perlahan berubah menjadi bagian penting dari ekspansi kota. Pada masa kolonial, wilayah ini dikenal sebagai daerah pinggiran yang didominasi oleh lahan pertanian, perkebunan, serta pemukiman Betawi. Kawasan seperti Jatinegara sudah berkembang sebagai pusat aktivitas lokal sejak abad ke-19, menjadi penghubung antara Batavia dengan wilayah pedalaman Jawa.
Memasuki masa pasca-Kemerdekaan, Jakarta Timur mulai mengalami perubahan signifikan seiring dengan meluasnya pembangunan kota Jakarta ke arah timur. Secara administratif, wilayah ini resmi menjadi Kota Administrasi Jakarta Timur pada tahun 1966. Sejak saat itu, Jakarta Timur tidak lagi diposisikan sebagai daerah pinggiran semata, melainkan sebagai bagian strategis dalam mendukung pertumbuhan ibu kota, terutama dalam penyediaan lahan untuk pemukiman dan aktivitas ekonomi.
Perubahan paling mencolok terjadi ketika Jakarta Timur berkembang menjadi kawasan industri dan infrastruktur. Hadirnya kawasan seperti Kawasan Industri Pulogadung menjadi tonggak penting dalam transformasi ekonomi wilayah ini. Selain itu, keberadaan infrastruktur besar, seperti Bandar Udara Halim Perdanakusuma dan jaringan jalan utama memperkuat posisi Jakarta Timur sebagai simpul logistik dan mobilitas di Jakarta.
Kini, Jakarta Timur dikenal sebagai wilayah dengan kepadatan penduduk yang tinggi serta karakter yang beragam, mulai dari kawasan industri, permukiman padat, hingga ruang terbuka hijau seperti Taman Mini Indonesia Indah. Transformasi ini menunjukkan bahwa Jakarta Timur bukan hanya sekadar hasil perluasan kota, tetapi juga ruang yang mencerminkan dinamika perubahan ekonomi dan sosial Jakarta dari basis agraris menuju kota metropolitan yang kompleks.