Balaikota DKI Jakarta pertama kali dibangun pada masa kolonial Belanda di awal abad ke-20. Arsitekturnya berciri khas Eropa klasik yang cukup sederhana. Gedung ini difungsikan sebagai pusat administrasi dan simbol modernisasi kota kala itu. Sejak masa itu, Gubernur berkantor di gedung ini setelah sebelumnya pemerintahan Batavia sempat beberapa kali pindah tempat.
Balaikota DKI Jakarta terletak di Jalan Medan Merdeka Selatan, tepat di sisi selatan Lapangan Monas. Kini, terdapat beberapa gedung baru yang merupakan bangunan tempat pusat aktivitas birokrasi pemerintah provinsi. Balaikota DKI Jakarta bukan saja menjadi gedung peninggalan sejarah pemerintahan kota, tapi juga simbol lahirnya berbagai kebijakan. Ada berbagai keputusan penting mengenai pembangunan Jakarta dilahirkan dari tempat ini.
Istana Merdeka
Istana Merdeka merupakan rumah tinggal untuk Presiden Republik Indonesia. Terletak di Jalan Merdeka Utara dan menghadap ke Taman Monumen Nasional. Kompleks Istana Merdeka dan Istana Negara luasnya mencapai 6,8 hektar dan berada di jantung ibu kota negara. Melalui arsitek Drossares, pada tahun 1873, yakni pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Louden, didirikan bangunan lain yang baru rampung kemudian pada tahun 1879, di masa pemerintahan Gubernur Jenderal Johan Willem van Landsbarge. Bangunan tersebut dikenal dengan nama Istana Gambir atau yang sekarang dikenal dengan Istana Merdeka.
Gedung MPR DPR RI
Gedung DPR/MPR RI yang kita kenal hari ini dibangun atas prakarsa Presiden Soekarno di tahun 1965. Arsitek gedung ini adalah Friedrich Silaban dan Soejoedi Wirjoatmodjo. Awalnya, gedung di kawasan Senayan ini dibangun untuk menjadi tempat pertemuan negara-negara baru berkembang dan diberi nama Gedung Conefo. Confeno merupakan singkatan dari Conference of the New Emerging Forces.
Setelah pergantian kekuasaan di masa Orde Baru, gagasan Conefo dibubarkan. Sekitar tahun 1966-1967, gedung yang sudah hampir selesai dibangun ini diputuskan untuk dipakai sebagai komplek parlemen. Secara resmi, bagian inti gedung ini, yaitu ruang sidang besar berkubah hijau) digunakan sebagai tempat Sidang MPRS pada tahun 1966.Sejak saat itu, fungsinya beralih rencana, semula untuk forum internasional menjadi pusat kegiatan lembaga legislatif Indonesia.
Kini, gedung ini menjadi kantor resmi Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR), dan Dewan Perwakilan Daerah (DPD). Kompleks DPR/MPR RI terdiri dari Gedung Nusantara dengan kubah ikonik, serta beberapa gedung lain seperti nusantara I sampai Nusantara V. Semua difungsikan menjadi ruang sidang, rapat fraksi, komisi dan administrasi. Gedung ini juga menjadi lokasi Sidang Tahunan MPR dan berbagai sidang penting lain untuk menentukan arah kebijakan negara. Karena gedung DPR/MPR juga kerap kali dikunjungi masyarakat untuk aksi demonstrasi, gedung ini juga akhirnya menjadi simbol dinamika demokrasi di Indonesia.
Museum Gereja Katedral Jakarta
Museum Katedral yang diresmikan Mgr Julius Darmaatmadja pada 28 April 1991, diprakarsai pastor kepala gereja waktu itu, Pater Rudolf Kurris. Berawal dari rasa cinta Kurris terhadap benda-benda bersejarah yang menurutnya dapat membangkitkan rasa kagum manusia terhadap masa lampau dan keinginannya menyalurkan pengetahuan dari generasi ke generasi. Museum yang menyimpan sekitar 400 koleksi benda-benda liturgi ini terbuka untuk umum
Masjid Istiqlal
Masjid Istiqlal resmi dibuka pada tanggal 22 Februari 1978. Masjid yang dirancang oleh arsitek Frederich Silaban ini mencerminkan campuran gaya modern dan tradisional, dengan sentuhan seni Islam klasik. Dengan kapasitas untuk menampung hingga 200.000 jamaah, masjid ini memiliki kubah besar dan menara yang mengesankan. Meskipun Indonesia mayoritas beragama Islam, masjid ini terbuka untuk semua agama dan pemeluk keyakinan.
Kota Tua
Kota Tua Jakarta (Batavia) berlokasi di wilayah administrasi kota Jakarta Barat dan Utara. Di atas lahan seluas 1,3 kilometer persegi inilah, pemerintah Belanda membangun benteng, kanal, gedung pemerintahan, serta perkantoran. Di sini Anda dapat menemukan Museum Fatahillah dan Stasiun Kereta Api Beos yang masih mempertahankan arsitektur klasiknya.
Museum Nasional (Gedung Gajah)
Salah satu museum tertua dan terbesar di Asia Tenggara ada di Jakarta, namanya adalah Museum Nasional Indonesia, atau lebih dikenal dengan sebutan Gedung Gajah. Museum ini memiliki sebutan lain, yaitu Gedung gajah, lantaran terdapat patung gajah perunggu di halaman depannya. Patung gajah tersebut adalah hadiah dari Raja Chulalongkorn (Rama V) asal Thailand di tahun 1871.
Awalnya, pada tahun 1778, para ilmuwan Belanda mengumpulkan dan mempelajari berbagai benda sejarah dan kebudayaan nusantara. Aktivitas ini dilakukan oleh para ilmuwan Belanda yang terhimpun dalam Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen, artinya Perhimpunan Seni dan Ilmu Pengetahuan Batavia. Benda-benda yang diteliti ini sering kali berpindah tempat, kadang di rumah anggota, kadang di gedung sewaan.
Pada tahun 1862, pemerintah Hindia Belanda akhirnya menyetujui inisiasi pembangunan gedung khusus untuk menyimpan benda koleksi yang diteliti oleh Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen. Pembangunan gedung dilakukan di Koningsplein west, yang saat ini menjadi Jalan Medan Merdeka Barat. Pembangunan gedung selesai dilakukan di tahun 1868 dan sejak saat itu pula gedung ini difungsikan sebagai museum untuk memamerkan koleksi benda yang diteliti oleh Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen.
Saat ini, lebih dari 140.000 koleksi ada dan dipamerkan di museum ini. Benda-benda yang ada adalah benda prasejarah, arkeologi, numismatik, etnografi, hingga keramik. Penambahan gedung baru untuk ruang pamer dan kegiatan edukasi terus dilakukan. Dengan hadirnya pameran tematik dan dijadikannya museum ini sebagai destinasi wisata edukatif di Jakarta, Museum Nasional menjadi jendela sejarah bagi siapa saja yang datang dan berkunjung.
Patung Dirgantara
Patung Dirgantara atau lebih dikenal dengan Patung Pancoran dirancang oleh Edhi Sunarso pada 1964-1965, patung yang terbuat dari perunggu ini memiliki berat mencapai 11 ton. Meskipun tidak bisa dikunjungi secara langsung, masyarakat dapat menikmati pemandangan patung dari flyover MT. Haryono.
Gedung Chandra Naya
Gedung Chandra Naya terletak di Jalan Gajah Mada No. 188, Jakarta Barat. Merupakan bangunan khas Tionghoa bangunan ini ditopang dengan struktur rangka atap yang disebut Tou-Kung. Candra Naya dibangun Khouw Tian Sek pada Tahun Kelinci, 1807, untuk menyambut kelahiran putranya setahun kemudian. Nama Candra Naya berasal dari lukisan dengan tulisan berkarakter Han yang berarti “pada musim gugur di tahun kelinci”. Pemilik dan penghuni bangunan ini awalnya adalah seorang Mayor, yaitu Khouw Kim An.
Pada 1946, gedung ini dipakai sebagai klinik yang merupakan cikal-bakal Rumah Sakit Sumber Waras. Chandra Naya juga pernah digunakan Sin Ming Hui sebagai gedung SD, SMP, dan SMA. Pada 1965, Sin Ming Hui berganti nama menjadi “Perkoempoelan Sosial Tjandra Naja”. Sejak 1960-an hingga 1970-an, cagar budaya ini menjadi tempat pesta pernikahan kelas atas di Jakarta.
Sarinah
Pusat perbelanjaan modern pertama yang ada di Indonesia adalah Sarinah. Lokasinya terletak di Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat. Di awal tahun 1960-an, pembangunan ini dilakukan dan diprakarsai langsung oleh Presiden Soekarno dengan cara mengambil kredit dari Uni Soviet. Gedung setinggi 15 lantai ini diresmikan pada tanggal 15 Agustus 1966, dan langsung menjadi gedung bertingkat pertama di Indonesia dengan fasilitas eskalator modern. Pembangunannya adalah sebuah visi modernisasi ibu kota juga sebagai simbol kemajuan teknologi. Sarinah hadir untuk menjadi department store rakyat, tempat masyarakat memperoleh barang-barang kebutuhan sehari-hari dengan harga terjangkau dan tempat diperkenalkannya produk dalam negeri.
Nama Sarinah bukanlah nama asing bagi Presiden Soekarno. Sarinah adalah nama pengasuhnya saat beliau masih kecil. Digunakannya nama ini adalah sebuah simbol penghormatan, termasuk juga kepedulian kepada rakyat kecil.
Hari ini, Sarinah telah mengalami beberapa kali renovasi. Ini bertujuan untuk membuat Sarinah tetap relevan dengan perkembangan zaman. Setelah sempat ditutup untuk revitalisasi, tahun 2022 Sarinah kembali dibuka. Sarinah hadir dengan konsep baru sebagai pusat UMKM dan budaya Indonesia. Fungsinya kini bukan sekadar pusat belanja modern, tapi juga sebagai ruang pamer karya anak bangsa, pusat kuliner khas nusantara, dan ruang publik untuk komunitas kreatif. Sarinah adalah paduan nilai sejarah, warisan budaya, dan semangat modernisasi.
Gedung Kesenian Jakarta merupakan salah satu gedung pertunjukkan tertua yang ada di Jakarta. Sampai saat ini, Gedung Kesenian masih aktif digunakan untuk berbagai kegiatan seni dan budaya seperti teater, musik, pameran seni dan konser musik klasik. Didirikan pada tahun 1821 oleh pemerintah kolonial Belanda, awalnya dikenal sebagai “Schouwburg Weltevreden,” yang merupakan istilah Belanda untuk teater atau gedung pertunjukkan.
Taman Mini Indonesia Indah
Pada tahun 1972, Ibu Tien Soeharto mencetuskan gagasan untuk membuat sebuah taman budaya yang juga menghadirkan miniatur Indonesia dalam satu kawasan. Tujuannya jelas, yaitu agar masyarakat bisa mengenal kekayaan budaya Nusantara tanpa harus berkeliling ke seluruh daerah. Setelah dua tahun pembangunannya berlangsung, tepat tanggal 20 April 1975, Taman Mini Indonesia Indah diresmikan. Sejak saat itu, Taman Mini Indonesia Indah, atau dikenal juga dengan singkatan TMII, menjadi salah satu destinasi wisata edukatif dan rekreasi terbesar di Jakarta.
Kawasan ini menjadi tempat untuk acara budaya, peringatan hari besar, dan pertunjukan seni tradisional dengan konsep utama penampilan keberagaman budaya Indonesia melalui anjungan daerah. Terdapat 33 anjungan daerah dari 33 provinsi, yang kini telah melalui proses pemekaran menjadi 38 anjungan dari 38 provinsi yang ada di Indonesia. Selain itu, terdapat pula museum tematik, seperti Museum Indonesia, Museum Transportasi, Museum Pusaka, dan Museum Listrik dan Energi Baru. Ada juga fasilitas rekreasi yang kerap dikunjungi, yaitu teater keong mas, danau dengan miniatur pulau-pulau Indonesia, dan yang paling ramai digunakan adalah kereta gantung.Taman Ismail Marzuki
Di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, ada sebuah pusat kesenian dan kebudayaan bernama Taman Ismail Marzuki yang sudah ada dari tahun 1968. Nama Taman Ismail marzuki dipilih untuk memberikan penghargaan kepada komponis besar Indonesia asal Betawi, Ismail Marzuki. Taman Ismail Marzuki atau biasa dikenal dengan sebutan TIM ini dibangun sebagai ruang bagi masyarakat, khususnya seniman, untuk mengembangkan bakat, mengekspresikan rasa, dan mengapresiasi karya seni dalam berbagai bidang. TIM menjadi wadah untuk seni teater, seni musik, seni tari, dan seni rupa didalami.
Kawasan Ancol
Kawasan ini awalnya adalah lahan rawa dan tambak. Pada tahun 1966, lahan ini direklamasi dan dikembangkan untuk menjadi area rekreasi dan hiburan rakyat, sekaligus menjadi ikon wisata bahari modern. Gagasannya langsung diprakarsai oleh Gubernur DKI Jakarta masa itu, Ali sadikin.
Sedari awal pembangunan, Kawasan Ancol memang digarap untuk menjadi kawasan hiburan terpadu. Di dalam kawasan itu, ada banyak fasilitas seperti taman hiburan, pantai, juga sarana olahraga. Ikon paling ternama adalah Dunia Fantasi, atau biasa dikenal juga dengan nama Dufan. Dufan sendiri dibuka tahun 1985 dengan menghadirkan wahana modern berskala internasional. Selain itu, ada juga SeaWorld, Atlantis Water Adventure, Ocean Dream Samudra yang kerap kali menjadi destinasi wisata kegemaran warga. Kawasan Ancol juga dilengkapi dengan sarana dan budaya. Terdapat Pasar Seni Ancol yang menjadi wadah para seniman untuk berkarya dan menjual hasil karyanya. Pasar Seni Ancol ini juga menjadi tempat bertemunya para pelajar Jakarta yang memiliki KJP untuk belajar langsung kepada para seniman yang ada di sana. Ada pula Jakarta Bird Land yang baru dibuka pada tahun 2022. Di sisi lain, terdapat juga fasilitas akomodasi seperti hotel berbintang, resort, hingga resto tepi laut. Kawasan ini juga kerap kali menjadi lokasi diadakannya acara besar, baik itu yang berskala regional, nasional, maupun internasional, seperti konser musik, festival budaya, hingga perayaan malam tahun baru. Ini membuat kawasan ini menjadi destinasi wisata terpadu.Masjid At Tin
Masjid At Tin berada di dalam kawasan Taman mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta Timur. Presiden Soeharto menggagas pembangunan masjid ini sebagai bentuk penghormatan kepada almarhumah Ibu Tien Soeharto, istri Presiden Soeharto, yang wafat di tahun 1996. Selain seorang istri dari Presiden Soeharto, Ibu Tien sendiri adalah orang pertama yang memberi gagasan utama atas pembuatan Taman Mini Indonesia Indah. Peletakan batu pertama dilakukan pada tahun 1997, dan masjid ini resmi digunakan oleh masyarakat pada tahun 1999. Masjid A Tin difungsikan sebagai pusat ibadah bagi masyarakat sekitar TMII, juga digunakan untuk acara besar keagamaan. Nama At Tin sendiri diambil dari nama salah satu surat dalam Alquran, At Tin.
Masjid Al Azhar
Masjid Al Azhar atau yang ;lebih dikenal dengan nama Masjid Agung Al Azhar didirikan oleh Yayasan Pesantren Islam (YPI) pada tanggal 19 November 1953. Masjid ini dibangun di atas tanah seluas 43.755 m2 yang dikelola oleh yayasan setelah hibah. Pak Sjamsuridjal, walikota pertama Jakarta Raya, menghibahkan tanah tersebut ke Yayasan Pesantren Islam untuk dijadikan masjid. Pembangunan dilakukan pada tahun 1952 dan resmi difungsikan pada tahun 1958 untuk kegiatan ibadah umat Islam sekitar Kebayoran Baru, Blok M.
Awalnya, nama masjid ini adalah Masjid Agung Kebayoran Baru. Namun ketika ada kunjungan Prof. Dr. Mahmoud Syaltout, Rektor Universitas Al Azhar Kairo, Mesir, pada tahun 1960, usulan baru untuk nama masjid ini diberikan. Beliau menyarankan untuk mengganti nama masjid ini menjadi Masjid Al Ahzar.
Masjid Agung Sunda Kelapa
Masjid yang terletak tidak jauh dari Pelabuhan Sunda Kelapa ini memiliki nilai sejarah karena didirikan oleh komunitas muslim lokal. Dibangun pada abad ke 20, masjid ini menjadi pusat keagamaan sekaligus pertemuan sosial masyarakat sekitar, utamanya pedagang dan pelaut.
Berbeda dengan masjid lain yang ada di Jakarta, Masjid Agung Sunda Kelapa tidak semegah dan sebesar lainnya. Tapi adanya masjid ini adalah bukti adanya gerakan komunitas muslim pesisir Jakarta yang hingga saat ini tetap berjalan. Masjid ini memiliki daya tarik tersendiri bagi mereka yang datang berkunjung, melihat bangunan tradisional dan sederhana yang masih terjaga.
Velodrome
Jakarta memiliki arena olahraga khusus balap sepeda yang terletak di daerah Rawamangun, Jakarta Timur. Arena ini dinamai Jakarta International Velodrome. Velodrome ini dibangun tahun 1973 untuk penyelenggaraan Pekan Olahraga Nasional (PON) VIII pada tahun yang sama.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta membangun ulang Velodrome dengan standar internasional menjelang penyelenggaraan Asian Games 2018. Renovasi besar-besaran dilakukan mulai tahun 2016. Hari ini, jakarta International Velodrome hadir dengan standar Union Cycliste Internationale (UCI), federasi balap sepeda dunia.
Dengan lintasan kayu sepanjang 250 meter, juga tribun berkapasitas 3.500 penonton, Jakarta International Velodrome difungsikan sebagai pusat pelatihan nasional cabang olahraga balap sepeda sekaligus arena kompetisi. Tempat ini juga pernah menjadi tuan rumah kejuaraan internasional seperti Kejuaraan Dunia Paracycling, Asian Track Championship (ATC) 2019 dan Kejuaraan Asia Balap Sepeda, Asia Road Race Championship 2025.
Kawasan Blok M
Blok M merupakan kawasan yang sudah lama dikenal sebagai ikon budaya dan gaya hidup anak muda di Jakarta. Pada tahun 1970-an, kawasan ini dikembangkan sebagai pusat perbelanjaan modern dan menargetkan kelas menengah atas. Mall Blok M Plaza dan Pasaraya Grande menjadi dua landmark utama yang menggambarkan kemajuan urbanisasi Jakarta. Hingga tahun 1980 dan 1990-an, Blok M mencapai puncak kejayaannya. Mall Blok M Plaza tidak hanya menawarkan berbagai barang konsumsi, tetapi juga menjadi tempat berkumpulnya masyarakat untuk berbagai acara budaya dan hiburan.
Meski sempat surut, kini kawasan Blok M kembali hidup dan berkembang menjadi hub ekonomi kreatif dan budaya dengan pengembangan ruang terbuka publik baru yang akan mengubah identitas Blok M dan memberikan ruang-ruang bagi komunitas untuk beraktivitas sosial. Terutama, adanya tiga titik transit dan alih moda transportasi, yaitu halte CSW, terminal Blok M, dan stasiun MRT Jakarta.
Hutan Kota GBK
Hutan Kota Gelora Bung Karno (GBK) merupakan ruang terbuka hijau yang menawarkan suasana asri dan nyaman di pusat kota. Lokasinya yang strategis membuat tempat ini mudah dijangkau dengan berbagai moda transportasi umum.
Dengan luas sekitar 4 hektare, Hutan Kota GBK menjadi tempat yang ideal bagi warga Jakarta untuk menikmati udara segar dan pemandangan hijau tanpa harus keluar kota. Terdapat banyak aktivitas menarik yang dapat dilakukan di Hutan Kota GBK seperti piknik, jogging atau berolahraga. Dengan ketenangan yang ditawarkan, Hutan Kota GBK menjadi lokasi yang ideal untuk melakukan aktivitas yang mendukung kesehatan fisik maupun mental.
Hutan Kota GBK dibuka setiap hari Selasa sampai Minggu dengan jam operasional yang fleksibel, mulai dari pagi pada pukul 06.00 hingga sore hari pada pukul 18.00.
Dinas mempunyai tugas menyelenggarakan urusan pemerintahan bidang pariwisata pada sub urusan destinasi pariwisata, pemasaran pariwisata, pengembangan ekonomi kreatif melalui pemanfaatan dan perlindungan Hak Kekayaan Intelektual, pengembangan sumber daya pariwisata dan ekonomi kreatif.