WELTEVREDEN

Kamis, 31 Oktober 2019 00:00 WIB

Kota baru, pusat pemerintahan Gubernur Jenderal Daendels, juga tempat kediaman orang-orang Eropa. Kota ini terletak di sekitar Lapangan Banteng. Di daerah ini juga Daendels mendirikan istananya. Pada awalnya daerah di sekitar Jakarta Pusat yang pertama kali dimiliki oleh Anthony Paviljoen masih berupa hutan rawa berpadang rumput, sehingga dinamakan juga Paviljoenved. Padang rumput milik tuan Paviljoen (sekarang Lapangan Banteng) tersebut digunakan untuk memelihara ternak lembu dan kerbau menjadi semakin luas. Sempat disewakan kepada orang Cina untuk ditanami tebu, kebun sayuran, dan lahan persawahan. Kemudian dibeli oleh Comelis Chastelein (tuan tanah). Sejak itu namanya diganti menjadi Weltevreden. Ia kemudian membangun rumah dengan dua buah kincir angin di tanah ini (1697).

Nama Weltevreden diberikan oleh Cornelis Chastelein untuk menamakan daerah tempat ia mengembangkan perkebunan kopi di Weltevreden atau 'Benar-benar puas'. Banyak pejabat pemerintah dan karyawan perusahaan, bahkan juga orang Cina kaya lebih suka tinggal di Weltevreden. Tak lama kemudian di Weltevreden muncul pemukiman-pemukiman baru, seperti Tanah Abang, Gondongdia, Meester Coruelis, dan Menteng. Nama ini kemudian diberikan kepada hampir seluruh daerah Jakarta-Pusat sekarang sampai masa pendudukan Jepang (1942). Berbeda keadaannya dengan wilayah kampung-kampung di Distrik Batavia, yang kebanyakan dihuni oleh penduduk bumiputra dan penduduk miskin lainnya. Di Weltevreden daerah pemukirnan bumiputra dan penduduk miskin lainnya terletak jauh di luar jalan-jalan dan keadaanya kurang memenuhi syarat kesehatan.

Pada tahun 1733 tuan-tanah Justinus Vinck membeli tanah luas Weltevreden dengan harga 39.000 ringgit. Kemudian membuka dua pasar besar, yakni Pasar Tanah Abang dan Pasar Senen. Pada tahun 1735 ia menghubungkan kedua pasar itu dengan sebuah jalan, yang sekarang disebut Jl. Prapatan dan Jl. Kebon Sirih, jalur penghubung timur-barat pertama di Jakarta Pusat. Menjelang pergantian abad ke-18 terjadilah perpindahan besar-besaran ke arah daerah yang lebih tinggi dan lebih jauh letaknya dari rawa sehingga merupakan daerah yang lebih sehat yakni, Weltevreden.

Pada tahun 1749 dibeli oleh Gubemur Jenderal Jacob Mossel seharga 28.000 ringgit yang kemudian membangun landhuis Weltevreden (kompleks RSPAD di Jalan Abdurachman Saleh). Sepeninggal Mossel, Weltevreden jatuh ke tangan kerabatnya dan pada tahun 1767 dibeli oleh van der Parra. Pada tahun 1797 wilayah Weltevreden dan sebidang tanah di sebelah selatannya, yaitu termasuk lingkungan Kwitang, dibeli oleh van Overstraten dengan harga yang lebih tinggi dari pembelian van der Parra. Kenaikan harga tanah itu barangkali ada hubungannya dengan kenaikan hasil pajak yang diadakan setiap hari pasar, yaitu pada hari Senin. Pada masa pemerintahan Daendels, Weltevreden dikembangkan menjadi pusat pemerintahan menggantikan kota lama di Kasteel Batavia. Di bawah pemilik selanjutnya, Weltevreden mulai menjadi pusat administrasi tidak hanya untuk Batavia, melainkan untuk seluruh jaringan kantor dagang dan koloni Belanda, yang terbentang antara Deshima (Jepang) dan Capetown (Afrika Selatan).