JAYABAYA, UNIVERSITAS

Minggu, 01 Januari 2017 09:32 WIB

Didirikan pada bulan Oktober 1958 oleh Prof. DR. H. Moeslim Taher, SH. Saat pertama mendirikan Universitas Jayabaya (Ubaya), berusia 24 tahun. Prakarsa ini agaknya merupakan perkembangan lebih lanjut dari pengabdiannya di bidang pendidikan, dengan karir yang dimulainya sejak menjadi pengasuh SD, Pimpinan SMP dan kemudian Pimpinan SMA. Pengalaman dalam pengabdian di bidang pendidikan sektor swasta inilah kemudian yang mendorongnya mendirikan Ubaya. Thaher merasa ikut bertanggung jawab untuk memberi jawaban terhadap tantangan yang dihadapi bangsa Indonesia, berupa masalah ketinggalan dan keterbelakangan di berbagai bidang, sebagai akibat penjajahan Belanda selama kurang lebih 3,5 abad, disusul dengan pendudukan fasisme Jepang selama kurang lebih 3,5 tahun. Dapat dimengerti, ketika berdiri, Indonesia baru berusia 13 tahun dan jumlah perguruan tinggi masih sedikit.

Pada awal berdiri, Ubaya mulai dengan mengelola dua buah fakultas, yaitu Fakultas Hukum dan Fakultas Ekonomi dengan jumlah mahasiswa 11 orang. Sebagai Rektor pertama diangkat Prof. Mr. AA Hakim sekaligus merangkap sebagai Dekan Fakultas Hukum. Kemudian tahun 1961/1962, Rektor Ubaya diserahterimakan Prof. Dr. H. Moeslim Taher, SH. sebagai Rektor kedua menjabat dari tahun 1962-1988. Ia diganti Prof. Dr. H. Tb. Achjani Antakusuma sebagai Pejabat Rektor tahun 1988, secara resmi menjabat Rektor antara tahun 1989-1996. Kemudian diganti Ir. Syamsu Anwar, MS dari tahun 1996-2000. Sejak tahun 2000 diganti Prof. Dr. HR Sri Soemantri Martosoewignyo, SH.

Pada saat didirikan, kegiatan pendidikan dan administrasi dilakukan dengan menumpang tempat pada Sekolah Swasta Jl. Salemba Raya 12 Jakarta Pusat. Ruang kelas yang pada pagi dan siang hari dipergunakan oleh SD, SLP dan SLTA, karena itu kegiatan perkuliahan baru berlangsung pada sore dan malam hari, dari jam 17.00-21.00 WIB. Aliran listrik pada saat itu belum menjangkau bangunan sekolah tersebut, sehingga satu-satunya alat penerangan yang digunakan adalah lilin. Kemudian, keadaan "meningkat" dengan menggunakan penerangan lampu petromak. Keadaan darurat ini berlangsung selama empat tahun.