Jakarta.go.id
  •  •  English
  •  •  Login
  •  •  Signup
  • Balai Warga 2921

    Hamdi:

    Lapor !!! Kondisi besi penyanggah saluran air di fly over Cawang, Jakarta Timur sangat mengkuatirkan...

    Eddy:

    Dear Pemprov Jakarta. Kami telah memproduksi jus untuk ternak di Gunung Sitoli, Nias dengan bahan da...

    Hary:

    Meminta Lahan Parkir Park And Ride di stasiun dengan tarif yang wajar bukan dengan hitungan perjam k...

    Ali:

    Terima Kasih untuk informasi yang diberikan, saya sebagai Warga Jelambar melihat ada proyek pembangu...

    Lady:

    meresahkan masyarakat, saya harapkan bisa menuangkannya dengan segera disini. Saya harapkan perhatia...

  

Cerita Rakyat Betawi

 

Merak dan Kutilang


Category: Cerita Rakyat Betawi , Posted: Jan 01, 1990

Jakarta.go.id - Pada zaman dahulu, merak tak hanya memiliki bulu yang indah, ia juga memiliki suara yang amat merdu. Karenanya ia sangat sombong. Kemana pun ia pergi, tiada henti-hentinya ia memamerkan kecantikan diri dan suaranya. Berbeda dengan merak, kutilang mempunyai suara yang amat buruk, tubuhnya pun kecil. Karenanya kutilang sering menjadi bahan olok-olok. Namun hal itu tak merisaukannya, kutilang tetap saja riang gembira dan suka menolong sesama. Pada suatu hari, kutilang mendapati bunga-bunga di hutan tertunduk layu. "Hai kawan-kawan", tegur kutilang, "Apa yang terjadi, mengapa kalian begitu sedih?" Tak sekuntum bunga pun yang menyahut, semua diam tertunduk. Kutilang menghampiri mereka satu persatu. Namun bunga-bunga itu hanya menggeleng lemah. Risau hati kutilang dibuatnya.

 

Nyai Dasima


Category: Cerita Rakyat Betawi , Posted: Jan 01, 1990

Jakarta.go.id - Perempuan itu cantik sekali. Karena kecantikannya, tuan Edward terpikat dan berupaya dengan berbagai cara untuk mendapatkannya. Ia adalah Dasima wanita yang berasal dari Kahuripan. Dasima wanita cantik yang enggan hidup melarat. Karenanya Dasima dengan senang hati menjadikan dirinya sebagai wanita piaraan tuan Edward. Hasil hubungan mereka membuahkan seorang anak wanita bernama Nancy. Meskipun telah beranak, Dasima tetap cantik seperti masa perawannya. ltulah yang mendorong tuan Edward laki-Iaki asal Inggris tak segan-segan memberikan sebuah rumah serta para pembantu yang siap melayani keperluan Dasima. Semula Dasima dan tuan Edward menetap di Curug Tangerang, kemudian pindah ke Pejambon. Setiap lelaki dewasa yang lewat didepan rumahnya, manakala melihat Nyai Dasima, maka menitiklah air liur mereka. Bagi mereka yang telah beristeri, tumbuh sesaat penyesalan, mengapa tidak beristerikan wanita itu saja, pastilah hidup bahagia cahaya kecantikan yang terpancar dari bola mata dan liuk lekuk tubuhnya.

 

Kramat Tunggak


Category: Cerita Rakyat Betawi , Posted: Jan 01, 1990

Jakarta.go.id - Alkisah, ada dua orang bersaudara bernama Aria Wiratanudatar dan Aria Prabangsa. Dua bersaudara ini telah menjadi yatim piatu sejak kecill. Orang tuanya tidak mewariskan harta kepada mereka. yang masih diingat hanya pesan agar mereka berdua hams tabah, jujur dan berusaha keras dalam menjalani hidup. Sejak kecil Wiratanudatar dan Prabangsa mencari kayu di hutan untuk dijual. Pekerjaan itu dilakukan setiap hari. "Adikku Aria Prabangsa, apa cita-citamu menghadapi masa datang?" tanya Aria Wiratanudatar kepada adiknya. "Aku ingin menjadi orang yang berguna bagi orang banyak". jawab adiknya. "Akupun begitu. "kata Aria Wiratanudatar sambil menarik nafas. Ketika remaja, mereka berpikir bagaimana caranya mengubah nasib. Mereka sering kali mengkhayal menjadi raja. "Kakak, hidup kita miskin. Bagaimana kita bisa menjadi orang yang berguna ?" kata Aria Prabangsa sambil mengikat kayu bakar.

 

Pancuran dan Pangeran


Category: Cerita Rakyat Betawi , Posted: Jan 01, 1990

Jakarta.go.id - Pada masa yang silam hiduplah seorang raja yang sangat adil dan bijaksana. Ia memerintah sebuah kerajaan yang terletak antara Jakarta dan Bogor. Kelak keturunan raja memerintah pula dengan amat bijaksana dan terpuji, sehingga berabad-abad lamanya penduduk hidup dengan aman dan sejahtera. Raja mempunyai tiga orang anak laki-laki dari ibu yang berlainan, karena raja mempunyai dua orang permaisuri. Setelah tua, raja bingung, siapa diantara ketiga anaknya yang akan mewarisi tahta kerajaan. Jaya putera raja dari permaisuri pertama, Suta dan Gerinda putera dari permaisuri kedua. Jaya tampan parasnya, dan tegap tubuhnya. Lagi sopan dan bijaksana perilakunya. Rambut bergelombang, dan dati sepasang mata yang indah terpancar sorot yang tajam. Hidungnya mancung, bibirnya tipis dan bila tersenyum tampak sederet gigi yang putih bersih. Dahi lebar pertanda cerdas, kulit sawn matang namun bersih dan halus. Ia penyabar, tapi tegas. Suta dan Gerinda tak kurang pula ketampananan dan kecerdasannya.

 

Cik Siti


Category: Cerita Rakyat Betawi , Posted: Jan 01, 1990

Jakarta.go.id - Siti lagi menyapu lantai sambil bemyanyi tiba-tiba tukang kelontong datang lagi. TUKANG KELONTONG: (Merayu) Eee..... Siti! Rajin kali pagi-pagi nyapu suda! Biar bersih ya nyapunye, supaya dapet suami mukanya licin kaya muka saya... SITI         : (Kesal) Heh, ini tukang kelontong, apaapaan balik kemari lagi? AWANG    : Mao sodorin ini nih.... lawon, bagus-bagus, deh. SITI        : Ogah ah! Hargenya mahal. Buat ape? Tadi Kan enggak dikasih. TUKANG KELONTONG: Ooo, Siti! Sekarang tida usah bayar. Saya mau kasih gratis. Hadiah buat Siti. SITI         : (Heran) Hadiah ? Persenan buat apaan? Tumben ! jangan-jangan ade maunye nih ...

 

Ariah Si Manis Ancol


Category: Cerita Rakyat Betawi , Posted: Jan 01, 1990

Jakarta.go.id - Ariah, atau Arie, anak kedua Mak Emper. Ariah mempunyai seorang kakak perempuan. Tatkala kakak beradik ini masih kecil, ayahnya meninggal. Hancurlah kehidupan tiga hamba Allah dari Kampung Sawah, Kramat Sentiong. Ini terjadi sekitar tahun 1860. Menjadi adat orang Betawi jaman dulu, siapa yang kaya menolong yang miskin. Seorang saudagar padi di kampung Kramat yang mempunyai sawah luas mengajak Mak Emper dan kedua anak perempuannya tinggal di emperan rumahnya. Emperan ialah bangunan rumah kecil yang berdiri menempel pada bangunan rumah besar. Mak Emper dan kakak Ariah membantu menumbuk padi milik saudagar itu. Ariah sehari-hari meneari kayu bakar, sayuran dan telur ayam hutan di hutan Ancol. Tahun demi tahun berlalu, kehidupan Mak Emper datar saja. Tidak kelaparan, tetapi sangat jauh untuk dikatakan berada.

 

Nenek Jenab dengan Buaya Buntung


Category: Cerita Rakyat Betawi , Posted: Jan 01, 1990

Jakarta.go.id - Alkisah menurut cerita pada masa dahulu, hiduplah seorang gadis yang bernama Jenab. Ia berumur 20 tahun. Parasnya amat cantik. Ia tinggal bersama ibunya yang sudah tua di sebuah rumah yang besar dan indah. Rumah itu warisan ayahnya. Di masa hidupnya, ayah Jenab kaya raya dan terpandang di kampungnya. Kedua orang tuanya amat menyayangi Jenab sebagai anak semata wayang. Setelah ayahnya meninggal karena sakit, Jenab diurus ibunya dengan baik, sehingga tumbuh dewasa sebagai gadis cantik. Kecantikannya itu terkenal di seluruh kampung di Betawi. Boleh dikatakan tak ada kekurangannya kecantikan Jenab itu, sehingga seluruh pemuda tergila-gila padanya. Sayang di balik kecantikannya itu Jenab mempunyai sifat tercela. Ia angkuh. Karena itu banyak pemuda yang akhirnya kecewa terhadap Jenab. Meskipun demikian, ada juga pemuda yang tertarik kepada Jenab. Hal itu menyebabkan keangkuhan Jenab menjadi-jadi. Sifatnya dari hari ke hari menjadi makin kasar. Melihat tingkah laku Jenab yang kasar, ibunya bersedih hati.

 

Lenong


Category: Cerita Rakyat Betawi , Posted: Jan 01, 1990

Jakarta.go.id - "Hoooi lenong ! Kapan mau maen? Mate gue pan ude lapar nih, perut gue ude ngantuk!" teriak para penonton saking keselnya menunggu. Orang berdempet-dempetan mengerubungi panggung lenong. Laki perempuan campur aduk dan cecere-cecere penuhnya di sebelah depan. Barulah ketika tepat pukul 09.17 WIB, mendadak gamelan lenong berbunyi santer banget : "Mong, duk-duk mong, duk-duk mong, duk mong, mong, duk mong!", sehingga bocah-bocah pade kegirangan menjerit-jerit. "Huree... maen, leong maen!" Dan seorang kakek di sudut sembari melirik arlojinya, berkata : "mentang-mentang orang Indunesia, masa Ie telat sampe tujuh belas menit ....!" Sementara Bang Pa'ul yang menanggap Ienong ini, repot menyambut tetamu-tetamu yang membanjir kondangan. "Eh, gile Bang Pa'ul", kate seorang tamu sembari bersalaman, "Jempol bener eh, maleman bekerjenye nggak ujan barang seketeI!" Dan Bang Pa'ul menjawab sambil nyengir, "Keruan aje, penoIaknye dong manjur.....! Kodok ane kurung di pendaringan !"

 

Bhineka Tunggal Ika


Category: Cerita Rakyat Betawi , Posted: Jan 01, 1990

Jakarta.go.id - "Ampir gue kemplang tu orang!" kata Bang Hamdan marah-marah, "5embarangan aje ngatain bendera orang. Biar jelek-jelek juga bendera gue tuh, riwayatnya jempolan. Huh, die nggak tau sih! Gue bole rebut dari ujung hotel De-Sen tuh dulu waktu zaman siap-siapan...." "Ude-ude deh!" sahut bininya, "Nggak same tenggak tuh kopi, pan katanye lu mau ke Gambir!". Begitulah di tanggal17 Agustus itu setelah berdandan rapi dan tak lupa pake lencana merah putih di dadanya, berangkatlah Bang Hamdan ke depan istana. Bininya ogah ikut, lantaran ia tak suka berdesak-desakan, gampang pusing, gampang mabok katanya. "Wah, ude rame!" bisik Bang Hamdan setibanya di depan Istana. Tapi die nyelak terus, maju. Dia mau lihat Bung Kamo dari dekat. "Eh-eh," katanya, "dasar orang gede, tetap angker aje keliatannya!" Tapi heran juga dia, waktu Bung Kamo lagi pidato berapi-api banyak orang asyik isi perut masing-masing. "Bukannya dia dengerin omongan Bapak kita, eeh pade enak-enakan nongkrong gegares ....."katanya geram, "Minum es lah, ngelebok ketoprak lah!" tambah kesel lagi ketika dilihatnya banyak lelaki pada cengar-cengir melirik perempuan-perempuan,

 

Si Pitung


Category: Cerita Rakyat Betawi , Posted: Jan 01, 1990

Jakarta.go.id - Memasuki abad ke-20 tanah Betawi kokoh dalam cengkraman penjajah Belanda. Hampir 3 abad penjajah menikmati kehidupan diatas keringat dan darah serta air mata penduduk pribumi Betawi. Penjajah dengan segala daya dan upaya memeras keringat penduduk melalui tuan tanah, para mandor, para centeng, dan bukan saja keringat bahkan tulang sumsum penduduk Betawi akan diperas jika memberikan keuntungan kepada mereka. Pak Piun memandang langit mendung, sementara isterinya bu Pinah duduk di bale-bale depan rumah sambil memegang perut yang kian membesar. Beberapa hari lagi isterinya akan melahirkan anak yang ke empat. Tiga anaknya duduk di dekat ibunya, sambi! bertanya, "Mengapa padi yang baru dipanen dirampas centeng Babah" bu Pinah mengusap kepala anaknya sambil berkata lirih, " Biarin tong, lagian padi kite masih ada."Pak Piun tetap memandang langit yang mendung, berharap kepada yang maha kuasa agar isterinya melahirkan dengan selamat.

 

<1234>

© 1995 - 2014 Dinas Komunikasi, Informatika dan Kehumasan Pemprov DKI Jakarta
Jl. Medan Merdeka Selatan 8-9 Blok F Lt 1 Telp: (+6221)3822255 Fax: (+6221)3822255 email: dki@jakarta.go.id | site map