Jakarta.go.id
  •  •  English
  •  •  Login
  •  •  Signup
  • Balai Warga 2917

    Lady:

    meresahkan masyarakat, saya harapkan bisa menuangkannya dengan segera disini. Saya harapkan perhatia...

    Lady:

    situasi jalanan yang tidak tertib atau MEMBAHAYAKAN pengguna jalan seperti angkutan umum yang ugal2a...

    Lady:

    tidak bisa atau tidak mau membesarkan dengan kerja keras malah ikut menjerumuskan anaknya. Selain it...

    Lady:

    yang lebih muda dibanding saya. Saya sudah menolak secara halus tapi dia masih kokoh menyodorkan top...

    Lady:

    pemalas dan bisa melakukan tindakan kekerasan. Setahun lalu saya pernah dimintai uang receh oleh ana...

  

Cerita Rakyat Betawi

 

Hikayat Setu Babakan


Category: Cerita Rakyat Betawi , Posted: Jan 01, 1990

Jakarta.go.id - Tersebutlah sepasang remaja yang saling berkasih-kasih. Percintaan mereka tak disetujui oleh orang tua si gadis. Sebab si pemuda amatlah miskin. Suatu ketika, berkatalah pemuda itu kepada kekasihnya, "Dik, orang tua adik jelas-jelas tak menyetujui hubungan kita", Pemuda itu menjelaskan, "Mungkin karena abang orang miskin. Karena itu abang hendak pergi merantau. Siapa tahu nasib abang membaik. Dan jika kita memang berjodoh, kelak pasti kita akan dapat bersama lagi". "Jika memang itu keputusan abang, pergilah". sahut gadis itu dengan berlinang air mata. "Tetapi jika abang sudah berhasil di rantau, lekaslah pulang". Dengan diiringi linangan air mata, pergilah pemuda itu.

 

Juragan Kambing


Category: Cerita Rakyat Betawi , Posted: Jan 01, 1990

Jakarta.go.id - Pada zaman dahulu tersebutlah tujuh orang gadis. Mereka adalah puteri-puteri seorang hartawan besar. Namun kini ayah bunda mereka telah tiada. Tanpa adanya ayah dan ibu, ketujuh gadis itu sungguh-sungguh tiada terurus. Kerja mereka setiap hari hanya bersenang-senang, berpesiar bersama pemuda-pemuda kaya. Hanya si bungsu yang bernama Siti Zainab Ying tak Pernah turut. Setiap hari kerja Siti Zaenab bermain-main sendiri. Keenam kakaknya tak pernah peduli padanya. Maka keadaan Siti zainab sungguh mengibakan hati. Sesungguhnya kakaknya yang keenam yang bernama Siti Zubaidah, ada juga kasihnya kepada adiknya. Namun ia tak berani terang-terangan. Sebab ia takut kepada kakak sulungnya yang bernama siti zulaikha. Si Sulung ini amatlah bengis dan bencinya kepada adik bungsunya.

 

Jaka Pertaka


Category: Cerita Rakyat Betawi , Posted: Jan 01, 1990

Jakarta.go.id - Syahdan tersebutlah seorang penebang pohon, suatu ketika penebang pohon itu tengah mencari kayu di hutan. Tiba-tiba datang seekor burung garuda. Melihat garuda itu, penebang pohon itu mencoba menghindar Tetapi malang garuda telih melihatnya. Maka burung raksasa itu pun menyerang. Sekuat daya penebang pohon mencoba melawan. Dengan kapal di tangan ia menangkis tiap serangan. Tetapi garuda lebih tangkas, ia berhasil melukai mata penebang pohon itu. Dengan mata buta di tengah hutan, penebang pohon itu tak berdaya. Akhirnya ia pun duduk bertafakur. Ia memohon pertolongan para dewa. Sementara itu, dikhayangan, Dewa Umar Maya merasa gelisah Tapa penebang pohon itu telah menggoncang kahyangan. Dewi Umar Maya segera memanggil Jaka Slaka puteranya.

 

Kelong Wewe


Category: Cerita Rakyat Betawi , Posted: Jan 01, 1990

Jakarta.go.id - "He, mau kemana kau?" ujar nenek pada cucunya. "Malam telah gelap,jangan kau berkeliaran di luar". "Tapi nek, malam ini kan terang bulan", sanggah cucunya. "Pergilah sana kalau kau ingin diculik kelong wewe". "Ha, apa itu nek?" cucu mendekat, tak jadi keluar. "Kelong wewe itu hantu perempuan yang menakutkan", sahut nenek. "Ia senang menculik anak yang berkeliaran malam-malam". "Benarkah?" cucu nenek itu makin tertarik. "Seperti apa rupa hantu itu nek?" "Rupanya sangat seram", Nenek menuturkan, "Rambutnya panjang dan gimbal. Kedua matanya membelalak seperti hendak keluar. Lidahnya menjulur panjang, demikian pula payudaranya, menggantung panjang hingga ke lutut".

 

Koleangkak


Category: Cerita Rakyat Betawi , Posted: Jan 01, 1990

Jakarta.go.id - Di sebuah desa tinggallah seorang janda rniskin. Ia rnerniliki seorang anak perernpuan. Anak itu telah bertunangan dengan seorang anak petani. Sehari-hari janda itu bekerja rnenumbuk padi milik orang lain. Kerja yang berat, upahnya tak seberapa. Karena itu ia dan anaknya sering kekurangan makan. Karena kelelahan dan kurangnya makan, akhimya janda itu jatuh sakit. Dalarn sakitnya ia ingin rnakan pisang, sayang uang tak ada. Para tetangga pun tiada yang sudi mernberi walau hanya sebuah. Malamnya janda itu meninggal. Menangislah anaknya. Ia rnencoba meminta bantuan para tetangga, namun tak seorang pun yang perduli.. Bingunglah anaknya, hendak rneminta bantuan calon mertuanya ia tak berani, sebab rumahnya jauh, sekira sehari perjalanan.

 

Kunyit Emas


Category: Cerita Rakyat Betawi , Posted: Jan 01, 1990

Jakarta.go.id - Si Badu bam saja kembali dari pasar, ia membawa sekantung kecil beras. Hanya itu yang dapat ia beli dati penjualan kayu bakamya. Lelah dan dahaga ia rasakan. Di rumah Si Badu tak ada air setitik pun. Si Badu harus pergi ke mata air untuk mengambil air. Namun kelelahannya tak tertahankan lagi. Maka pergilah Si Badu ke rumah tetangganya. "Tuan", ujar Si Badu pada tetangganya yang kaya itu, "Berilah hamba setahang air, hamba terlalu lelah untuk pergi ke mata air" . "Seenakmu saja", sahut tetangga itu, "Di musim kemarau ini air sangat berharga tahu?" "Jika demikian berilah hamba air barang segelas, hamba sangat dahaga". "Berapa akan kau bayar airku itu?"

 

Mirah Gadis Marunda


Category: Cerita Rakyat Betawi , Posted: Jan 01, 1990

Jakarta.go.id - Alkisah, di jaman Belanda keadaan Marunda teramat kacaunya.Daerah pesisir Betawi ini sering didatangi perampok baik dari laut maupun dari darat. Perampok datang merampas harta benda, memperkosa perempuan, lalu pergi begitu saja setelah merasa puas. Jika ada yang berani melawan dibunuhnya. Selain itu, Marunda juga sering didatangi jagoan dari tempat lain. Jagoan ini menakut-nakuti penduduk, lalu memeras dan merampas hartanya.
Pihak penjajah Belanda kurang memperhatikan keamanan Marunda. Bahkan kaki tangan Belanda ikut-ikutan memeras penduduk. Kaki tangan Belanda itu tuan-tuan tanah, demang, dan opas yang sering mendatangi penduduk untuk menarik pajak yang memberatkan rakyat. Syahdan, tersebutlah Bang Bodong seorang jago yang tinggal di Marunda. Bang Bodong pemberani dan penolong rakyat. Ia tak pernah sombong, meskipun tidak sedikit lawan yang dibuatnya pecundang.

 

Kuntilanak


Category: Cerita Rakyat Betawi , Posted: Jan 01, 1990

Jakarta.go.id - Malam telah larut, Juned berjalan menyusuri tepian sungai. Walau suasana gelap dan sunyi, laki-laki itu tak gentar. Juned memang jagoan yang tak kenal takut. Sementara itu ditepi kampung, dua laki-laki tengah bercakap-cakap. Keduanya duduk di bangku sebuah warung yang telah tutup. Percakapan keduanya arnatlah mengasyikan. Sedang bercakap-cakap itu, tiba-tiba suasana terasa aneh. Tanpa sadar kedua laki-laki itu terdiam. Dalam hati, keduanya bertanya-tanya, ada apa gerangan. Dalam kesenyapan yang mencekam itu, tiba-tiba terdengar teriakan. Kedua laki-laki yang tengah duduk-duduk itu tersentak. Lekas keduanya berdiri. Dari kegelapan muncullah Juned, ia berlari pontang-panting, jatuh bangun. Serentak kedua laki-laki yang tengah duduk itu menghampiri. Juned terjatuh di depan kedua laki-laki itu. Wajahnya sepucat bulan, rnatanya rnernbelalak liar. Ia menunjuk-nunjuk.

 

Disunat Nabi


Category: Cerita Rakyat Betawi , Posted: Jan 01, 1990

Jakarta.go.id - Iyo sedang menyetrika di teras belakang rumahnya. Di hadapannya tergantung buaian bayinya. Bayi yang baru beberapa bulan usianya itu tidur dengan lelap. Sedang asyik menyetrika, tiba-tiba terdengar tangisan bayinya. Pikir Iyo, tentulah bayinya mengompol. Segera ia menghampiri buaian. Namun alangkah terperanjatnya wanita itu. Pada popok bayinya terlihat darah segar. Dengan panik Iyo melarikan anaknya ke rumah Opa Latu. Si Sigap Opa Latu bertindak. Saat itu membuka popok bayi itu ia bertanya, "Siapa yang nyunat anak ini?" Terperanjat Iyo mendengarnya. Siapa yang menyunat anaknya. Sebelum diletakkan dalam buaian anak itu biasa saja. Selama ia tidur, Iyo tak pernah melepaskan pandangannya dari buaian. Tak seorang pun mendekati buaian itu.

 

Monyet yang Malas


Category: Cerita Rakyat Betawi , Posted: Jan 01, 1990

Jakarta.go.id - Hari masih pagi, matahari baru mengintip di balik perbukitan. Namun demikian si tupai telah sibuk, ia berjalan kian kemari mencari buah kenari. Kenari-kenari itu diangkutinya ke sarangnya, sebuah lubang di pokok pohon tua yang besar. Kesibukan si tupai rupanya telah mengganggu si monyet. Dengan terkantuk-kantuk ia menggeliat dari dahan tempat ia tidur. Setelah melihat ke kiri dan ke kanan, tampak oleh si monyet kesibukan si tupai. "Hmm, dia lagi", Gerutu monyet kesal, "Tak dapatkah ia tenang barang sebentar?" Sesaat kemudian monyet melorot dati dahannya. Mujur, sebutir buah mempelam yang ranum ditemukannya tergeletak di tanah. Monyet pun memungut buah itu. Sambil berjemur di bawah matahari pagi,monyetpun mengunyah mempelamnya. Sesekali ia menggosok-gosok matanya. Monyet itu masih mengantuk, namun tak mungkin ia tidur lagi, sebab kesibukan si tupai membuatnya merasa terganggu.

 

<1234>

© 1995 - 2014 Dinas Komunikasi, Informatika dan Kehumasan Pemprov DKI Jakarta
Jl. Medan Merdeka Selatan 8-9 Blok F Lt 1 Telp: (+6221)3822255 Fax: (+6221)3822255 email: dki@jakarta.go.id | site map