Jakarta.go.id
  •  •  English
  •  •  Login
  •  •  Signup
  • Balai Warga 2953

    Nadia:

    Yth. Admin Balai Warga, Sehubungan dengan pertanyaan Ibu Anna, mohon info terkait dengan statistik ...

    anna:

    selamat sore pak... adakah peraturan mengenai perlindungan anak di jakarta?.. jika iya.. bisakah pe...

    Nala Jati:

    Hai jakarta.go.id, untuk wilayah RW 3, Kelurahan Petogogan, Kecamatan Kebayoran Baru, Jakarta Selat...

    Handi:

    Mohon agar dokumen Pedoman Lembaga Musyawarah Kelurahan disediakan dalam format yang lebih baik. Saa...

    Lie:

    Pertanyaan lain Pak : 1. Apakah semua warga DKI berhak mendapatkan BPJS tanpa kecuali ? 2. Dimana ...

  

Cerita Rakyat Betawi

 

Ayam dan Bebek


Category: Cerita Rakyat Betawi , Posted: Jan 01, 2008

Jakarta.go.id - Dahulu kala ada seekor ayam dan seekor bebek bersama. Keduanya bersahabat akrab. Kemana pun ayam pergi, bebek selalu menyertainya, kecuali apabila ayam sedang berenang. Waktu itu memang bebek tak dapat berenang, ayamlah yang cakap berenang.

 

Si Amat


Category: Cerita Rakyat Betawi , Posted: Jan 01, 1990

Jakarta.go.id - Si Amat seorang yang malas luar biasa. Setiap hari kerjanya hanya mengilik-ngilik telinga dengan bulu ayam. Karenanya ia tak dihiraukan oleh orang-orang. Pada suatu hari seorang tetangganya mengadakan selamatan. Semua orang di kampungnya diundang. Hanya Si Amat saja yang tidak. Bahkan tak ada seorang pun yang ingat untuk mengajaknya. Saat selamatan berlangsung, terdengarlah suara puji-pujian berzanzi dari rumah itu. Si Amat mendengarkan dari samping rumah itu. Terbayanng di benaknya, berbagai juadah panganan yang disuguhkan orang selamatan. Tak kuasa Si Amat menahan titik air liurnya. Karena sangat inginnya menikmati panganan berkat selamatan, Si Amat menjadi kesal. Pikirnya, sungguh tak adil, semua orang diundang sedang dirinya tidak. Makin keras berzanzi berkumandang, makin gusar hati Si Amat.

 

Si Bener


Category: Cerita Rakyat Betawi , Posted: Jan 01, 1990

Jakarta.go.id - Tersebutlah seorang laki-iaki, si Bener namanya. Tiada lain kerja si Bener hanyalah mengail. Setiap hari ia mengail dilaut. Mata kailnya jarum sedang, umpannya bekatul. Karena itu ia tak pernah berhasil mendapatkan ikan. Malah ikan-ikan di laut menjadi kian banyak, sebab setiap hari memakan bekatul umpan kail Si Bener. Raja ikan di dasar lautan mengetahui hal itu. Maka sang raja mengumpulkan seluruh rakyatnya. Kepada para ikan raja itu berkata,"Hai rakyatku, kita harus menyayangi Si Bener, sebab setiap hari kita diberinya makan". "Akur-akuur". Seru ikan-ikan itu senang. "Hai raja" , ujar cucu! "Umurku sudah amat tua. Tak guna lagi hidup. Aku ingin membuktikan nyawaku kepada Si Bener". "Na baguslah jika demikian", sahut Raja ikan, "Ini telanlah"' Raja ikan membeiikan intan sebesar kepala.

 

Bangau Tua yang Licik


Category: Cerita Rakyat Betawi , Posted: Jan 01, 1990

Jakarta.go.id - Di atas dahan pohon yang rindang, si tua bangau tong-tong memperhatikan air telaga di hadapannya. Ikan-ikan besar, kecil tampak berenang-renang dengan elok-eloknya. Bangau tong-tong hanya mampu menelan liurnya. Perutnya keroncongan minta diisi, namun ia terlalu tua untuk memburu ikan-ikan di telaga yang jernih itu. Tiba-tiba paruh si tua bangau mendongak ke langit. Ia baru saja mendapat satu akal bulus. Suatu cara untuk mendapatkan ikan tanpa harus mengejar-ngejar mereka. "Hai kawan-kawan", "Si Bangau berseru-seru, "kemarau segera akan tiba." "Heh, apa pedulimu," ujar si Cabus. "Semua juga tahu kemarau pasti datang", sahut Si Ketam. "Sudah, tak perlu hiraukan si tua pandir itu" si Tele berkata ketus.

 

Bangau dan Kura-kura


Category: Cerita Rakyat Betawi , Posted: Jan 01, 1990

Jakarta.go.id - "Ck ck ck, sungguh menakjubkan", decak Kura-kura, "Bukan main indahnya". "Tetapi kek, "aku masih melihat yang lebih hebat lagi", sahut si Bangau. "Jadi masih ada yang lebih indah lagl?"ahan alam ini", tutur Si Bangau. Kakek kura-kura menunduk sedih. Semua itu h "Tentu saja kek, tak terhitung jumlahnya keindanya dapat didengarnya saja dari cerita si bangau. Ia sendiri tak pemah melihatnya. "Mengapa kakek sedih", tanya si Bangau, 'Adakah ucapanku mengganggu perasaan kakek?" Kura-kura tua itu menggeleng. Ia lalu menceritakan betapa inginnya ia melihat sendiri semua yang diceritakan sahabatnya itu. Sejenak si Bangau termenung, lalu ia tersenyum.

 

Dempet


Category: Cerita Rakyat Betawi , Posted: Jan 01, 1990

Jakarta.go.id - Dua orang anak laki-laki tengah bermain-main. Tiba-tiba anak yang lebih besar berlari ke semak-semak, lalu ia melorotkan celananya. Rupanya ia ingin membuang air. Melihat hal itu, temannya yang lebih kecil ikut-ikutan, ia membuang air di samping kawannya. Curahan air seni kedua anak itu menyatu menjadi sebuah genangan kecil di tanah. Setelah menarik kembali celananya, anak yang lebih besar meludahi genangan itu, ia pun menyuruh temannya melakukan hal yang sama. "Kenapa harus diludahi?" Tanya anak yang lebih kecil.

 

Babi Ngepet


Category: Cerita Rakyat Betawi , Posted: Jan 01, 1990

Jakarta.go.id - Malam telah larut. Rohim berjalan tergesa-gesa. Pemuda tanggung itu sesungguhnya enggan pulang malam itu. Namun karena mendapat kabar mengenai ibunya yang sakit, terpaksalah ia pulang. Untuk menghemat waktu Rohim memotong jalan. Saat melewati belakang rumah Mpek Tong Seng, pemuda itu melihat seekor anjing. Namun ketika angin bertiup, awan pun menyingkir, cahaya bulan menerangi, tampaklah olehnya seekor babi. Betapa terkejutnya Rohim, babi dilihatnya amat besar, nyaris sebesar anak kerbau. Lekas pemuda berteriak-teriak menghalau. Babi itu pun lari. Melihat binatang itu lari, timbul keberanian Rohim. Dengan sebatang kayu ia mengejar babi itu. Namun Rohim kembali terperanjat, saat di kelokan, babi itu tiba-tiba lenyap begitu saja. Tanpa ampun pemuda itu lari pontang-panting. Berulang kali ia jatuh bangun, tersandung-sandung.

 

Darma Jaya Darma Larang


Category: Cerita Rakyat Betawi , Posted: Jan 01, 1990

Jakarta.go.id - Tersebutlah seorang pertapa yang mempunyai dua orang putera. Keduanya laki-laki, yang tertua bernama Darma Jaya, yang bungsu bernama Darma Larang. Darma Jaya amatlah tampan. Sedangkan Darma Larang sebaliknya. Wajahnya amat buruk, kulitnya sehitam arang, tubuhnya kecil namun perutnya buncit. Disuatu pagi yang cerah, sang pertapa duduk dihadap oleh Darma Jaya. "Ayahanda", sembah Darma Jaya, " Mohon izinkalah hamba pergi ke Ibukota. Hamba ingin sekali mengabdi kepada baginda raja" "Pergilah anakku", sahut sang pertapa, "Semoga pengabdianmu berkenan bagi baginda raja". Darma Jaya pun menyembah dan undur dari penghadapan. Saat ia Keluar dan pertapaan, Darma Larang adiknya memanggil, "Kang mau kemana kang?".

 

Genderuwo


Category: Cerita Rakyat Betawi , Posted: Jan 01, 1990

Jakarta.go.id - Mansur adalah seorang pedagang keliling. Ia menjajakan dagangannya hingga ke Cirebon. Karena itu, sekali ia pergi, paling cepat ia baru akan kembali seminggu kemudian. Suatu pagi Mansur baru akan berangkat, di jalan ia berjumpa sahabatnya, Otong dan Udin. "Mau jalan lu Sur?" tegur Udin. "Iya, nanti malam giliran kita ronda yah?" ,ujar Mansur seraya menyodorkan sejumlah uang. "Ini buat beli bako". "Wah jadi nggak enak nih", sahut Otong, namun tak urung uang itu dikantunginya juga. Mansurpun meneruskan perjalanannya, sedang Otong dan Udin bergegas menuju kebun. Malamnya Otong dan Udin bersama beberaPa orang lain meronda. Sepanjang malam mereka berjaga dan berkeliling. Menjelang dini hari mereka memutuskan untuk pulang.

 

Hikayat Anjing, Kucing dan Tikus


Category: Cerita Rakyat Betawi , Posted: Jan 01, 1990

Jakarta.go.id - Pada zaman dahulu, nun jauh di sana tersebutlah sebuah negeri yang elok permai. Alkisah rakyat negeri itu tengah dilanda kesusahan. Ada seekor burung raksasa pemakan manusia datang ke negeri itu. Telah banyak anak negeri yang dimakan burung buas itu. Baginda raja pun gundah. Telah banyak hulubalang perkasa mencoba melawan burung itu. Namun tak satu pun hulubalang itu yang kembali dengan selamat. Hatta datanglah tiga hewan menghadap baginda raja. Mereka adalah anjing belang nyungcang, tikus jinada putih dan kucing candramawat. Ketiganya menyediakan diri untuk melawan burung raksasa itu. "Hai kalian bertiga", sabda baginda raja, "pekerjaan ini teramat sukarnya." "Dengan titah telapak duli paduka, kami akan melaksanakan", sembah kucing candramawat.

 

1234>

© 1995 - 2014 Dinas Komunikasi, Informatika dan Kehumasan Pemprov DKI Jakarta
Jl. Medan Merdeka Selatan 8-9 Blok F Lt 1 Telp: (+6221)3822255 Fax: (+6221)3822255 email: dki@jakarta.go.id | site map