Jakarta.go.id
  •  •  English
  •  •  Login
  •  •  Signup
  • Balai Warga 2919

    Hary:

    Meminta Lahan Parkir Park And Ride di stasiun dengan tarif yang wajar bukan dengan hitungan perjam k...

    Ali:

    Terima Kasih untuk informasi yang diberikan, saya sebagai Warga Jelambar melihat ada proyek pembangu...

    Lady:

    meresahkan masyarakat, saya harapkan bisa menuangkannya dengan segera disini. Saya harapkan perhatia...

    Lady:

    situasi jalanan yang tidak tertib atau MEMBAHAYAKAN pengguna jalan seperti angkutan umum yang ugal2a...

    Lady:

    tidak bisa atau tidak mau membesarkan dengan kerja keras malah ikut menjerumuskan anaknya. Selain it...

  

Profil Perekonomian Kabupaten/Kota di DKI Jakarta Tahun 2011

Posted: Oct 04, 2012 Category: Pertumbuhan Ekonomi
 

PROFIL PEREKONOMIAN KABUPATEN/KOTA di DKI JAKARTA
TAHUN 2011

eko1


I.  Laju Pertumbuhan Ekonomi DKI Jakarta Menurut Kabupaten/Kota
Laju pertumbuhan ekonomi, yang diukur dari PDRB atas dasar harga konstan, menunjukkan total PDRB kabupaten/kota di DKI Jakarta yang tercipta pada tahun 2011 meningkat sebesar 6,63 persen bila dibandingkan dengan tahun 2010, yakni dari Rp 391,64 triliun menjadi Rp 417,49 triliun. Nilai ini sedikit berbeda dengan nilai PDRB Provinsi DKI Jakarta yang menunjukkan peningkatan 6,71 persen pada periode yang sama, yaitu dari Rp 395,63 triliun menjadi Rp 422,16 triliun. Perbedaan ini terjadi karena adanya perbedaan sumber data, cakupan, dan diskrepansi statistik dalam penghitungan nilai tambah.
Wilayah dengan pertumbuhan tercepat adalah Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu dengan pertumbuhan sebesar 8,17 persen. Tingginya pertumbuhan yang dicapai oleh wilayah ini didorong oleh meningkatnya produksi minyak mentah hingga lebih dari 10 persen pada tahun 2011 yang dipicu oleh peningkatan harga minyak dunia pada saat itu. Jakarta Selatan dan Jakarta Pusat sebagai pusat perekonomian Jakarta masing-masing tumbuh 6,98 persen dan 6,95 persen. Sementara wilayah lainnya juga mampu menunjukkan pertumbuhan diatas 6 persen meskipun masih dibawah rata-rata pertumbuhan total PDRB Kabupaten/Kota yang sebesar 6,63 persen.

eko2




Lebih lanjut, untuk mengetahui kontribusi nyata yang diberikan setiap wilayah dalam pertumbuhan ekonomi total maka dilihat dari wilayah mana yang menjadi sumber pendorong pertumbuhan total perekonomian enam wilayah kabupaten/kota tersebut. Sumber pertumbuhan terbesar berasal dari wilayah Jakarta Pusat dan Jakarta Selatan, yang masing-masing menyumbang 1,83 poin dan 1,58 poin dari laju pertumbuhan yang sebesar 6,63 persen. Hal ini dirasakan wajar, mengingat perekonomian di kedua wilayah tersebut didorong oleh sektor tersier yang merupakan sektor dominan dalam perekonomian Jakarta. Sumber pertumbuhan terbesar berikutnya berasal dari Kota Jakarta Utara dengan kontribusi 1,19 poin. Kontribusi ini tentunya berasal dari kinerja sektor industri pengolahan yang cukup baik di wilayah tersebut, terutama industri kendaraan bermotor. Sementara itu, Kabupaten administrasi Kepulauan Seribu yang mencapai pertumbuhan tertinggi (8,17 persen) ternyata hanya menyumbang 0,02 poin dalam pertumbuhan ekonomi yang dicapai pada tahun 2011. Ini menunjukkan kontribusi Kepulauan Seribu belum cukup signifikan untuk ikut menentukan arah perekonomian Jakarta.
 

eko2



II.  Profil Spasial Ekonomi DKI Jakarta
Struktur perekonomian DKI Jakarta secara spasial, yang dihitung dari PDRB atas dasar harga berlaku, menunjukkan sekitar 48 persen perekonomian Jakarta masih terkonsentrasi di Kota Jakarta Pusat dan Jakarta Selatan. Pada tahun 2011 kedua wilayah tersebut memberikan rata-rata kontribusi terhadap total Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten/Kota se-DKI Jakarta masing-masing sebesar 26,57 persen (Rp 259,68 triliun) dan 22,15 persen (Rp 216,38 triliun) dari total PDRB Kabupaten/Kota yang sebesar 977,08 triliun rupiah. Setelah itu diikuti oleh Kota Jakarta Utara 18,74 persen (Rp 183,06 triliun), Kota Jakarta Timur 16,96 persen (Rp 165,71 triliun), Kota Jakarta Barat 15,01 persen (Rp 146,7 triliun) dan sisanya 0,57 persen (Rp 5,5 triliun) dari Kabupaten Kepulauan Seribu.

eko4




Apabila perekonomian DKI Jakarta dipetakan menurut wilayah kabupaten/kota dan sektor ekonomi maka akan dapat diketahui penyebaran kekuatan ekonomi Jakarta menurut wilayah. Sektor ekonomi yang dimaksud merupakan pengelompokkan kegiatan ekonomi yang dibedakan menjadi: sektor primer (Sektor Pertanian dan Sektor Pertambangan), sektor sekunder (Sektor Industri, Sektor Listrik, Gas, dan Air Bersih, dan Sektor Konstruksi), dan sektor tersier (Sektor Perdagangan, Sektor Pengangkutan, Sektor Keuangan, dan Sektor Jasa-Jasa). Ditinjau dari konstribusi sektoral, perekonomian Jakarta masih didominasi oleh sektor tersier. Pada tahun 2011, sekitar 71,3 persen dari nilai tambah yang tercipta di Jakarta berasal dari sektor tersier. Sementara dari sektor sekunder sebesar 28,1 persen dan dari sektor primer sebesar 0,6 persen.
Lebih jauh lagi bila kontribusi sektoral tersebut dipetakan dalam PDRB Kabupaten/Kota, maka wilayah penyumbang terbesar dalam pembentukan nilai tambah sektor tersier yang sebesar 71,3 persen adalah Jakarta pusat dengan kontribusi sebesar 23,46 poin, kemudian diikuti oleh Kota Jakarta Selatan dan Jakarta Barat yang masing-masing memberi kontribusi sebesar 17,88 poin dan 11,78 poin. Sementara 14,51 poin lainnya berasal dari Jakarta timur, Jakarta Utara, dan Kepulauan Seribu. Selanjutnya, kontribusi terbesar pada pembentukan nilai tambah sektor sekunder yang sebesar 28,1 persen berasal dari Jakarta Utara dengan kontribusi 10,32 poin diikuti oleh Jakarta Timur sebesar 7,21 poin. Wilayah lainnya memberi kontribusi dibawah 5 poin dalam pembentukan nilai tambah sektor sekunder. Sementara itu, pada sektor primer, dari 0,61 persen kontribusi yang diberikan sektor primer, Kepulauan Seribu menjadi wilayah dengan kontribusi terbesar. Besarnya nilai kontribusi oleh Kepulauan Seribu didorong oleh nilai tambah sektor pertambangan minyak dan gas bumi yang memang hanya berada di wilayah Kepulauan Seribu.

eko5




Dalam ruang yang lebih kecil, kekuatan ekonomi yang ditunjukkan oleh setiap wialayah kabupaten/kota tentunya tidak semua memiliki struktur ekonomi yang sama dengan DKI Jakarta sebagai provinsi. Jakarta Pusat dan Jakarta Selatan memiliki kekuatan sektor tersier yang lebih besar dari rata-rata Jakarta dalam perekonomian di wilayahnya, yakni masing-masing sebesar 88,27 persen dan 80,73 persen. Demikian pula dengan sektor tersier di Jakarta Barat yang memberikan kontribusi 78,49 persen dalam perekonomian Jakarta Barat.
Lain halnya dengan Jakarta Timur dan Jakarta Utara yang memiliki struktur ekonomi yang relatif berimbang antara sektor tersier dan sekunder. Di Jakarta timur sektor tersier juga menjadi penyumbang terbesar dalam pembentukan PDRB Jakarta Timur, hanya saja proporsinya tidak sebesar tiga wilayah terdahulu. Kontribusi sektor tersier di Jakarta timur sekitar 57,4 persen. Nilai ini tidak terlalu jauh bila dibandingkan dengan kontribusi sektor sekunder yang sebesar 42,52 persen. Demikian pula dengan Kota Jakarta Utara. Kontribusi terbesar pada perekonomian Jakarta Utara diberikan oleh sektor sekunder, yaitu sebesar 55,11 persen dari total PDRB Jakarta Utara. Setelah itu disusul oleh sektor tersier dengan kontribusi sebesar 44,75 persen. Sementara itu, perekonomian Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu sangat tergantung pada sektor primer dengan kontribusi 94,83 persen terhadap total PDRB Kepulauan Seribu. Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, kontribusi terbesar diberikan oleh sektor pertambangan-penggalian dengan kegiatan utama pertambangan minyak dan gas bumi yang memang hanya terdapat di wilayah Kepulauan Seribu.

eko6




III.  PDRB Per Kapita Kabupaten/Kota di DKI Jakarta
Besaran PDRB Per Kapita suatu daerah bergantung pada besaran PDRB dan jumlah penduduk. PDRB perkapita adalah besaran kasar yang menunjukkan tingkat kesejahteraan penduduk di suatu wilayah pada suatu waktu tertentu.  Pada tahun 2011, berdasarkan PDRB per kapita harga Berlaku dengan migas wilayah dengan PDRB per Kapita tertinggi adalah Jakarta Pusat dengan nilai Rp 283,99 juta. Setelah itu diikuti oleh Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu sebesar Rp 259 juta rupiah. Namun bila diukur dengan menggunakan PDRB per kapita atas dasar harga berlaku tanpa migas, Kepulauan Seribu menempati peringkat keenam dengan nilai sekitar Rp 18,97 juta. Jakarta Utara dan Jakarta Selatan menempati urutan berikutnya dengan nilai masing-masing Rp 109,85 juta dan Rp 103,62 juta. Keempat wilayah tersebut memiliki PDRB per kapita yang lebih tinggi dari rata-rata Provinsi DKI Jakarta yang sebesar Rp 100,98 juta. Sementara PDRB Per Kapita harga berlaku Jakarta Barat dan Jakarta Timur masing-masing sebesar Rp 63,48 juta dan Rp 60,74 juta.

eko7


Sumber : BPS Provinsi DKI Jakarta No. 44/10/31/Th. XIV, 1 Oktober 2012


© 1995 - 2014 Dinas Komunikasi, Informatika dan Kehumasan Pemprov DKI Jakarta
Jl. Medan Merdeka Selatan 8-9 Blok F Lt 1 Telp: (+6221)3822255 Fax: (+6221)3822255 email: dki@jakarta.go.id | site map