Jakarta.go.id
  •  •  English
  •  •  Login
  •  •  Signup
  • Balai Warga 2997

    Nori:

    Yth Pak Gubernur, Ke mana bisa melaporkan dengan cepat pelanggaran Perda Larangan Merokok. Banyak te...

    dewi:

    sangat memberatkan persayratan pemasangan baru maupun + daya listrik di jakarta karna IMB samapi 5 j...

    dewi:

    saya sudah tanya pembuatan IMB jakarta pusat kemayoran sebesar diatas 5 juta mohon tinjauannya benar...

    Agus:

    Yth,Admin" mau nanya Keputusan Gubernur No. 1653 Tahun 2010 Tentang : Pemberian Uang Insentif Ope...

    firman:

    Yth dinas perhubungan, kapan dibetulkan jembatan pejaten barat raya, di depan pejaten village yang l...

  

Tingkat Kemiskinan DKI Jakarta Bulan Juli 2012

Posted: Jul 04, 2012 Category: Tingkat Kemiskinan
 

TINGKAT KEMISKINAN DI DKI JAKARTA
MARET 2012

k1


1.  Perkembangan Tingkat Kemiskinan Maret 2011-Maret 2012
Jumlah penduduk miskin di DKI Jakarta pada bulan Maret 2012 sebesar 363,20 ribu orang (3,69 persen). Dibandingkan dengan penduduk miskin pada Maret 2011 sebesar 363,42 ribu orang (3,75 persen), berarti jumlah penduduk miskin menurun sebesar 0,22 ribu.
 

k2


2.  Perubahan Garis Kemiskinan Maret 2011- Maret 2012
Jumlah penduduk miskin sangat dipengaruhi oleh besarnya Garis Kemiskinan (GK), karena penduduk miskin adalah penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran per kapita per bulan di bawah Garis Kemiskinan.
Selama Maret 2011-Maret 2012, Garis Kemiskinan naik sebesar 6,63 persen, yaitu dari Rp 355.480 per kapita per bulan pada Maret 2011 menjadi Rp  379.052 per kapita per bulan pada Maret 2012. Dengan memperhatikan komponen Garis Kemiskinan (GK), yang terdiri dari Garis Kemiskinan Makanan (GKM) dan Garis Kemiskinan Non-Makanan (GKNM), terlihat bahwa peranan komoditi makanan lebih besar dibandingkan peranan komoditi bukan makanan (perumahan, sandang, pendidikan, dan kesehatan). Namun demikian, selama periode Maret 2011-Maret 2012, sumbangan GKM terhadap GK mengalami sedikit perubahan yaitu sebesar 0,13 poin.
Komoditi yang paling penting bagi penduduk miskin adalah beras. Pada bulan Maret 2012, sumbangan pengeluaran beras terhadap Garis Kemiskinan Makanan sebesar 36,55 persen. Selain beras, barang-barang kebutuhan pokok lain yang berpengaruh cukup besar terhadap Garis Kemiskinan adalah rokok kretek filter (17,38 persen), daging ayam ras (6,34 persen), telur ayam ras (6,19 persen) dan tempe (3,39 persen), cabe merah (3,14 persen), ikan kembung (2,69 persen) dan bawang merah (2,31 persen).
Untuk komoditi bukan makanan, 5 komoditi barang/jasa yang mempunyai peranan terbesar adalah perumahan (44,21 persen), pendidikan (10,50 persen), angkutan (10,18 persen), perlengkap mandi (5,05 persen) dan bensin (4,90 persen).

Selama Maret 2011-Maret 2012, Garis Kemiskinan naik sebesar 6,63 persen, yaitu dari Rp 355.480 per kapita per bulan pada Maret 2011 menjadi Rp  379.052 per kapita per bulan pada Maret 2012. Dengan memperhatikan komponen Garis Kemiskinan (GK), yang terdiri dari Garis Kemiskinan Makanan (GKM) dan Garis Kemiskinan Non-Makanan (GKNM), terlihat bahwa peranan komoditi makanan lebih besar dibandingkan peranan komoditi bukan makanan (perumahan, sandang, pendidikan, dan kesehatan). Namun demikian, selama periode Maret 2011-Maret 2012, sumbangan GKM terhadap GK mengalami sedikit perubahan yaitu sebesar 0,13 poin.
Komoditi yang paling penting bagi penduduk miskin adalah beras. Pada bulan Maret 2012, sumbangan pengeluaran beras terhadap Garis Kemiskinan Makanan sebesar 36,55 persen. Selain beras, barang-barang kebutuhan pokok lain yang berpengaruh cukup besar terhadap Garis Kemiskinan adalah rokok kretek filter (17,38 persen), daging ayam ras (6,34 persen), telur ayam ras (6,19 persen) dan tempe (3,39 persen), cabe merah (3,14 persen), ikan kembung (2,69 persen) dan bawang merah (2,31 persen).
Untuk komoditi bukan makanan, 5 komoditi barang/jasa yang mempunyai peranan terbesar adalah perumahan (44,21 persen), pendidikan (10,50 persen), angkutan (10,18 persen), perlengkap mandi (5,05 persen) dan bensin (4,90 persen).

3.  Indeks Kedalaman Kemiskinan dan Indeks Keparahan Kemiskinan
Persoalan kemiskinan bukan hanya sekadar jumlah dan persentase penduduk miskin, dimensi lain yang perlu diperhatikan adalah tingkat kedalaman dan keparahan kemiskinan. Selain harus mampu memperkecil jumlah penduduk miskin, kebijakan penanggulangan kemiskinan juga sekaligus dapat mengurangi tingkat kedalaman dan keparahan kemiskinan.
Pada periode Maret 2011-Maret 2012, Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) dan Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) menunjukkan penurunan. Indeks Kedalaman Kemiskinan turun dari 0,60 pada keadaan Maret 2011 menjadi 0,50 pada keadaaan Maret 2012. Demikian pula Indeks Keparahan Kemiskinan menurun dari 0,15 menjadi 0,13 pada periode yang sama (Tabel 2). Penurunan  nilai kedua indeks ini mengindikasikan bahwa rata-rata pengeluaran penduduk miskin cenderung meningkat dan mendekati garis kemiskinan, serta ketimpangan pengeluaran penduduk miskin juga semakin mengecil.
 

k3


4.  Penjelasan Teknis dan Sumber Data
  a.  Untuk mengukur kemiskinan, BPS menggunakan konsep kemampuan memenuhi kebutuhan dasar (basic needs approach). Dengan pendekatan ini, kemiskinan dipandang sebagai ketidakmampuan dari sisi ekonomi untuk memenuhi kebutuhan dasar makanan dan bukan makanan yang diukur dari sisi pengeluaran. Dengan pendekatan ini, dapat dihitung persentase penduduk  miskin terhadap total penduduk.
  b.  Metode yang digunakan adalah menghitung Garis Kemiskinan (GK), yang terdiri dari dua komponen yaitu Garis Kemiskinan Makanan (GKM) dan Garis Kemiskinan Non-Makanan (GKNM). Penghitungan Garis Kemiskinan dilakukan secara terpisah untuk daerah perkotaan dan perdesaan, kecuali untuk DKI Jakarta yang seluruh wilayahnya merupakan daerah perkotaan. Penduduk miskin adalah penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran per kapita per bulan di bawah Garis Kemiskinan.
  c.  Garis Kemiskinan Makanan (GKM) merupakan nilai pengeluaran kebutuhan minimum makanan yang disetarakan dengan 2.100 kkal per kapita per hari. Paket komoditi kebutuhan dasar makanan diwakili oleh 52 jenis komoditi (padi-padian, umbi-umbian, ikan, daging, telur dan susu, sayuran, kacang-kacangan, buah-buahan, minyak dan lemak, dan lain-lain).
  d.  Garis Kemiskinan Non-Makanan (GKNM) adalah kebutuhan minimum untuk perumahan, sandang, pendidikan, dan kesehatan. Paket komoditi kebutuhan dasar Non-Makanan diwakili oleh 51 jenis komoditi di perkotaan dan 47 jenis komoditi di perdesaan.
  e.  Sumber data utama yang dipakai untuk menghitung tingkat kemiskinan tahun 2012 adalah data SUSENAS (Survei Sosial Ekonomi Nasional)   Maret 2012. Jumlah sampel Susenas Maret 2012 di DKI Jakarta sebanyak 1.300 rumah tangga sehingga data kemiskinan dapat disajikan hingga tingkat provinsi. Sebagai informasi tambahan, juga digunakan hasil survei SPKKD (Survei Paket Komoditi Kebutuhan Dasar), yang dipakai untuk memperkirakan proporsi dari pengeluaran masing-masing komoditi pokok bukan makanan.


Sumber : BPS Provinsi DKI Jakarta No. 30/07/31/Th. XIV, 2 Juli  2012  


© 1995 - 2014 Dinas Komunikasi, Informatika dan Kehumasan Pemprov DKI Jakarta
Jl. Medan Merdeka Selatan 8-9 Blok F Lt 1 Telp: (+6221)3822255 Fax: (+6221)3822255 email: dki@jakarta.go.id | site map