Jakarta.go.id
  •  •  English
  •  •  Login
  •  •  Signup
  • Balai Warga 2917

    Lady:

    meresahkan masyarakat, saya harapkan bisa menuangkannya dengan segera disini. Saya harapkan perhatia...

    Lady:

    situasi jalanan yang tidak tertib atau MEMBAHAYAKAN pengguna jalan seperti angkutan umum yang ugal2a...

    Lady:

    tidak bisa atau tidak mau membesarkan dengan kerja keras malah ikut menjerumuskan anaknya. Selain it...

    Lady:

    yang lebih muda dibanding saya. Saya sudah menolak secara halus tapi dia masih kokoh menyodorkan top...

    Lady:

    pemalas dan bisa melakukan tindakan kekerasan. Setahun lalu saya pernah dimintai uang receh oleh ana...

  

700 Pengelola Gedung Akan Dilatih Penanganan Gempa

Posted: Apr 18, 2012 Category: Jakarta Kini
 

gedung jakartaSebagai kota metropolitan, Jakarta memiliki banyak gedung pencakar langit. Namun, belum seluruh gedung bertingkat di Jakarta memiliki standar memadai dalam mengatasi persoalan gempa. Untuk meminimalisir korban gempa di gedung bertingkat, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta, akan mengadakan sosialisasi kepada 700 pemilik atau pun pengelola gedung bertingkat terkait standar operasioal prosedur (SOP) tanggap bencana gempa.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta, Arfan Akilie, mengatakan sebelum menyusun SOP tanggap bencana, pihaknya akan lebih dulu melakukan sosialisasi kepada seluruh pengelola gedung di Jakarta. BPBD DKI telah menyusun peta resiko bencana, dan peta ini yang akan digunakan dalam menyusun SOP ke depan.

Pihaknya mencatat di Jakarta setidaknya terdapat 700 gedung bertingkat. Nantinya secara bertahap akan dilakukan sosialisasi mengenai tanggap gempa. Untuk tahap awal yang dimulai tahun ini, akan ada tiga angkatan. "Satu angkatan sebanyak 75 orang akan kita beri pelatihan, apakah manajer atau pengelola gedungnya," jelas Arfan, Rabu (18/4).

Arfan berharap setelah dilakukan sosialisasi, pengelola gedung diminta untuk meneruskannya kepada bawahannya. Sehingga penerapan tanggap gempa di gedung-gedung bisa segera terealisasi. "Jika sudah diadakan, mereka diharapkan melanjutkan," ujarnya.

Hal itu dilakukan, mengingat sejumlah gedung bertingkat di ibu kota masih belum memiliki petunjuk jalur evakuasi. Seperti dengan standar internasional, di mana setiap gedung harus memiliki kapten lantai. "Kita utamakan bagaimana mengurangi resiko, jadi masing-masing gedung harus juga memiliki SOP tanggap gempa sendiri," katanya.

Arfan mengaku beberapa waktu lalu pihaknya telah belajar ke Aceh, yang telah memiliki SOP gempa dan tsunami. Dengan begitu, pihaknya memiliki pemahaman untuk membuat SOP gempa di Jakarta. "Gempa susah dideteksi, tapi kalau kita tak ada program pengurangan resiko juga percuma. Dengan belajar ke Aceh bisa diaplikasikan dalam SOP gempa di Jakarta," ungkapnya.

BPBD DKI, kata Arfan, juga akan mengikuti imbauan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) yang menyatakan gedung-gedung bertingkat di Jakarta harus memiliki alat pengukur kekuatan guncangan gempa. "Pemilik gedung juga harus memikirkan penyewa gedung dan karyawan yang ada di dalamnya. Yang jelas dalam pergub sudah ada persyaratan ketahanan gempa pada gedung," tandasnya.

 

Reporter : erna 

Sumber: beritajakarta.com


© 1995 - 2014 Dinas Komunikasi, Informatika dan Kehumasan Pemprov DKI Jakarta
Jl. Medan Merdeka Selatan 8-9 Blok F Lt 1 Telp: (+6221)3822255 Fax: (+6221)3822255 email: dki@jakarta.go.id | site map