Jakarta.go.id
  •  •  English
  •  •  Login
  •  •  Signup
  • Balai Warga 2953

    Nadia:

    Yth. Admin Balai Warga, Sehubungan dengan pertanyaan Ibu Anna, mohon info terkait dengan statistik ...

    anna:

    selamat sore pak... adakah peraturan mengenai perlindungan anak di jakarta?.. jika iya.. bisakah pe...

    Nala Jati:

    Hai jakarta.go.id, untuk wilayah RW 3, Kelurahan Petogogan, Kecamatan Kebayoran Baru, Jakarta Selat...

    Handi:

    Mohon agar dokumen Pedoman Lembaga Musyawarah Kelurahan disediakan dalam format yang lebih baik. Saa...

    Lie:

    Pertanyaan lain Pak : 1. Apakah semua warga DKI berhak mendapatkan BPJS tanpa kecuali ? 2. Dimana ...

  

Tingkat Kemiskinan DKI Jakarta Bulan Januari 2012

Posted: Jan 02, 2012 Category: Tingkat Kemiskinan
 

TINGKAT KEMISKINAN DI DKI JAKARTA 

SEPTEMBER  2011
 
mis
 
1. Perkembangan Tingkat Kemiskinan Maret 2011-September 2011
 
Jumlah penduduk miskin di DKI Jakarta pada bulan September 2011 sebesar 355,20 ribu orang (3,64 persen). Dibandingkan dengan penduduk miskin pada Maret 2011 sebesar 363,42 ribu orang (3,75 persen), berarti jumlah penduduk miskin turun sebesar 8,2 ribu. Secara makro, kinerja perekonomian DKI Jakarta pada bulan Maret – September 2011 memperlihatkan perbaikan, yaitu:
a. Inflasi Y on Y  bulan September 2011 sebesar 4,61 persen, lebih rendah dibandingkan dengan Y on Y bulan Maret 2011 sebesar 5,95 persen.
 
b. Laju pertumbuhan ekonomi Y on Y juga tetap memperlihatkan kinerja yang bagus yaitu mencapai 6,7 persen. Pertumbuhan Y on Y untuk sektor yang menyerap tenaga kerja banyak seperti industri pengolahan makanan dan minimun sebesar 7,88 persen meningkat  dibandingkan dengan pertumbuhan Y on Y pada triwulan pertama yang sebesar 0,39 persen.
 
c. Tingkat Pengangguran terbuka bulan Agustus 2011 relatif stabil dibandingkan dengan keadaan bulan Pebruari 2011 yaitu sebesar 10,8 persen.
 
 mis1 
 
2. Perubahan Garis Kemiskinan Maret 2011- September 2011
Besar kecilnya jumlah penduduk miskin sangat dipengaruhi oleh besarnya Garis Kemiskinan, karena penduduk miskin adalah penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran per kapita per bulan di bawah Garis Kemiskinan.
Selama Maret 2011-September 2011, Garis Kemiskinan naik sebesar 3,64 persen, yaitu dari Rp 355.480 per kapita per bulan pada Maret 2011 menjadi Rp  368.415 per kapita per bulan pada September 2011. Dengan memperhatikan komponen Garis Kemiskinan (GK), yang terdiri dari Garis Kemiskinan Makanan (GKM) dan Garis Kemiskinan Non-Makanan (GKNM), terlihat bahwa peranan komoditi makanan lebih besar dibandingkan peranan komoditi bukan makanan (perumahan, sandang, pendidikan, dan kesehatan). Namun demikian, selama periode Maret 2011 - September 2011, sumbangan GKM terhadap GK tidak mengalami perubahan yaitu sebesar 64,31 persen.
Komoditi yang paling penting bagi penduduk miskin adalah beras. Pada bulan September 2011, sumbangan pengeluaran beras terhadap Garis Kemiskinan Makanan sebesar 30,18 persen. Selain beras, barang-barang kebutuhan pokok lain yang berpengaruh cukup besar terhadap Garis Kemiskinan adalah rokok kretek filter (14,99 persen), telur ayam ras (6,36 persen),  mie instan (4,74 persen) dan daging ayam ras (4,56 persen), tempe (3,48 persen), gula pasir (3,30 persen) dan tahu (2,94 persen). 
Untuk komoditi bukan makanan, 5 komoditi barang/jasa yang mempunyai peranan terbesar adalah biaya perumahan (29,00 persen), angkutan (14,33 persen), pendidikan (10,60 persen), listrik (7,86 persen) dan bensin (4,66 persen).
 
 
3. Indeks Kedalaman Kemiskinan dan Indeks Keparahan Kemiskinan 
Persoalan kemiskinan bukan hanya sekadar berapa jumlah dan persentase penduduk miskin. Dimensi lain yang perlu diperhatikan adalah tingkat kedalaman dan keparahan dari kemiskinan. Selain harus mampu memperkecil jumlah penduduk miskin, kebijakan penanggulangan kemiskinan juga sekaligus dapat mengurangi tingkat kedalaman dan keparahan dari kemiskinan.
Pada periode Maret 2011 – September 2011, Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) dan Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) menunjukkan kecenderungan penurunan. Indeks Kedalaman Kemiskinan turun dari 0,60 pada keadaan Maret 2011 menjadi 0,46 pada keadaaan September 2011. Demikian pula Indeks Keparahan Kemiskinan menurun dari 0,15 menjadi 0,10 pada periode yang sama (Tabel 2). Penurunan  nilai kedua indeks ini mengindikasikan bahwa rata-rata pengeluaran penduduk miskin cenderung meningkat dan mendekati garis kemiskinan, serta ketimpangan pengeluaran penduduk miskin juga semakin mengecil.
 
 mis2 
 
4. Penjelasan Teknis dan Sumber Data
a. Untuk mengukur kemiskinan, BPS menggunakan konsep kemampuan memenuhi kebutuhan dasar (basic needs approach). Dengan pendekatan ini, kemiskinan dipandang sebagai ketidakmampuan dari sisi ekonomi untuk memenuhi kebutuhan dasar makanan dan bukan makanan yang diukur dari sisi pengeluaran. Dengan pendekatan ini, dapat dihitung persentase penduduk  miskin terhadap total penduduk.
 
b. Metode yang digunakan adalah menghitung Garis Kemiskinan (GK), yang terdiri dari dua komponen yaitu Garis Kemiskinan Makanan (GKM) dan Garis Kemiskinan Non-Makanan (GKNM). Penghitungan Garis Kemiskinan dilakukan secara terpisah untuk daerah perkotaan dan perdesaan, kecuali untuk DKI Jakarta yang seluruh wilayahnya merupakan daerah perkotaan. Penduduk miskin adalah penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran per kapita per bulan di bawah Garis Kemiskinan.
 
c. Garis Kemiskinan Makanan (GKM) merupakan nilai pengeluaran kebutuhan minimum makanan yang disetarakan dengan 2100 kkal per kapita per hari. Paket komoditi kebutuhan dasar makanan diwakili oleh 52 jenis komoditi (padi-padian, umbi-umbian, ikan, daging, telur dan susu, sayuran, kacang-kacangan, buah-buahan, minyak dan lemak, dan lain-lain).
 
d. Garis Kemiskinan Non-Makanan (GKNM) adalah kebutuhan minimum untuk perumahan, sandang, pendidikan, dan kesehatan. Paket komoditi kebutuhan dasar Non-Makanan diwakili oleh 51 jenis komoditi di perkotaan dan 47 jenis komoditi di perdesaan.
 
e. Sumber data utama yang dipakai untuk menghitung tingkat kemiskinan tahun 2011 adalah data SUSENAS (Survei Sosial Ekonomi Nasional) Modul Konsumsi Triwulan bulan September 2011. Jumlah sampel Susenas di DKI Jakarta 1.540 rumah tangga sehingga data kemiskinan dapat disajikan hingga tingkat provinsi. Sebagai informasi tambahan, juga digunakan hasil survei SPKKD (Survei Paket Komoditi Kebutuhan Dasar), yang dipakai untuk memperkirakan proporsi dari pengeluaran masing-masing komoditi pokok bukan makanan.
 
 
Sumber : BPS Provinsi DKI Jakarta No. 04/01/31/Th.XIV, 2 Januari 2012 


© 1995 - 2014 Dinas Komunikasi, Informatika dan Kehumasan Pemprov DKI Jakarta
Jl. Medan Merdeka Selatan 8-9 Blok F Lt 1 Telp: (+6221)3822255 Fax: (+6221)3822255 email: dki@jakarta.go.id | site map