Jakarta.go.id
  •  •  English
  •  •  Login
  •  •  Signup
  • Balai Warga 1132

    mohammad:

    yth,..HUMAS DKI, beberapa warga kami belum memiliki surat rumah dan PBB,.bagaimana cara mengurusnya...

    mohammad:

    YTH. humas dki , sy pengurus yayasan madrasah ibt nurhidayah,membuat ijin pengesahan yayasan kami da...

    aris:

    yth. bpk humas dki. Saya sebagai pendatang ingin ikut membantu terciptanya jakarta yg nyaman tp, se...

    INDRA:

    Saya guru honorer dari SDN Pinang Ranti 10 Pagi siap mendukung sepenuhnya Bang Foke untuk terpilih k...

    Zulkifli:

    mohon ijin, kok pergub nomor 86 tahun 2012 tentang kpa tidak ada di daftar produk hukum? mohon penje...

  

Warga Jakarta Angkat Suara

Posted: Oct 12, 2011 Category: PPMK DKI Jakarta
 

ppmkdki

 

Abdul Kadir: Mengurangi kemiskinan

abdul kadir

Abdul Kadir menjabat sebagai Ketua Dewan Kelurahan Pulau Panggang, Kepulauan Seribu, sejak tahun 2006. Beliau akan memangku jabatan ini sampai dengan tahun 2011. Proses pemilihannya sebagai ketua Dewan Kelurahan cukup panjang, dimulai dari tingkat RT, kemudian maju dipilih menjadi perwakilan RW, dan untuk tahap akhir di tingkat dua pulau, karena Ketua Dewan Kelurahan Pulau Panggang juga menangani pulau terdekat yaitu Pulau Pramuka. Setelah terjadi musyawarah dan disetujui oleh kelima RW di kedua pulau, Abdul Kadir terpilih menjadi ketua Dewan Kelurahan. Sehari-harinya AbdulKadir hidup sebagai nelayan budidaya karang hias dan menjadi guru di Madrasah Ibtidaiyah di Pulau Panggang.

Pulau Panggang sendiri adalah sebuah pulau kecil yang merupakan salah satu kelurahan di Kepulauan Seribu dengan luas 62,10 hektar dan dihuni oleh 5.344 penduduk yang sebagian besar berprofesi sebagai nelayan. Jarak ke Pulau Panggang dari daratan Jakarta sejauh 74 kilometer dan dapat dicapai dengan menggunakan perahu motor. Hamnpir semua penduduk Pulau Panggang dan Pulau Pramuka hidup bergantung pada laut entah itu sebagai nelayan atau penyedia layanan yang berhubungan dengan laut. 

Abdul Kadir menyatakan bahwa menjadi Ketua Dewan Kelurahan tidak sulit sebab semua mekanisme pembuatan keputusan sudah ditentukan, tuturnya “saya tidak membuat keputusan sendiri karena semua sudah ada tahapannya dan ketika dana dikucurkan semua transaksi dilakukan melalui bank”

Abdul Kadir menyadari bahwa tingkat kemiskinan di Pulau Panggang termasuk tinggi karena warga sangat tergantung pada alam untuk mata pencaharian mereka. PPMK membantu mengembangkan usaha-usaha kecil yang mampu menyerap tenaga kerja. Dana Bina Fisik dipergunakan warga untuk membuat gorong-gorong dan tempat pembuangan sampah. Pembuatan tempat sampah (TPA) tidaklah mudah karena pulau ini sangat kecil sehingga perlu diadakan reklamasi dulu. Untuk membangun dipekerjakan kurang lebih 20 orang lokal

Dana bergulir PPMK serta dana Bina Sosial dan Bina Fisik yang diturunkan sejak tahun 2001 telah mampu menggerakkan ekonomi pulau kecil ini. Abdul Kadir menuturkan bahwa program Bina Fisik dan Bina Sosial penting dalam membangun hubungan antar para warga, karena dalam program seperti inilah warga dapat bertemu dan menentukan bersama apa yang mereka butuhkan untuk meningkatkan kualitas kehidupan mereka.

Kunci keberhasilan PPMK di Pulau Panggang, menurut Abdul kadir, adalah adanya sosialisasi yang merata sehingga warga dapat memahami mekanisme program dan ketiga unsur utama dalam PPMK. Dalam menyalurkan pinjaman Abdul Kadir menekankan agar tim yang bertugas menyeleksi proposal turun untuk melihat sendiri keadaan calon peminjam di lapangan. Calon peminjam juga dapat langsung berdialog dengan tim seleksi yang terdiri dari warga Pulau Panggang sendiri. Tim seleksi proposal juga dapat melihat langsung berapa besar dana yang dibutuhkan calon peminjam untuk usahanya.

Berkaitan dengan warga yang menunggak dan tidak membayar cicilan pinjaman, Abdul Kadir mengatakan bahwa sedari awal calon peminjam sudah diberi pemahaman bahwa dana yang disalurkan bukan dana hibah melainkan pinjaman yang harus dikembalikan. Hal ini dilakukan untuk menghindari kesalahpahaman. Setelah dana dikucurkan, pengawasan dilakukan dengan ketat dan sedari dini penertiban dilakukan pada mereka yang menunggak. Hal ini merupakan hal yang menentukan bagi keberhasilan PPMK. Selain itu, warga juga akan menilai apakah Dewan Kelurahan mampu menegakkan keadilan atau tidak. Ada pemahaman bersama di antara warga Pulau Panggang bahwa dana PPMK adalah dana bersama yang dikelola dari masyarakat untuk masyarakat, sehingga bila terjadi hal-hal negatif seperti adanya tunggakan akan berdampak pada komunitas Pulau Panggang secara keseluruhan.

 

Haji Tugimin Simamora: Berbagi pengalaman hidup

haji tugimin

Sebagai ketua Koperasi Kelurahan Kebon Kosong, Jakarta Pusat, Haji Tugimin Simamora, 72 tahun, merupakan ketua yang tertua di antara para Ketua Koperasi Kelurahan di Jakarta. Warga setempat memilih Pak Tugimin sebagai ketua Koperasi Kelurahan Kebon Kosong bukan karena usianya, tetapi karena pengalaman yang ia bawa dengan usia tersebut. Bersama dengan tokoh-tokoh dan unsur-unsur masyarakat lain yang berjumlah 25 orang, Haji Tugimin membangun Koperasi Kelurahan Kebon Kosong. Banyak di antara anggota pendiri koperasi ini juga merupakan anggota Dewan Kelurahan.

Haji Tugimin adalah pensiunan karyawan Angkasa Pura yang sudah mempunyai tiga orang cucu. Menurut Tugimin tantangan terberat dalam membentuk Koperasi Kelurahan Kebon Kosong adalah merubah cara berpikir warga setempat yang pada awalnya cenderung menolak ide koperasi. Bagi banyak warga program PPMK lebih disukai karena di dalamnya ada dana hibah, sedangkan koperasi sifatnya pinjaman bergulir dan harus dikembalikan. Lebih-lebih ketika pada awal PPMK terjadi banjir 2002 di mana terjadi kesimpang-siuran dalam hal pengembalian dana pinjaman di antara banyak warga.

Para pendiri Koperasi Kelurahan Kebon Kosong menyadari pentingnya sosialisasi di antara para warga. Mereka memberi penjelasan bahwa koperasi memberikan akses terhadap pinjaman dana yang dapat dipergunakan untuk usaha kecil yang nantinya dapat meningkatkan kesejahterahan peminjam. Tugimin dan rekan-rekannya aktif mendatangi arisan ibu-ibu, pertemuan PKK dan melakukan kunjungan dari satu rumah ke rumah lainnya guna menjelaskan perbedaan PPMK dan Koperasi. Mereka memberi penjelasan bahwa sedari awal program Bina Ekonomi merupakan pinjaman bergulir dalam PPMK yang harus dikembalikan dan tidak pernah menjadi hibah.

Tugimin dengan sabar menjelaskan pada warga kesalahpahaman yang telah terjadi berkaitan dengan dana hibah, dan dana hibah hanya berlaku dalam program Bina Fisik dan Bina Sosial serta tidak pernah untuk program Bina Ekonomi. Ia juga juga menjelaskan sebenarnya tidak banyak perbedaan antara pinjaman pada program Bina Ekonomi dan koperasi, hanya saja pinjaman tersebut dikelola oleh badan yang mempunyai bentuk hukum pasti yaitu koperasi, sedangkan dana Bina Ekonomi dulu tidak mempunyai landasan hukum yang kuat. Perbedaan lain adalah bahwa pinjaman saat ini harus dipergunakan untuk usaha mikro yang sudah berjalan. Tentunya peminjam haruslah warga yang berdomisili di Kelurahan bersangkutan.

Bagi mereka yang hendak menjadi anggota koperasi dan mengajukan pinjaman, setelah diyakini mereka bukanlah salah satu penunggak dana PPMK, calon peminjam dikenai iuran pokok Rp 100.000 dan iuran per bulan Rp 5000. Selain itu ada biaya administrasi bagi anggota baru sebesar Rp 15.000. Anggota baru akan bergabung dalam satu kelompok. Kelompok akan mengikuti Latihan Wajib Kelompok sebelum diperbolehkan mengajukan pinjaman. Latihan yang diberikan adalah latihan tata kelola koperasi agar anggota kelompok dapat mengerti cara kerja dana bergulir dan mengelolanya dengan baik.

Pak Tugimin dan rekan menanggapi masalah tunggakan dengan serius. Bila warga yang telah mengembalikan pinjaman melihat warga lain menunggak dan didiamkan saja, mereka akan merasa dirugikan. Ini merupakan bagian penting dari pembelajaran warga Koperasi Kelurahan Kebon Kosong. Semua pengurus Koperasi Kelurahan Kebon Kosong sadar bahwa di masa lampau banyak penunggak-penunggak yang menolak membayar pinjaman dari program Bina Ekonomi PPMK. Bila ada penunggak PPMK yang belum membayar tunggakan, usulan pinjaman ke koperasi tidak akan diberikan sampai tunggakan lunas dibayar. Koperasi Kelurahan Kebon Kosong bekerja dengan Dewan Kelurahan untuk mengetahui siapa saja yang belum mengembalikan dana pinjaman PPMK. Pak Tugimin merasa hal ini penting karena ini merupakan proses pembelajaran bersama bagi seluruh warga kelurahannya.

Selain ada tekanan sosial dari warga lainnya kepada para penunggak, ada juga tekanan dari kelompok, karena untuk meminjam harus membentuk kelompok dan setiap anggota kelompok bertanggung jawab atas anggota-anggota lainnya dalam mengembalikan pinjaman. Pengurus Koperasi Kelurahan Kebon Kosong juga turun tangan memberikan pengertian langsung pada para penunggak, meminta mereka untuk bertanggung jawab dengan cara-cara persuasif. Bila ada anggota yang tidak mengembalikan pinjaman maka seluruh anggota kelompok harus turut membayar pinjaman tersebut. Besaran pinjaman perorang di setiap kelompok adalah antara Rp 2 juta sampai dengan Rp 5 juta dan besaran ini ditentukan oleh seberapa besar volume usaha peminjam.

Dalam rencana usahanya Koperasi Kelurahan Kebon Kosong mengajukan permintaan pinjaman sebesar Rp 2,4 milyar kepada Dinas Koperasi Provinsi DKI Jakarta. Saat ini total pencairan dana pada Koperasi Kelurahan Kebon Kosong sejak berdiri pada bulan Oktober 2009 sampai sekarang adalah sebesar Rp 1,5 milyar, dan pengucuran dana dilakukan secara bertahap sesuai pengembalian dana pinjaman tersebut.  Sebagai salah satu bukti keberhasilannya, Koperasi Kelurahan Kebon Kosong pada bulan Juli 2010 telah mampu menyewa kantor khusus untuk urusan koperasi. Saat ini ada sekitar 300 orang yang tengah menunggu giliran untuk mendapatkan kesempatan meminjam dana dari Koperasi Kelurahan Kebon Kosong.

 

Ibu Kulsum:

Dari Penjual Ikan Menjadi Saudagar Ikan dan Pemilik Losmen

kulsum

Awalnya Ibu Kulsum yang hanya berpendidikan sampai jenjang Sekolah Dasar ini memperoleh nafkahnya dari komisi penjualan ikan ekor kuning milik saudagar ikan setempat. Hasilnya tidak seberapa, terlebih bila cuaca buruk datang dan para nelayan tidak dapat mendatangi keramba ikan mereka di laut. Bila hal itu terjadi, Ibu Kulsum tidak memperoleh penghasilan sama sekali. Pekerjaan ini ia tekuni selama tiga tahun. Keadaan keuangan Ibu Kulsum menjadi kritis ketika suaminya, Pak Muhayar yang dikenal dengan sebutan Pak Gonyor sakit dan tidak dapat melaut lagi. Ibu Kulsum dan suaminya tinggal di Pulau Pramuka yang bersebelahan dengan Pulau Panggang. Kedua pulau ini merupakan bagian dari Kelurahan Panggang.

Ibu Kulsum kebetulan mendengar adanya peluang meminjam uang untuk usaha melalui PPMK. Ketika berjumpa dengan Kepala Dewan Kelurahan, perempuan ini memperoleh penjelasan tentang mekanisme peminjaman dana tersebut. Ibu Kulsum ingin mempunyai keramba ikan kuning sendiri agar penghasilannya meningkat dan ia dapat menjadi saudagar ikan di Pulau Pramuka. Hanya saja, bila Ibu Kulsum meminjam sendiri secara perorangan, jumlah dana yang dapat dipinjamnya terlalu kecil untuk membeli keramba ikan yang ia inginkan.

Akhirnya, Ibu Kulsum membentuk kelompok yang terdiri dari tujuh orang agar dapat memperoleh pinjaman yang agak besar. Kelompok usaha ikan kuning ini mempekerjakan dua puluh pegawai lokal. Ibu Kulsum dan kelompoknya mendapat pinjaman sebesar Rp 20 juta dan diberi waktu dua tahun untuk pengembaliannya. “Dari awal proses peminjaman sampai unag ditransfer ke rekening bank saya, semua berjalan lancar. Saya juga tidak dipungut uang rokok dalam proses administrasinya,” tutur Ibu Kulsum.

Ibu Kulsum dan kelompoknya berhasil mengembalikan uang pinjaman tepat waktu. Tak lama setelah itu mesin perahu kelompoknya yang telah bertahun-tahun dipakai rusak dan tidak dapat dipakai melaut untuk mendatangi keramba-keramba ikan di laut. Ibu Kulsum bersama kelompoknya kemudian mengajukan pinjaman kembali kepada PPMK dan mereka sekali lagi diberi kredit berjangka waktu pengembalian dua tahun. Sedari awal semua keuntungan yang didapatkan kelompok ini selalu dibagi rata di antara ketujuh anggota kelompok. Pemasukan Ibu Kulsum di tahun keempat berpartispasi dalam PPMK sudah jauh lebih baik dibandingkan ketika ia hanya mendapatkan komisi dari menjual ikan kuning. Sekarang ini keuntungan dari usaha keramba ikan ini mencapai Rp  35 juta per bulan, dan setiap anggota kelompok mendapat bagian Rp 5 juta.

Tahun 2009 tata kelola peminjaman dana melalui program Bina Ekonomi dalam PPMK dirubah. Program Bina Ekonomi selanjutnya dikelola oleh Dinas Koperasi. Sistemnya agak berbeda karena peminjaman tidak lagi berada di bawah tanggung jawab Dewan Kelurahan, tetapi di bawah koperasi kelurahan yang harus dibentuk di setiap kelurahan. Dengan sistem baru ini, Ibu Kulsum harus menjadi anggota Koperasi Kelurahan Pulau Panggang, di mana ia harus membayar iuran pokok anggota dan iuran bulanan.  Dengan sistem koperasi ini, Ibu Kulsum memberanikan diri meminjam Rp 25 juta. Kali ini pinjamanan dana ia tanggung sendiri dan ia ajukan untuk membuka toko penyewaan peralatan renang (diving dan snorkeling) dan memperbaiki tiga kamar di rumahnya untuk dijadikan kamar yang dapat disewa oleh wisatawan yang datang ke Pulau Pramuka, atau sering disebut home stay. Usaha keramba ikan kelompok masih terus berjalan.  Sekarang setiap hari paling sedikit satu dari tiga kamarnya selaku terisi oleh tamu. Tarif sewa kamar Ibu Kulsum adalah Rp 350.000 per hari. Di akhir minggu ketiga kamarnya selalu laku disewa tamu dari Jakarta yang ingin melepas lelah di Pulau Pramuka.

Hari-hari ini Ibu Kulsum bangga karena berkat jerih payahnya ia berhasil menyekolahkan dua anaknya ke perguruan tinggi di Jakarta. Salah satu anaknya sudah berada di semester tujuh di Universitas Islam 45 di Bekasi. Anaknya yang paling kecil masih di Sekolah Dasar dan Ibu Kulsum berniat menyekolahkan si bungsu sampai perguruan tinggi juga.

 

Dodi: Penjual Bawang dan Majikan dengan 30 Pegawai

dodi

Meskipun usianya baru 26 tahun, Dodi sudah menjadi pedagang bawang sejak tahun 1997. Pedagang yang tinggal di Kelurahan Tengah, Kramat Jati, Jakarta Timur ini lahir di Jakarta. Jualannya ada dua macam, bawang merah yang belum dikupas dan yang sudah dikupas. Bawang tersebut ia beli tidak jauh dari rumahnya di Pasar Induk Kramat Jati. Setiap hari Dodi mengendarai mobilnya menjemput barang dagangan dari agen di pasar, yang jumlahnya tergantung pesanan pembeli. Sering kali bawang yang ia bawa pulang dari Pasar Induk sampai lebih dari satu kwintal. Toko bawangnya buka dari jam 7 pagi sampai jam 7 malam.

Sudah lama Dodi berniat mengembangkan usahanya, tetapi ia membutuhkan akses pada modal. Ketika tahun 2009 pihak RT dan Koperasi Kelurahannya mengadakan sosialisasi tentang kredit lunak untuk para warga RT, Dodi tertarik. Untuk ikut dalam Koperasi Kelurahan Tengah, ia wajib membayar iuran pokok Rp 100.000 dan iuran bulanan Rp 10.000. Dodi pun mengajukan pinjaman dana sebesar Rp 5 juta. Pihak Koperasi Kelurahan mendatangi toko bawang Dodi untuk memastikan dana akan digunakan untuk peningkatan usaha. Tidak lama kemudian dana dari Koperasi Kelurahan cair dan Dodi memperoleh pinjaman Rp 5 juta dengan jangka waktu satu tahun.

Sejak mendapat suntikan dana dari Koperasi Kelurahan, usaha penjualan bawang Dodi berkembang. Untuk memenuhi kebutuhan bawang yang telah dikupas, Dodi sekarang mampu mengupah 30 orang ibu-ibu yang tinggal di sekitar toko bawangnya. Dodi tidak kesulitan mendapatkan ibu-ibu yang mau mengupas bawang di tokonya, karena banyak ibu yang memerlukan tambahan penghasilan. Seharinya para ibu ini mendapat upah Rp 50.000. Penghasilan kotor Dodi per hari saat ini mencapai Rp 3 juta. Sekarang Dodi hanya melayani pembelian bawang partai besar di atas lima kilogram.

Menurut Dodi pengurus Koperasi Kelurahan Tengah sangat kooperatif tidak saja dalam memberi penjelasan tentang program pinjaman, tetapi juga dalam memperlakukan para peminjam secara setara dan adil. Ia merasa dirangkul oleh pengurus koperasi. Setiap bulan Dodi mengembalikan Rp 516.000. Nanti bila ia telah melunasi pinjaman ini, Dodi akan mengajukan permohonan pinjaman lagi sebesar Rp 10 juta untuk mengembangkan usaha dagang bawangnya ini.

 

Abdullah Syafei: Sarjana Penjual Barang Kelontong dengan 14 Pegawai

syafei

Sejak masih menjadi mahasiswa Abdullah Syafei sudah berwirausaha sebagai distributor barang-barang kelontong kecil di Kelurahan Tengah, Kramat Jati. Barang dagangannya antara lain berupa alat tulis kantor, silet, pisau cukur, spon cuci piring, tali rafia, sumbu kompor, mainan anak-anak dan banyak lagi barang-barang yang tidak terlalu besar dan dapat diangkut dengan gerobak keliling.

Biaya pendidikan tidaklah murah apalagi di kota besar seperti Jakarta. Abdullah berhasil menamatkan kuliahnya di Sekolah Tinggi Administrasi Mandala Indonesia, jurusan Administrasi Negara. Berbekal gelar S1-nya Abdullah berusaha mencari pekerjaan di kantor atau perusahaan, tetapi hingga kini belum berhasil. Bagaimanapun juga Abdullah harus menghidupi keluarganya, oleh karena itu pria ini pun akhirnya berketetapan untuk terus mengembangkan wirausaha yang telah lama dirintisnya ini.

Sejak lulus Abdullah mempunyai lebih banyak waktu untuk mengembangkan usahanya. Barang-barang dagangannya dibeli dari Pasar Asemka atau sering dikenal sebagai pasar Pagi Lama, yang adalah salah satu pasar grosir terkenal di Jakarta, terutama bagi para pengusaha mulai dari pedagang kaki lima sampai pemilik waralaba yang cabangnya di mana-mana. Menurut para pedagang grosir di sana, Pasar Asemka adalah pasar grosir terbesar di Indonesia untuk barang-barang pernik, tas, sepatu sampai ATK. Letaknya persis di belakang Pasar Glodok Jakarta Pusat. Untuk menjangkaunya tidak terlalu sulit karena pasar ini berada dekat stasiun Kota.

Awalnya ketika kuliah barang-barang yang dibeli Abdullah hanya sedikit karena ia hanya berjualan seorang diri. Namun, sekarang berkat bantuan Koperasi Kelurahan Tengah yang memberinya pinjaman sebesar Rp 5 juta, usaha keliling Abdullah berkembang dan kini ia mempunyai 14 pegawai dengan gerobak yang menjajakan barang-barangnya berkeliling dari kampung ke kampung di kawasan Jakarta Timur. Para pedagangnya berjualan dari jam 8 pagi hingga jam 4 sore. Setiap pagi para pedagang Abdullah akan memuat barang ke dalam gerobak-gerobak mereka, dan menyetorkan penghasilan mereka hari itu pada malam harinya. Ke 14 pedagang Abdullah bekerja bergantian, ada yang pagi, sore atau terkadang malam hari.

Abdullah mendapatkan pinjaman dari Koperasi Kelurahan Tengah pada bulan Juli 2010. Usaha untuk mendapatkan pinjaman telah dilakukan beberapa kali oleh pria ini, karena ia sadar bahwa usaha gerobak kelilingnya ini perlu mendapat suntikan modal. Beberapa kali Abdullah berusaha mendapatkan pinjaman ketika sistemnya masih berada di bawah pengelolaan Dewan Kelurahan, tetapi tidak berhasil. Ketika Koperasi Kelurahan Tengah berkeliling sosialisasi program pinjaman dana bergulir bagi pengusaha kecil, Abdullah langsung mendaftarkan diri sebagai anggota. Pengurus Koperasi Kelurahan Tengah sengaja berkeliling mencari anggota agar dapat mengakses dana bergulir yang disediakan Dinas Koperasi Pemerintah Daerah Provinsi DKI. Abdullah dikunjungi pengurus koperasi yang melakukan pengecekan lapangan untuk membuktikan bahwa dana yang hendak dipinjam akan dimanfaatkan untuk pengembangan usaha dan tidak untuk membiayai kebutuhan sehari-hari. Dalam waktu seminggu pinjaman Abdullah cair.  

Abdullah tidak membayar para pedagangnya dengan gaji bulanan, tetapi dengan sistem insentif. Ia mematok harga barang-barang dagangannya dan ia serahkan kepada para pedagang sendiri untuk menentukan berapa harga yang akan dikenakan kepada para pembeli. Sebelumnya Abdullah pernah menerapkan sistem gaji tetap, tetapi para pedagang merasa keberatan dengan sistem ini karena dengan sistem gaji ada target barang-barang yang harus terjual setiap harinya.

Dari ke 14 pedagangnya dalam sehari Abdullah rata-rata memperoleh pemasukan kotor sebesar Rp 2 juta, dengan keuntungan berkisar antara Rp 200.000 sampai dengan Rp 300.000 per harinya. Sementara itu cicilan Abdullah setiap bulan kepada Koperasi Kelurahan adalah Rp 147.000. Bila kelak pinjamannya telah lunas, Abdullah berkeinginan meminjam Rp 5 juta lagi dari Koperasi Kelurahan untuk mengembangkan usaha dengan mulai menjual sandal. Tetapi jual beli sandal membutuhkan modal yang tidak sedikit, karena untuk dua karung sandal saja Abdullah harus mengeluarkan uang sebesar Rp 5 juta. Sampai sekarang pria ini belum mampu membeli sandal di Pasar Asemka.

 

Ibu Sumitro: Jualan Jamu Sampai Anak-Anak Menjadi Sarjana

ibu sumitro

Siti Chotimah atau Ibu Sumitro sudah lama berdagang untuk membantu pemasukan keluarga. Ia dan suaminya tinggal di Rumah Susun Dakota, Kelurahan Kebon Kosong, Jakarta Pusat. Ibu Sumitro sudah menjadi pengurus RW sejak tahun 1995 dan ia juga aktif menjadi bendara RT selama enam tahun terakhir. Selain itu wanita ini adalah Ketua PKK Rumah Susun Dakota dan Ketua Kelompok Koperasinya. Ia datang ke Jakarta dari Purworejo, Jawa Tengah karena meskipun di kampung halamannya ia memiliki sepetak sawah yang kecil, penghasilan dari sawah tersebut tidak cukup untuk menghidupi keluarganya apalagi sampai menjadikan anak-anaknya sarjana.

Rupanya Ibu Sumitro mempunyai bakat berdagang. Ketika baru menikah, ia membuka bisnis jual beli motor Vespa. Dari pengalamannya ini ia terus mencari bentuk dagangan yang dapat diperjualbelikan dengan cepat. Paham berdagang yang dianutnya adalah “ada barang ada uang” dan ia selalu berupaya untuk cepat menjual barang di tangannya, sehingga di rumahnya tidak pernah terlihat ada stok atau timbunan barang. Menyimpan barang lama-lama menurut ibu yang gesit ini dapat mengurangi keuntungan karena barang harus segera diuangkan lagi, dan usaha dagangnya harus terus-menerus bergulir.

Selain berdagang aneka barang, sampai sekarang Ibu Sumitro sudah sepuluh tahun berjualan jamu. Setelah mendengar tentang PPMK, ia mengajukan pinjaman dana untuk mengembangkan usaha jamunya.  Dana yang pertama kali dipinjam Ibu Sumitro sebesar Rp 3 juta dan dikembalikan dalam jangka waktu 200 hari. Jamu Ibu Sumitro sekarang terkenal di kalangan ibu-ibu di rumah susunnya. Berkat berjualan jamu perempuan ini pernah memiliki tujuh rumah susun (tujuh pintu) di gedung yang ditempatinya sekarang. Saat ini tiga pintu telah dijual untuk keperluan sekolah anaknya, dan dari empat sisanya, dua ditinggalinya sendiri bersama keluarga dan dua lainnya disewakan.

Ibu Sumitro juga bergabung dengan Koperasi Kelurahan yang mengelola PPMK. Ia merasa sistem koperasi lebih adil karena penunggak pasti akan ditindak, tidak seperti sebelumnya. Dengan sistem koperasi bila membayar pinjaman tepat waktu, ibu ini bisa mendapatkan pinjaman lebih besar. Menurutnya Koperasi Kebon Kosong sangat transparan dalam hal dana yang dikelolanya. Bahkan nama pemohon dipampangkan di white board di kantor koperasi sehingga seluruh warga tahu siapa saja yang belum mendapatkan pencairan dana. Sekarang ini ada 300 pemohon yang masih antri tunggu giliran mendapatkan pinjaman. Koperasi tegas dan adil, pencairan dana dilakukan sesuai dengan nomor urut tunggu.

Dari rumah susun Dakota pemanfaat dana koperasi terbanyak adalah kaum ibu yang mempergunakannya untuk berdagang, sementara para bapak lebih memilih bekerja formal. Kelompok koperasi Ibu Sumitro terdiri dari lima orang, tetapi tidak semua berjalan lancar sesuai harapan karena salah seorang anggota sering menunggak pembayaran cicilan ke koperasi. Anggota yang menunggak tersebut akhirnya dikeluarkan dan tidak akan dapat meminjam lagi. Dalam meminjam uang dari koperasi Ibu Sumitro berkata, ”Semuanya tergantung kita dan komitmen dalam perjanjian ketika menjadi anggota koperasi. Meminjam dana harus enak dan mengembalikannya pun harus enak juga.”

Dari koperasi Ibu Sumitro sudah meminjam dua kali. Pertama sebesar Rp 3 juta yang dicicil Rp 18.000 selama dua ratus hari. Dengan pinjaman ini Ibu Sumitro berhasil mendapatkan keuntungan Rp 2 juta dalam waktu enam bulan. Untuk pinjaman kedua Ibu Sumitro meminjam Rp 4,5 juta dengan masa cicilan juga 200 hari dan setiap harinya ia harus mencicil Rp 28.000. Dengan pinjaman kedua ini Ibu Sumitro mendapatkan keuntungan Rp 500.000 setiap bulannya.

Saat ini Ibu Sumitro telah berhasil mengembangkan usahanya. Perempuan ini juga telah mulai berjualan pakaian wanita, hanya saja ia tidak membuka toko khusus, tetapi menjajakan barang dagangannya melalui tilpun kepada para ibu yang menjadi pelanggan jamunya. Sesuai dengan prinsip dagangnya, Ibu Sumitro tidak pernah menimbun barang dagangan di rumah. Ia akan menanyakan kepada pembeli melalui tilpun barang-barang apa saja yang mereka butuhkan, membeli dan hari itu juga langsung dibayar. Saking ramainya usaha baru ini, Ibu Sumitro sampai harus memperkerjakan dua orang pengojek motor yang bertugas mengantarkan barang ke pembeli, yang setiap bulannya ia bayar sebesar Rp 300.000.

Disiplin berdagang dan kerja keras inilah yang lambat laun membuat Ibu Sumitro mampu menyekolahkan kedua anaknya sampai ke jenjang perguruan tinggi. Sekarang Ibu Sumitro sedang rajin menabung untuk menunaikan ibadah haji bersama suaminya. Ia dan suaminya berharap cita-cita ini akan dapat terlaksana dalam empat tahun lagi. Sementara itu ia akan mencalonkan diri menjadi Ketua RT,  karena ia lelah melihat lingkungan di sekitar rumah susunnya yang perlu ditata dengan lebih rapi.

 

Cardianto: Pedagang Gorengan yang Menjadi Ketua Koperasi dan Ketua RT

kardianto

Sudah sangat jelas dari awal pembicaraan bahwa Cardianto sangat paham akan arti penting pinjaman dana bergulir dan pengaruhnya pada usahanya sebagai pedagang gorengan di Kelurahan Lagoa, Jakarta Utara. Meskipun pria asal Indramayu ini hanya tamat SMP, ia telah dua periode terpilih menjadi ketua RT. Dalam usahanya menjadi pedagangan gorengan, ia dibantu oleh isterinya yang orang Betawi asli.

Cardianto dan isterinya bahu-membahu mengembangkan usaha gorengan mereka berdua dan semua pekerjaan selalu dilakukan bersama, mulai dari belanja pagi sampai mengolah bahan mentah yang akan digoreng. Keluarga ini mempunyai empat orang anak, dua yang pertama sudah lulus SMA dan dua lainnya masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Keempat anak mereka sering membantu mengolah bahan-bahan mentah yang akan digoreng.

“Alhamdullilah anak-anak saya tidak ada yang gengsi karena saya hanya penjual gorengan,” tutur Pak Cardianto. Lelaki ini biasa menjual gorengannya di depan Sekolah Alhairyah yang berada tidak jauh dari rumahnya. Salah satu langganan tetapnya adalah Pak Lurah dan orang-orang Kelurahan Lagoa. Berjualan gorengan tidak menentu hasilnya. Dalam bulan puasa ada penurunan pembeli gorengan dan demikian pula dengan hari-hari libur karena para pembeli tidak datang ke sekolah maupun kantor.

Sejak tahun 2002 Cardianto telah meminjam dana untuk mengembangkan usaha dagangnya. Pertama kali ia meminjam Rp 1 juta, dan setelah lunas ia meminjam kembali dengan jumlah yang sama. Selanjutnya untuk ketiga dan keempat kalinya pria ini meminjam masing-masing Rp 750.000. Cardianto selalu membayar tepat waktu dan tidak pernah menunggak pembayaran. Ia sadar bahwa meskipun usahanya tak seberapa besar, pengembalian pinjaman merupakan hal yang penting. “Masalahnya, dengan PPMK peminjam yang melanggar dan tidak membayar tidak dikenai sanksi apa-apa,” kata Cardianto. Meskipun demikian, bapak ini juga mengakui ia menggunakan sedikit dari dana pinjamannya untuk kepentingan sekolah anaknya, tetapi ia sadar sepenuhnya bahwa dana yang dipinjam dari PPMK maupun koperasi harus dipergunakan untuk pengembangan usaha.

Pengalihan program Bina Ekonomi PPMK ke bawah sistem koperasi dinilai oleh Cardianto sebagai perkembangan yang baik dan lebih adil karena dengan sistem koperasi pemanfaat yang menunggak cicilan akan mendapatkan sanksi hukum yang jelas. Cardianto mengatakan bahwa beberapa warga merasa kecewa dengan sistem koperasi karena sistem ini lebih tegas kepada penunggak, tetapi ia merasa ini justru niat mereka yang kurang baik karena bila terjadi tunggakan terus-menerus maka program dana bergulir bisa ambruk kehabisan dana.

Cardianto menjelaskan bahwa “sebelum menjadi anggota koperasi harus ada permohonan untuk menjadi anggota dan bila diterima harus mengikuti pelatihan-pelatihan kelompok mengenai sistem koperasi. Jadi semuanya jelas.”  Syarat yang paling penting dan adil menurut Cardianto adalah mereka yang mengajukan pinjaman tidak boleh mempunyai tunggakan di PPMK. Ketika Cardianto diterima sebagai anggota Koperasi Kelurahan Lagoa ia tidak kenal anggota kelompoknya karena pihak koperasilah yang memilih anggota kelompok. Karena ada kepentingan bersama kelompok Cardianto dapat saling berkerja sama dengan baik. Cardianto diangkat oleh Koperasi Kelurahan Lagoa menjadi ketua kelompok dan sebagai ketua ia diberi tanggung jawab untuk menjaga agar teman-teman di dalam kelompoknya selalu membayar cicilan tepat waktu.

Dengan sistem koperasi Cardianto meminjam dana sebesar Rp 2,5 juta dengan cicilan Rp 350.000 setiap bulannya. Dengan pinjaman ini Cardianto dapat menambah jenis gorengan dan juga jenis makan lainnya, dan ia juga dapat membeli peralatan memasak yang sangat dibutuhkan. Sekarang ini keuntungan bersih Pak Cardianto per harinya mencapai sekitar Rp 100.000.

Sumber : Team Mirah Sakethi


© 1995 - 2012 Dinas Komunikasi, Informatika dan Kehumasan Pemprov DKI Jakarta
Jl. Medan Merdeka Selatan 8-9 Blok F Lt 1 Telp: (+6221)3822255 Fax: (+6221)3822255 email: dki@jakarta.go.id | site map