Jakarta.go.id
  •  •  English
  •  •  Login
  •  •  Signup
  • Balai Warga 3033

    tedi:

    info ke pada pemda jakarta timur.....di jakarta timur khusus nya di klinik kecamatan Ciracas masih b...

    mochammad:

    Yth Bapak Ahok saya ingin meminta jawaban tentang pengaduan saya ke gubernur dengan nomor agenda 004...

    ancha:

    yth Bp Ahok , saya merupakan pemilik tanah dilokasi waduk Marunda Jakut yg saat ini sedang proses pe...

    Lambok:

    Yth, Pak Gubernur, Mohon informasi perihal pengadaan penyediaan jasa pembersih/pemungut sampah di da...

    Ono:

    Yth. Pak Gubernur Ahok, di dekat tempat kami di RW 09 Duren Sawit ada taman dan sasana krida karang ...

  

Banjir & Kemacetan Lalu Lintas

Posted: Jun 21, 2012 Category: jakarta banjir
 

banjir macetMasalah pokok yang selalu menyedot perhatian publik Jakarta adalah banjir dan kemacetan. Dua persoalan ini, terus menjadi topik utama, mulai dari lapisan bawah hingga atas dan telah menguras pikiran, tenaga dan dana.

Masalah kemacetan, tampak dari kondisi, dimana satu sisi jumlah kendaraan yang lalu-lalang di jalan-jalan di Jakarta setiap saat terus bertambah sementara penyediaan jalan untuk menampung tumpahan kendaraan ini tidak berjalan seimbang.

Persoalan ini makin rumit, jika dalam kondisi lalu-lintas yang macet, muncul bencana banjir. Maka sudah bisa dibayangkan, kota Jakarta akan menimbun aneka persoalan yang berat. Dua kejadian ini selalu menimpa kota Jakarta.

Berdasarkan data Dishub DKI Jakarta, hingga akhir tahun 2010, jumlah kendaraan di Jakarta tumbuh mencapai 7,34 juta unit. Dari jumlah itu, sebanyak 98 persen merupakan kendaraan pribadi, dan hanya dua persen angkutan umum. Pertumbuhan rata-rata kendaraan bermotor di Jakarta dalam lima tahun terakhir sebesar 9,5 persen per tahun.

Dari sembilan puluh delapan persen kendaraan pribaditadi, melayani perjalanan sebanyak 44 persen, sementara daridua persen angkutan umum harus melayani 56 persen dari 20,7juta perjalanan per hari di kota Jakarta.

Kemudian rasio jalan di Jakarta hanya 6,2 persen, angkaini sangat kecil bila dibandingkan kota-kota besar di negara lainseperti Paris yang mencapai 24 persen, Tokyo sebesar 22 persen,dan Singapura sebesar 12 persen. Empat contoh kota ini sudah memiliki angkutan massal yang baik.

Sementara itu pertumbuhan ruas jalan tidak lagi sebanding dengan pertambahan jumlah kendaraan. Panjang jalan di ibu kota mencapai 7.650 kilometer dengan luas jalan 40,1 kilometer persegi. Sedangkan pertumbuhan panjang jalan hanya sekitar 0,01 persen per tahun. Beban jalan di Jakarta pun semakin bertambah dengan adanya kendaraan komuter dari daerah sekitar Jakarta (Bodetabek) sekitar 650.000 unit per hari.

Evaluasi terhadap masalah kemacetan ini, Pemprov DKI menciptakan transportasi publik yang modern, berkapasitas besar dan terintegrasi seperti mass rapid transit (MRT). Untuk tahapan pembangunan MRT sendiri, saat ini persiapannya telah selesai dan segera memasuki tahapan tender. Sesuai jadwal semula, pengerjaan fisik mega proyek ini akan dimulai tahun 2012 mendatang.

Selain itu Pemprov DKI juga menekan titik-titik rawan macet dengan menertibkan parkir-parkir liar, terminal bayangan, pak ogah, dan lain sebagainya. Serta berupaya menambah rasio jalan dengan membangun jalan susun dan memanfaatkan jalur jalan yang ada.

Kini Pemda DKI Jakarta tengah membangun jalan layang non tol (JLNT) di koridor Antasari – Blok M dan koridor Kampung Melayu – Tanah Abang. Selain itu, juga terus menambah pengoperasian koridor bus Trans Jakarta dari 10 saat ini hingga mencapai targetnya yakni 15 koridor serta terus dilakukan penambahan jumlah armada.

Terhadap pengoperasian Busway, Pemda juga melakukan evaluasi untuk diterapkannya standar pelayanan bus Trans Jakarta. Hal ini dimaksudkan untuk menarik lebih banyak warga menggunakan moda transportasi umum itu dibanding kendaraan pribadi. Akhir tahun 2011 akan beroperasi Koridor XI jurusan Kampung Melayu-Pulo Gebang.

Selain itu adapun kebijakan terbaru yang dilakukan, yakni pengaturan jam operasional truk di ruas jalan tol dalam kota. Kebijakan ini mendapatkan sambutan positif dari seluruh masyarakat Jakarta yang menikmati pertambahan kecepatan kendaraan pada ruas jalan tol dalam kota.

Kini, angkutan umum massal MRT yang saat ini tengah diselesaikan detail engineering design untuk lintasan Lebakbulus hingga Dukuh Atas dan pelaksanaannya dimulai sebelum tahun 2012 dengan target operasi tahun 2016. Dilanjutkan dengan pembangunan jaringan MRT sampai ke utara kota maupun lintasan Timur - Barat.

Sistem lain yang tengah ditempuh Pemprov DKI untuk mengendalikan kemacetan adalah Electronic Road Pricing (ERP). Sistem ini dipakai untuk menggantikan sistem 3 in 1 yang dianggap sudah tidak efektif lagi. Namun sistem ini belum bisa diterapkan  dalam waktu dekat, karena masih menunggu peraturan pemerintah sebagai dasar hukum penerapan ERP.

Banjir

Pada musim hujan, air dapat menggenangi sudut-sudut kota Jakarta atau bahkan membenamkan jalan-jalan jika jaringan pembuangan air tidak dikelola secara benar. Di bawah kondisi ini, sebagian jalan kota akan tidak berfungsi secara normal. Kalau lalu-lintas di atasnya masih dapat bergerak, arusnya akan lambat karena kendaraan mesti berbagi tempat dengan air. Kalau tidak bergerak sama sekali, akan ada pengalihan lalu-lintas ke tempat-tempat lain. Mudah dibayangkan bahwa, dalam situasi seperti itu, jalan-jalan yang masih bisa berfungsi bakal terlihat seakan-akan menyempit seperti leher botol karena harus menampung limpahan kendaraan pada tingkat yang tidak sesuai dengan kapasitasnya.

Fenomena banjir dapat pula dirujuk sebagai akibat disharmoni fungsi ruang. Di sini, yang muncul adalah penggunaan lahan secara tidak proporsional atau tidak berimbang untuk membangun jaringan-jaringan prasarana. Paling tidak, penataan saluran air yang melintasi kota terkesan dinomorsekiankan sehingga, pada musim penghujan, jalan-jalan di Jakarta selalu tergenang. Pada curah hujan yang sebetulnya terkategori normal pun, air sudah menjadi melimpah dan luber ke luar dari saluransaluran pembuangan dan mengalir ke mana-mana. Ketika jalan tertutup air, kemacetan tak tercegah. Ketika jalan-jalan strategis kena banjir, kemacetan total ala insiden April 2007 pun menjadi tak terelakkan. Dalam peristiwa ini, lalu-lintas di seluruh Jakarta dapat dikatakan tak bergerak sama sekali selama 3 sampai 6 jam.

Tetapi harus disadari, Jakarta tidak pernah lepas dariancaman banjir. Sebagai kota yang berada di daratan rendah sewaktu-waktu dapat terserang oleh banjir. Masalah banjir  sebenarnya tidak hanya terjadi saat ini, tapi banjir sudah pernah  merendam Jakarta hingga beberapa kali semasa pemerintah kolonial Belanda, meskipun tidak sesering dan separah seperti yang terjadi saat ini.

Dampak dari banjir dan kemacetan ini luar biasa. Dari sisi ekonomi, kemacetan mengurangi produktivitas kerja. Jika orang, misalnya, membutuhkan waktu dua jam lebih banyak daripada waktu normal untuk bergerak dari rumah ke kantor, maka, secara hampir otomatis, durasi kerjanya pada hari itu akan berkurang. Demikian pula kondisi fi sik dan psikisnya untuk menjalankan tugas. Bila lama kerja dan semangat kerja seseorang merosot, produktivitas kerjanya pun akan ikut-ikutan anjlok. Taruhlah, misalnya, dalam situasi normal, ia mampu menyelesaikan limapotong baju sebelum pulang kembali ke rumah. Namun lantaran kemacetan memperpendek waktu kerjanya hingga dua jam dan memperlesu semangatnya untuk berproduksi, ia pada akhirnya hanya sanggup menyelesaikan dua atau tiga potong baju. Contohcontoh begini dapat diperkaya dan diperbanyak. Tapi satu sampel tadi rasanya sudah memadai karena hubungan antara kemacetan dan produktivitas relatif mudah dipahami karena sifat relasinya amat mencolok.

Dari sisi ekonomi, masih ada dampak lain yang mesti diungkit. Ini terjadi pada sektor fi nansial. Apabila kemacetan melanda satu arus lalu-lintas, para pengendara di dalamnya akan dipaksa mengeluarkan lebih banyak uang. Pertama, untuk membeli bahan bakar tambahan dan kedua, untuk meningkatkan laju depresiasi kendaraan. Dalam kasus kemacetan, waktu tempuh yang lebih lama berarti penggunaan bahan bakar yang lebih boros serta penggunaan mesin yang lebih sering dan lebih tak beraturan. Bila orang menggunakan mobil pribadi pada jaringan jalan yang punya banyak ‘titik-titik berleher botol’, ia pasti akan menyisihkan lebih banyak porsi dari pendapatan per bulannya untuk biaya transportasi daripada bila ia berada pada jaringan jalan yang bebas macet.

Dari sisi psikologi, kemacetan pun mendatangkan kerugian. Jika orang dilanda macet, emosinya bisa menjadi labil. Ia berada pada titik kerawanan untuk berbuat rusuh atau, paling tidak, menggulir untaian aksi-reaksi yang tidak sehat secara sosial. Ribuan orang yang secara serentak terjerumus dalam lubang kemacetan di jalanan adalah sebongkah granat raksasa: sedikit ada provokasi, ledakan akan terjadi. Ini tentu saja perumpamaan yang ekstrim tetapi, bagaimana pun, cukup pas untuk melukiskan bahaya psikologis yang tumbuh di balik jiwa para korban kemacetan. Di bawah kondisi yang sama, kontak sosial yang tidak sehat dapat pula merambah ke tingkat keluarga. Bayangkan jika, gara-gara kemacetan, seorang suami, misalnya, selalu tiba di rumah pukul 11.00 malam. Psikisnya akan cenderung tidak siap untuk melakukan tindakan-tindakan ideal di tengah-tengah keluarga. Kontaknya dengan anak-anak juga minim karena saat ia pulang, para bocah sudah tidur dan pada saat ia berangkat, mereka pun barangkali masih nyenyak di ranjang. Potensi ke arah hubungan keluarga yang harmonis, dengan demikian, ikut terkurangi oleh kemacetan.

Dari sisi kesehatan, hal pertama yang dimunculkan biasanya adalah turunnya intelijensi. Ini terjadi, terutama, pada anakanak atau remaja yang berlama-lama terjepit di tengah arus lalu-lintas yang bergerak tersendat-sendat. Sudah pasti mereka bukan kelompok yang bepergian dengan mobil AC tetapi dengan angkutan umum yang berfasilitas ala kadarnya. Mereka terekspos oleh zat-zat polutan yang ke luar dari knalpot-knalpot kendaraan. Jika terisap secara terus-menerus, bahan-bahan ini dapat memperlemah kecerdasan orang, terutama kecerdasan anak-anak dan remaja. Polusi kendaraan dapat pula menyebabkan pelbagai gangguan pada bagian atas sistem saluran pernapasan (ISPA), seperti pilek, batuk dan asma.

Menurut data Pemprov DKI, kerugian dari kemacetan ini mencapai 17,2 triliun per tahun berdasarkan nilai waktu, biaya bahan bakar, dan biaya kesehatan serta pemborosan energi.

Untuk masalah banjir ini, Pemprov telah berupaya mengurangi volume dan debit air yang masuk ke Jakarta, dengan membangun sarana dan prasarana penyerapan (drainase) yang memadai, serta membersihkan saluran air yang tersumbat sampah dan kotoran.

Program Kanal Banjir Timur (KBT) dapat melindungi 30 persen atau hampir 3 juta warga Jakarta dari ancaman banjir. Pemprov DKI Jakarta juga berupaya mengatasi genangan pada ruas-ruas jalan yang berjumlah 123 titik. Tahun 2010, sudah diselesaikan 39 titik genangan dan pada tahun ini tengah dilaksanakan agar 84 titik genangan bisa dituntaskan.

Pemprov DKI Jakarta telah melakukan banyak kemajuan dalam mengatasi permasalahan banjir dan kemacetan di ibu kota. Kini Pemprov DKI tak henti-henti melakukan aneka upaya untuk mengatasi banjir dan kemacetan termasuk rencana pembangunan Tanggul Raksasa.

Sumber : Buku : Obsesi Spektakuler Pemprov DKI Tanggul Raksasa Dari Kanal Sampai Bendungan Laut


© 1995 - 2014 Dinas Komunikasi, Informatika dan Kehumasan Pemprov DKI Jakarta
Jl. Medan Merdeka Selatan 8-9 Blok F Lt 1 Telp: (+6221)3822255 Fax: (+6221)3822255 email: dki@jakarta.go.id | site map