Jakarta.go.id
  •  •  English
  •  •  Login
  •  •  Signup
  • Balai Warga 2978

    aldi:

    test...

    mandala:

    kpd, humas pemda dki. dimana saya dapat men-download DPA APBD 2014, kel gunung sahari utara? yg ter...

    Lie:

    Sore Pak, saya ingin bertanya, apakah diperlukan permintaan PM1 dan PM2 sebagai persyaratan perijina...

    Nendra:

    Selamat pagi Humas DKI Jakarta. Saya ingin melaporkan tentang kemacetan yang sering terjadi di perem...

    hendriko:

    ass.... humas DKI jakarta..untuk surat surat lainnya sudah lengkap hanya terkendala pada akte cerai ...

  

Gedung Bertingkat di Jakarta Tahan Gempa

Posted: Mar 15, 2011 Category: Jakarta Kini
 

Bagi warga Jakarta yang kerap bekerja di gedung bertingkat, tidak perlu khawatir jika sewaktu-waktu terjadi gempa dan akan merobohkan bangunan pencakar langit tersebut. Sebab, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memastikan gedung-gedung pencakar langit di ibu kota tahan gempa hingga puluhan skala richter. Bahkan, kekuatan gedung berlantai lima ke atas sekuat bangunan di Jepang yang masih berdiri kokoh meski dihantam gempa 9 skala richter. Karena, bangunan pencakar langit tersebut sudah melewati penilaian tim praktisi dan ahli konstruksi bangunan. Di samping juga persyaratan pembangunannya yang sangat ketat.

Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo, mengatakan untuk menjamin kekuatan bangunan pencakar langit, pihaknya selalu meminta para ahli konstruksi bangunan untuk memberikan penilaian dan pandangan terkait rencana pembangunan gedung pencakar langit. Selain itu, sekarang ini sudah ada kriteria keselamatan yang diberlakukan untuk bangunan-bangunan pencakar langit. Salah satunya, harus menjamin keselamatan warga terhadap gempa.

“Secara teoritis bangunan pencakar langit di Jakarta mempunyai daya tahan yang sama dengan bangunan di Jepang. Karena desain yang digunakan memakai standar Jepang. Tapi, tetap kita tidak boleh lengah,” kata Fauzi Bowo di Balaikota, Senin (14/3).

Bahkan saat bencana gempa dan tsunami di Jepang terjadi, Asisten Pembangunan dan Lingkungan Hidup DKI Jakarta mengundang tim penasehat konstruksi bangunan (TPKB). Tim ini diundang untuk membahas persyaratan kekuatan konstruksi bangunan dalam konteks lingkungan yang sudah mulai berubah. Termasuk meminta pandangan para profesor ahli bangunan pencakar langit. Semuanya itu untuk memperketat persyaratan pembangunan gedung-gedung pencakar langit dan meminimalisasikan korban saat terjadi bencana.

Menurutnya, yang lebih mengkhawatirkan adalah bangunan berlantai empat atau lima pada rumah toko (ruko) yang didirikan tanpa pengawasan dari konsultan bangunan atau tim konstruksi. Ditambah lagi biaya material mungkin banyak ditekan sehemat mungkin sehingga mengurangi kualitas bangunan.

“Saya khawatir pembangunan gedung lantai empat atau lima dilakukan banyak penghematan material oleh pemiliki bangunan. Sehingga material yang dipakai tidak sesuai dengan konstruksi yang disetujui,” ujarnya.

Kemungkinan besar bahan bangunan yang digunakan tidak sesuai dengan standar industri yang ada. Misalnya, besi beton yang dipakai besi beton bekas, atau kabel listrik yang tidak sesuai standar sehingga seringkali menyebabkan arus pendek dan kebakaran.

“Yang punya gedung atau rumah sudah berhemat setengah mati, kontraktornya juga hemat setengah mati karena mau untung. Akhirnya, ujung-ujungnya membahayakan para pengguna dan pemakai bangunan tersebut. Saya tidak menuduh, tetapi mengkhawatirkan terjadi hal itu pada bangunan tiga atau empat lantai. Kalau kita lihat di kota-kota yang menelan banyak korban itu di bangunan tiga-empat lantai seperti ini," bebernya.

Belajar dari pengalaman evakuasi dan penanganan bencana yang baik di Jepang, gubernur mengatakan akan membahas kondisi infrastruktur Jakarta dalam lingkungan yang terus berubah dengan TPKB. Selain kondisi bangunan, pihaknya juga akan melihat ketersediaan jalan darurat apakah sudah memenuhi standar atau tidak.

Fauzi juga memuji masyarakat Jepang yang tidak panik saat bencana itu terjadi, bahkan tampaknya mereka sudah siap sedia sebelum mengalami bencana itu. Artinya, pemerintah Jepang dan masyarakatnya sudah terlatih dalam menghadapi bencana tersebut. Paling tidak, pemerintah Jepang sudah secara rutin melatih warganya untuk menghadapi bencana yang kerap kali terjadi di negaranya.

“Karena itu, saya minta Sekretaris Daerah sebagai Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah untuk mempelajari, mengevaluasi kejadian tsunami dan gempa di Sendai, Jepang. Kita lihat banyak bangunan tetap kokoh, cara evakuasi jelas dan tepat. Juga Asisten Pembangunan dan Lingkungan Hidup melakukan pengecekan kembali desain konstruksi standar industri Jepang,” ungkapnya.

Selain itu, dinilai perlu pelatihan teratur menghadapi bencana seperti di Jepang diterapkan kepada seluruh lapisan masyarakat, baik di Jakarta maupun di seluruh daerah di Indonesia. Sehingga masyarakat tidak cepat panik bila terjadi bencana, namun terlatih untuk segera melakukan evakuasi dengan tenang. "Latihan dan pelatihan sangat dibutuhkan. Saya kira ini tidak ada di Indonesia. Kita harus melakukan hal yang sama di Jakarta,” ungkapnya.

Hal yang sudah diterapkan di Jakarta, yaitu pelatihan penanganan bencana kebakaran yang harus dilakukan setiap satu tahun sekali.
 


 
Sumber:
Reporter: lenny
BeritaJakarta.com


© 1995 - 2014 Dinas Komunikasi, Informatika dan Kehumasan Pemprov DKI Jakarta
Jl. Medan Merdeka Selatan 8-9 Blok F Lt 1 Telp: (+6221)3822255 Fax: (+6221)3822255 email: dki@jakarta.go.id | site map