Jakarta.go.id
  •  •  English
  •  •  Login
  •  •  Signup
  • Balai Warga 2950

    Handi:

    Mohon agar dokumen Pedoman Lembaga Musyawarah Kelurahan disediakan dalam format yang lebih baik. Saa...

    Lie:

    Pertanyaan lain Pak : 1. Apakah semua warga DKI berhak mendapatkan BPJS tanpa kecuali ? 2. Dimana ...

    Lie:

    Sore Pak, saya ingin bertanya, saya sudah melihat bagian Pegurusan SIUP dan sudah melengkapi persyar...

    Eddy:

    Selamat siang Pak, saya mahasiswa di Jakarta sedang menulis tugas akhir kuliah. Dan berniat mau wawa...

    Faray:

    selamat sore pak, saya mau tanya kalau saya mau lihat laporan saya yang terdahulu bagaimana caranya ...

  

Pembangunan Rumah Susun Sederhana

Posted: Sep 29, 2010 Category: Perizinan
 

Definisi

Rumah Susun adalah Bangunan gedung bertingkat yang dibangun dalam satu Iingkungan yang terbagi dalam bagian-bagian yang distrukturkan secara fungsional dalam arah horizontal maupun vertikal dan merupakan satuan-satuan yang masing-masing dapat dimiliki dan digunakan secara terpisah terutama untuk tempat hunian, yang dilengkapi dengan bagian bersama, benda bersama dan tanah bersama.

Rusuna (Rumah Susun Sederhana) adalah Rumah Susun yang diperuntukkan bagi masyarakat berpenghasilan menengah ke·bawah.

Sarusun (Satuan Rumah Susun) adalah Unit Hunian Rumah Susun yang dihubungkan dan mempunyai akses ke selasar/ koridor/ lobi danlantai lainnya dalam bangunan rumah susun, serta akses ke Iingkungan dan jalan umum.

Masyarakat berpenghasilan menengah bawahdan berpenghasilan rendah adalah Kelompok sasaran keluarga/ rumah tangga termasuk perorangan baik yang berpenghasilan tetap maupun tidak tetap, belum memiliki satuan rumah susun sederhana, belum pernah menerima subsidi satuan rumah susun sederhana dengan berpenghasilan sampai dengan Rp 4.500.000,00 per bulan.

KLB (Koefisien Lantai Bangunan) adalah angka perbandingan jumlah luas lantai seluruh bangunan terhadap luas tanah perpetakan/ daerah perencanaan yang dikuasai sesuai dengan rencana kota.

KDH (Koefisien Dasar Hijau) adalah angka prosentase berdasarkan perbandingan jumlah luas lahan terbuka untuk penanaman tanaman dan/ atau peresapan air terhadap luas daerah perpetakan/ daerah perencanaan yang dikuasai sesuai dengan rencana kota.

Batasan Koefisien Dasar Hijau adalah suatu nilai hasil pengurangan antara luas Daerah Perencanaan dengan luas proyeksi tapak bangunan dan tapak besmen dibagi luas Daerah Perencanaan.

Lingkungan dengan KDB rendah adalah lingkungan dengan tapak bangunan pada lantai dasar maksimal sebesar 20% dari daerah perencanaan.

Insentif dan/ atau kemudahan perizinan adalah Pemberian dari Pemerintah Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta kepada perusahaan pembangunan perumahan di bidang rumah susun sederhana dalam bentuk antara lain penyediaan sarana, prasarana, pemberian bantuan teknis dan fasilitas, keringanan biaya dan kemudahan dalam memperoleh izin pembangunan rumah susun sederhana.

 

Penetapan Lokasi

Penetapan lokasi Rusuna dapat diusulkan oleh pemerintah, Pemerintah Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta, masyarakat maupun pengembang. Penetapan harus sesuai dengan Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta, dan prosedur serta ketentuan peraturan perundang-undangan.

 

Persyaratan dan Jenis Peruntukan

Persyaratan lokasi pembangunan rusuna antara lain sebagai berikut:

  1. Tersedianya sarana dan prasarana berupa:
    1. Rencana jalan paling sedikit 12 meter dan lebar badan jalan eksisting paling sedikit 8 meter;
    2. Saluran air dengan sistem drainase yang baik;
    3. Jalur angkutan umum menuju lokasi; dan
    4. Terjangkau pelayanan jaringan utilitas kota.
  2. Berada pada kawasan peremajaan Iingkungan dan pembangunan baru;
  3. Terhadap pembangunan rusuna pada kawasan peremajaan, maka masyarakat yang tinggal pada kawasan tersebut mendapat prioritas untuk menempati Rusuna yang akan dibangun dan dikembangkan;
  4. Pola pengembangan dan pembangunan rusuna dibatasi sampai dengan luas lahan 3 hektar;
  5. Pada daerah yang memiliki potensi strategis dapat diberikan insentif berupa pengembangan dan pembangunan rusuna lebih dari 3 hektar dengan terlebih dahulu mendapat persetujuan Gubernur dan dikenakan kewajiban tambahan berupa sarana dan prasarana kota sebagai bentuk kontribusi terhadap kota yang besarnya ditetapkan kemudian;
  6. Perencanaan rusuna diwajibkan menyediakan fasum/ fasos paling sedikit 50% dari standar sebagaimana diatur dalam Peraturan Daerah Nomor 6 Tahun 1999, atau mempertimbangkan ketersediaan fasum/ fasos pada Iingkungan sekitarnya, kecuali perbelanjaan niaga untuk melayani kebutuhan Iingkungannya diberikan tambahan luas sampai dengan 100% dari standar yang ditetapkan;
  7. Menyediakan ruang terbuka yang besarannya 2 m2 per jiwa (sebagai ruang gerak pribadi atau personalspace atau tempat bermain) yang berada pada halaman dan/ atau bangunan, dan gerak pribadi tidak boleh difungsikan untuk kegiatan lain, halaman yang digunakan untuk ruang gerak pribadi sekaligus berfungsi sebagai ruang terbuka evakuasi bencana;
  8. Menyediakan sarana dan prasarana bagi penyandang cacat;
  9. Perencanaan pada lantai dasar bangunan hanya untuk fungsi sarana penunjang dan fasum/ fasos dengan luas paling banyak 50% dan sisanya sebagai ruang terbuka tanpa dinding;
  10. Setiap 10 unit hunian menyediakan lokasi parkir satu mobil dan 5 motor dalam halaman persil dan/ atau bangunan;
  11. Perhitungan jumlah penghuni berdasarkan luas lantai, setiap luas lantai hunian 45 m2 gross adalah 4 jiwa;.
  12. Permukaan atap bangunan dibangun sebagai taman (roof garden) dan difungsikan sebagai ruang publik; 
  13. Pada lokasi yang termasuk dalam Kawasan Keselamatan Operasional Penerbangan (KKOP) diperlukan rekomendasi dari instansi berwenang.

Pembangunan Rusuna dapat dilaksanakan pada semua jenis peruntukan, kecuali pada peruntukan penyempurna hijau, suka fasilitas umum, prasarana dan kawasan pemugaran. Bila peruntukannya bukan wisma/ perumahan, maka harus dilakukan proses penyesuaian peruntukan.

 

Penerbitan Perizinan dan/ atau Pemberian Insentif

Pemerintah Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta dapat memberlakukan percepatan dalam hal penerbitan perizinan dan/ atau pemberian insentif dalam rangka pembangunan rusuna di Daerah. Pemberian insentif ditujukan pada pembangunan rusuna yang diperuntukan bagi masyarakat berpenghasilan menengah bawah dan berpenghasilan rendah.

Percepatan penerbitan perizinan dan/ atau pemberian insentif dalam pelaksanaannya dilakukan oleh SKPD/ UKPD terkait. Pemberian insentif intensitas untuk pembangunan rusuna dapat diberikan kelonggaran berupa penyesuaian KLB sepanjang tersedia infrastruktur yang memadai.

Pemberian KLB terbagi dalam 3 typologi:

a. Typologi 1 (PSL Padat) 

  1. Luas Daerah Perencanaan paling sedikit 4.000 m2 dan paling tinggi 30.000 m2;
  2. Kepadatan penduduk paling tinggi 3.500 jiwa per hektar dan KLB paling tinggi 3,5;
  3. Kepadatan penduduk paling tinggi 4.000 jiwa per hektar dengan KLB paling tinggi 4 diizinkan pada lokasi yang berdekatan dengan terminal/ stasiun/ halte yang terkait dengan pengembangan sistem angkutan transportasi umum dalam radius 400 meter.

 b. Typologi 2 (PSL Kurang Padat) 

  1. Luas Daerah Perencanaan paling sedikit 10.000 m2 dan paling tinggi 30.000 m2;
  2. Kepadatan penduduk paling tinggi 30.000 jiwa per hektar dan KLB paling linggi 3;
  3. Kepadatan penduduk paling tinggi 3.500 jiwa per hektar dengan KLB paling tinggi 3,5 diizinkan pada lokasi yang berdekatan dengan terminal/ stasiun/ halte yang terkait dengan pengembangan sistem angkutan transportasi umum dalam radius 400 meter. 

c. Typologi 3 (PSL Tidak Padat) 

  1. Luas Daerah Perencanaan paling sedikit 10.000 m2 dan paling tinggi 30.000 m2;
  2. Kepadatan penduduk paling tinggi 2.500 jiwa per hektar dan KLB paling tinggi 2,5;
  3. Kepadatan penduduk paling tinggi 3.000 jiwa per hektar dan KLB paling tinggi 3 diizinkan pada lokasi yang berdekatan dengan terminal/ stasiun/ halte yang terkait dengan pengembangan sistem angkutan transportasi umum dalam radius 400 meter.

Pemerintah Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta dapat memberikan bantuan pembangunan prasarana dan sarana (Infrastruktur) menuju lokasi. Percepatan penerbitan perizinan dan/ atau pemberian insentif oleh SKPD/ UKPD terkait diberikan kepada pihak ketiga/ pengembang yang melaksanakan pembangunan rusuna di Daerah.

Selain percepatan penerbitan perizinan dan/ atau pemberian insentif diberikan keringanan terhadap pengenaan retribusi atas pelayanan yang dimohonkan. Pemberian keringanan retribusi tentang rusuna ditetapkan oleh Menteri Negara Perumahan Rakyat.

 

Pembinaan, Pengendalian dan Pengawasan 

  1. Pembinaan terhadap pelaksanaan percepatan pembangunan rusunadikoordinasikan oleh Asisten Pembangunan dan Lingkungan Hidup;
  2. Pengendalian terhadap pelaksanaan percepatan pembangunan rusuna dilaksanakan oleh Kepala Dinas Tata Ruang;
  3. Pengawasan teknis terhadap pelaksanaan percepatan pembangunan rusuna dilaksanakan oleh Kepala Dinas Perumahan dan Gedung Pemerintah Daerah;
  4. Pengendalian fungsional terhadap pelaksanaan peraturan ini dilakukan oleh aparat pengawasan fungsional sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

  

Kemitraan

Pemerintah dan Pemerintah Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta dapat bekerja sama dengan pihak ketiga/ pengembang dalam memanfaatkan aset yang dimiliki untuk pembangunan rusuna. Kerja sama harus dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

 

Evaluasi dan Pelaporan

Hasil pengendalian terhadap pelaksanaan percepatan pembangunan rusuna yang dilaksanakan oleh Kepala Dinas Tata Ruang, dilakukan evaluasi sekurang-kurangnya 3 bulan sekali atau sewaktu-waktu sesuai kebutuhan.

Pelaporan dalam rangka percepatan pembangunan rusuna di daerah dilakukan secara berjenjang dengan tahapan sebagai berikut:

  1. Pengembang yang mendapat ketentuan khusus dalam penerbitan perizinan dan/ atau pemberian insentif wajib memberikan laporan sekurang-kurangnya 3 bulan sekali kepada Gubernur melalui Asisten Pembangunan dan Lingkungan Hidup;
  2. Asisten Pembangunan dan Lingkungan Hidup melaporkan kegiatan penyelenggaraan pembangunan rusuna di daerah kepada Menteri Koordinator Bidang Perekonomian selaku Ketua Tim Koordinasi Percepatan Pembangunan Rumah Susun di Kawasan Perkotaan melalui Menteri Dalam Negeri sekurang-kurangnya 3 bulan sekali atau sewaktu-waktu sesuai kebutuhan.

Laporan yang disampaikan oleh pengembang sekurang-kurangnya harus memuat tentang:

  1. Laporan ketentuan khusus penerbitan perizinan dan/ atau pemberian insentif yang diperoleh;
  2. Laporan pengelolaan dan penyelenggaraan pembangunan rusuna; dan
  3. Laporan rencana kegiatan pengembangan rusuna.

 

Sanksi

Pelanggaran terhadap ketentuan peruntukan pembangunan Rusuna dan ketentuan pemberian KLB, dikenakan sanksi administrasi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Terhadap ketentuan khusus penerbitan perizinan dan/ atau pemberian insentif, dapat ditinjau kembali apabila:

  1. Pengembang tidak melaksanakan ketentuan peraturan perundang-undangan yang terkait dengan pemberian perizinan dan keringanan retribusi dalam rangka percepatan pembangunan rusuna di Daerah;
  2. Bertentangan dengan ketentuan peraturan perundang-undangan dalam pelaksanaannya.


 

Sumber: Peraturan Gubernur Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta, Nomor 27 Tahun 2009 tentang Pembangunan Rumah Susun Sederhana.

Link: http://www.jakarta.go.id/jakv1/produkhukum/category/8/225/


© 1995 - 2014 Dinas Komunikasi, Informatika dan Kehumasan Pemprov DKI Jakarta
Jl. Medan Merdeka Selatan 8-9 Blok F Lt 1 Telp: (+6221)3822255 Fax: (+6221)3822255 email: dki@jakarta.go.id | site map