
Piare Calon Pengantin
| Posted: Jan 01, 2010 Category: Pengantin Betawi |
Jakarta.go.id - Calon pengantin dirawat atau dipiare selama seminggu seminggu atau sepuluh hari, dilakukan oleh seorang wanita yang khusus menangani hal tersebut. Selama dirawat calon pengantin tersebut minum jamu pengantin dan air secang, memakai lulur serat menjalani beberapa pantangan.
Misalnya tidak boleh bercermin, tidak boleh mandi, tidak boleh menukar pakaian, makan gorengan, dan sebagainya, semua ini dimaksudkan agar calon pengantin tersebut menjadi singset atau langsing sehingga kelihatan lebih cantik, bercahaya wajahnya/kulitnya pada waktu dirias, selama itu juga dimaksud agar calon pengantin tidak banyak mengeluarkan keringat.
Pada masa itu ada kebiasaan bahwa calon pengantin sebelum siraman, giginya dipapat (diratakan), hal ini sekarang sudah tidak dijalankan lagi. Papat dimaksudkan untuk mempercantik calon pengantin tersebut.
Sehari sebelum hari pernikahan atau pagi harinya, biasanya akad nikah dilaksanakan pada hari Jum'at, setelah ashar calon pengantin dimandikan oleh tukang piare pengantin/perawat pengantin.
Sebelum upacara mandi, calon pengantin meminta izin orang tuanya dengan menemuinya dan mencium tangannya, pengantin memakai kemben serta kebaya tipis, rambut disanggul biasa dan mengenakan kerudung tipis.
Yang memandikan hanya tukang piare pengantin (kecuali ada permintaan lain dari pihak keluarga, misalnya disertakan juga beberapa orang tua). yang lain hanya menyaksikan saja.
Perlengkapannya adalah :
- Kembang 7 rupa (setaman)
- Paso tanah
- Gayung batok
- Pedupan dengan setanggi/gahru yang diletakkan di bawah bangku tempat penganti duduk
Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan oleh keluarga pengantin pakaian bekas mandi diberikan kepada tukang Piare Pengantin sebagai hadiah.
Setelah upacara mandi, pengantin menjalani upacara tangas atau kum (semacam mandi uap) untuk membersihkan bekas-bekas lulur dari pori-pori dan membuat kulit pengantin menjadi wangi serta tidak mengeluarkan keringat pada waktu rias.
Peralatannya adalah :
- Kembang 7 rupa (kembang setaman)serta ramuan lainnya seperti : Daun jeruk purut, daun pandan, akar wangi, daun mangkok dll
- Paso tanah
- Kursi rotan bolong-bolong
- Tikar atau kain penutup
Kembang 7 rupa (kembang setaman)dan ramuan-ramuan dimasak, lalu dituang kedalam paso. Pengantin duduk dikursi rotan bolong-bolong, yang dibawahnya diletakkan paso yang berisi air panas, kembang, ramuan-ramuan lainnya. sehingga uapnya naik ke atas. Seluruh badan pengantin dikerudungi dengan kain atau dikelilingi tikar dan atasnya ditutup dengan kain.
Hal ini dimaksudkan agar uap tidak keluar, tetapi meresap ke pori-pori dan membersihkan sisa-sisa lulur tersebut.
Setelah ditangas pengantin dikeringkan dan mengenakan kebaya Betawi, selanjutnya diserahkan kepada tukang rias pengantin untuk menjalani upacara cukuran. Upacara cukuran berlangsung didalam kamar pengantin.
Peralatannya :
- Kain putih kurang lebih 2 meter untuk alas
- Kembang 7 rupa (kembang setaman)
- Air putih dicawan dengan sekuntum bunga mawar atau lainnya untuk tempat gunting
- Pedupaan
- Alat cukur
- Uang logam ratusan untuk batas centung (satu kali lipatan) dan untuk batasan mencukur anak rambut
- Tempat sirih komplit
Yang dibersihkan adalah : bulu-bulu kalong pada kening,pelipis dagu, tengkuk
Setelah upacara cukuran selesai, malam harinya pengantin menjalani upacara malam pacar.
Lepas sembahyang magrib keluarga dan para handai taulan serta teman-teman pengantin berkumpul dan bersiap-siap untuk memulai acara ini.
Dengan mengenakan baju none yang cerah atau kebaya kerancang Betawi, dengan perhiasan Betawi seperti : peniti rante, pending, anting-anting atau giwang.
Pengantin keluar dari kamar dibimbing orang tua perempuan dan perias pengantin menuju tempat yang telah disediakan.
Di atas permadani yang terhampar, ada bantal yang dialasi oleh daun pisang yang digubah.
Setelah siap, pemakaian pacar dimulai yaitu pada kuku-kuku tangan, kaki dan telapak tangan.
Yang membubuhkan pacar adalah anak-anak gadis atau kawan-kawan pengantin serta kerabat. Untuk keperluan ini digunakan daun pacar yang didapat dari mekah.
Pada malam ini biasanya diadakan pula malam mauludan atau selamatan.
referensi : Pengantin Betawi, Dinas Kebudayaan DKI Jakarta, 1989
sumber : Dinas pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta






