Jakarta.go.id
  •  •  English
  •  •  Login
  •  •  Signup
  • Balai Warga 2953

    Nadia:

    Yth. Admin Balai Warga, Sehubungan dengan pertanyaan Ibu Anna, mohon info terkait dengan statistik ...

    anna:

    selamat sore pak... adakah peraturan mengenai perlindungan anak di jakarta?.. jika iya.. bisakah pe...

    Nala Jati:

    Hai jakarta.go.id, untuk wilayah RW 3, Kelurahan Petogogan, Kecamatan Kebayoran Baru, Jakarta Selat...

    Handi:

    Mohon agar dokumen Pedoman Lembaga Musyawarah Kelurahan disediakan dalam format yang lebih baik. Saa...

    Lie:

    Pertanyaan lain Pak : 1. Apakah semua warga DKI berhak mendapatkan BPJS tanpa kecuali ? 2. Dimana ...

  

Wayang Kulit

Posted: Nov 01, 2009 Category: Wayang
 

wayangJakarta.go.id - Melihat beberapa persamaannya yang terdapat pada wayang kulit sepanjang pantai utara Jawa Barat, dari Cirebon sampai Tangerang, tampaknya wayang Betawi merupakan degradasi beranting dari Jawa Tengah sampai Jakarta dan sekitarnya.

Wayang kulit Betawi dalam bentuknya dewasa ini, di iringi gamelan logam. Beberapa orang dalang lanjut usia, seperti : Neran (75 tahun) di Cibubur, Kapang (82 tahun) almarhum di Kampung Buek, Tambun dan Belentet kampung rawa Ruko, Tambun, Bekasi, mengatakan bahwa sampai tahun dua puluhan pergelaran Wayang Betawidi daerah DKI Jakarta dan sekitarnya masih lazim di iringi gamelan bambu, yang bentuknya seperti calung Banyumas.

Seperti lazimnya pergelaran wayang kulit, wayang kulit Betawi juga biasa menggunakan kelir, yang menurut istilah setempat biasa disebut kore. Alat musik pengiringnya terdiri dari gendang, terompet, (ada juga menggunakan rebab), dua buah saron, keromong, kedemung, kecrek, kempul dan gong.

Pergelaran wayang kulit Betawi adalah dilaksanakn dalam bentuk arena, dengan pentas sejajar dengan penonton. Pada umumnyta bermain di atas tanah di bawah "tarub" di halaman rumah. Baru akhir-akhir ini beberapa dalang mulai mengadakan pergelaran di atas panggung.

Lakon-lakon yang dipergelarkan dalam wayang Betawi kebanyakan lakon carangan "dari Mahabarata", dengan cerita-cerita yang khas Betawi, seperti "Bambang Sinar Matahari", "Barong Buta Sapujagat", "Cepot Jadi Raja" "Banteng Ulung Jiwa Loro", "Perabu Takalima Danawi", "Kunpayakun", "Sadariah KOdariah" dan sebagainya. Pada perkembangan kemudian banyak juga membawakan lakon-lakon wayang golek Sunda, seperti "Sang Hiyang Rancasan", "Kresna Malang Dewa Sukma", dan lain-lain. Menurut istilah Dalang Kapang, Neran, Saman dan Sa'an. Mereka dianggap memiliki kemampuan spiritual yang tinggi, mencukupi syarat melakukan "ruwatan", dengan pertunjukkan khusus, membawakan lakon Nurwakala, yang menurut istilah setempat disebut lakon "Betara Kala", disertai sesajen lengkap untuk keperluan itu.

Dalang wayang kulit Betawi dewasa ini antara lain Neran, Niin, di Cibubur, Oking, Kamplong di Munjul, Asmat di Cijantung, Marjuki di Cakung; Comong di Pulo Jae, Jakarta Timur. Di Jakarta Selatan terdapat dalang Bonang dan Sa'an Jagakarsa. Di Jakarta Barat adalah antara lain dalang Usman dan Jari di Cengkareng.

 
 

refeerensi :DINAS KEBUDAYAAN DAN PERMUSEUMAN PROPINSI DKI JAKARTA, Ikhtisar Kesenian Betawi, 2003

sumber :DINAS PARIWISATA DAN KEBUDAYAAN


© 1995 - 2014 Dinas Komunikasi, Informatika dan Kehumasan Pemprov DKI Jakarta
Jl. Medan Merdeka Selatan 8-9 Blok F Lt 1 Telp: (+6221)3822255 Fax: (+6221)3822255 email: dki@jakarta.go.id | site map