
Si Amat
| Posted: Jan 01, 1990 Category: Cerita Rakyat Betawi |
Jakarta.go.id - Si Amat seorang yang malas luar biasa. Setiap hari kerjanya hanya mengilik-ngilik telinga dengan bulu ayam. Karenanya ia tak dihiraukan oleh orang-orang. Pada suatu hari seorang tetangganya mengadakan selamatan. Semua orang di kampungnya diundang. Hanya Si Amat saja yang tidak. Bahkan tak ada seorang pun yang ingat untuk mengajaknya. Saat selamatan berlangsung, terdengarlah suara puji-pujian berzanzi dari rumah itu. Si Amat mendengarkan dari samping rumah itu. Terbayanng di benaknya, berbagai juadah panganan yang disuguhkan orang selamatan. Tak kuasa Si Amat menahan titik air liurnya. Karena sangat inginnya menikmati panganan berkat selamatan, Si Amat menjadi kesal. Pikirnya, sungguh tak adil, semua orang diundang sedang dirinya tidak. Makin keras berzanzi berkumandang, makin gusar hati Si Amat.
Akhirnya timbullah akal Si Amat. Diambilnya sebatang pelepah pisang. Ditekuknya pelepah pisang menjadi tiga bagian, lalu dipasak dengan lidi. Jadilah sebuah kuda-kudaan.
Selagi orang mengumandangkan selawat, Si Amat asyik bermain kuda-kudaan. Ia berlari-lari dan melompat-lompat mengelilingi rumah yang sedang selamatan itu.
Tingkah Si Amat tentu saja membuat orang yag tengah membaca selawat merasa terganggu. Pemilik rumah pun lama-kelamaan menjadi gusar, ia pun keluar dan menegur Si Amat. "He Amat, apa kau sudah gila? Macam anak kecil saja kelakuanmu itu".
"Jika aku bukan anak keci, tentulah aku diundang selamatan". Sahut Si Amat seenaknya, ia pun terus saja melompat-lompat dengan kuda-kudaan pelepah pisangnya.
Referensi : Dinas Kebudayaan dan Permuseuman, Cerita Rakyat Betawi, 2004
Sumber : Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta






