
Ngelamar
| Posted: Jan 01, 1990 Category: Pengantin Betawi |
Rombongan pelamar terdiri dari :
- Mak Comblang yang akan bertindak selaku juru bicara.
- Dua pasang pria dan wanita setengah baya sebagai utusan yang mewakili orang tua laki-laki.
Yaitu sepasang dari pihak ayah dan sepasang dari pihak ibu.
Sesuai dengan adat kebiasaan utusan tersebut membawa kelengkapan ngelamar yang disebut bawaan ngelamar yang terdiri dari :
- Pisang raja dua sisir dibawa di atas nampan yang dihiasi dengan kertas warna-warni. Setiap ujungnya ditutup dengan cungkup kertas minyak berwarna hijau, kuning atau merah
- Roti tawar dibawa di atas nampan dihias dengan kertas warna-warni.
- Uang sembah lamaran, hadiah lainnya berupa baju atau bahan pakaian wanita.
Setibanya di rumah kediaman keluarga si gadis mereka langsung diterima oleh tuan rumah dan dipersilahkan duduk di ruang depan. Mak Comblang memulai pembicaraan, mengenai maksud kedatangannya :
Mak Comblang : '"Assalamu Alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh'"
Hadirin : "Waalaikum Salam Warohmatullahi Wabarakatuh"
Mak Comblang : "Saya niih sekarang nerusin pembicaraan nyang lalu ketike kite udeh paketan nyang saye udeh boleh ngelamar kemarin"
Wakil keluarga tuan rumah biasanya akan membenarkan dengan mengatakan : "Saye......."
Jawaban tersebut biasanya diikuti dengan anggukan seluruh keluarga tuan rumah.
Setelah melihat tanda persetujuan tersebut baik dari pihak tuan rumah maupun pihak keluarga si pemuda yang menyertainya maka dengan nada gembira Mak Comblang meneruskan berkata : "Jadi.......sekarang Mpok dan Abang wakil tuan rume, seperti nyang kite liat' ni, ade bawa'an Sirih Embun komplet ame perangkatnye. Tapi sebelum diterima bawa'an ini, mohon maaf sebesar-besarnya kalau disini saya mau nanya dikit "Wakil keluarga tuan rumah: Nanya apa Mpok?"
Mak Comblang : "Kite udeh nyampe.....tapi, mane die si none calon mantu kite? Yah....orang kate, Ncang dan Ncingnye ikut saye kesini pengen belajar kenal ame None Mantunye. Boleh kan?"
Sebagai dari pertanyaan ini adalah keharuasan menghadirkan None Calon Mantu kehadapan para utusan. Kepada para utusan tersebut si gadis harus melakukan sembah takzim dan cium tangan. Setelah itu diserahkan uang sembeh lamaran yang khusus diberikan kepada si gadis calon menantu tersebut.
Setelah acara ngelamar selesai maka dilanjutkan dengan pembicaraan mengenai serah uang dan Bawa Tande Putus. Acara Bawa Tande Putus adalah merupakan unsur yang menentukan dalam rangkaian adat perkawinan Betawi. Karena sebelum bawa tande putus disepakati mungkin saja maksud tersebut menemui kegagalan. Sebab meskipun acara ngelamar telah dilaksanakan bukan berarti si pemuda telah berhasil mengalahkan pemuda lain yang merupakan saingannya.
Apabila waktu serah uang dan bawa tande putus telah disepakati maka persiapannya akan dibicarakan secara lebih rinci seperti :
- Apa dan berapa banyaknya tande putus.
- Berapa biaya yang diperlukan untuk keperluan pesta.
- Berapa lama atau berapa hari pesta itu akan diselenggarakan.
- Berapa perangkat pakaian upacara perkawinan yang akan dikenakan pengantin perempuan.
- Siapa dan berapa banyak undangan.
Seperti diketahui bahwa dikalangan masyarakat Betawi semua hari itu sama baiknya. Tdak ada hitungan atau ramalan mengenai hari baik atau jelek.
Tapi pada umumnya peristiwa ngelamar sering dilakukan atau dilaksanakan pada hari Rabu. Maka biasanya acara serah uang dan bawa Tande Putus akan dilaksanakn pada hari Rabu berikutnya atau seminggu kemudian.
Mas kawin
Di dalam pembicaraan pada waktu ngelamar ditanyakan pula bentuk mas kawin yang dikehendaki oleh None Mantu dan apabila dijawab dengan kata-kata si None Kite minta mate bandeng seperangkat itu adalah kata kiasan yang berarti bahwa si calon menantu menghendaki mas kawin berupa perhiasan berlian seperangkat. Begitu pula halnya dengan mas kawin berupa mate kembung seperangkat berarti mas kawin yang diminta adalah perhiasan bermata intan asli seperangkat.
Biasanya baik Mak Comblang maupun utusan keluarga calon Tuan Mantu akan memahami kata-kata bersayap ini.
Berdasarkan pembicaraan tentang mas kawin ini pihak Tuan Mantu harus bisa memperkirakan berapa jumlah Tande Putus yang harus merka bawa pada waktu ketemu Rebo nanti.
referensi : Dinas Kebudayaan DKI Jakarta, Pengantin Betawi, 1989
sumber : Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta






