Jakarta.go.id
  •  •  English
  •  •  Login
  •  •  Signup
  • Balai Warga 3052

    Nala Jati:

    Hai Pemprov DKI Jakarta, saya hendak menanam satu pohon dihalaman muka rumah yang lahannya sudah say...

    dedi:

    pak gub tlg di sidak sekali2 kelurahan kalibaru kecamatan cilincing,kasie pemerintahan&trantib; seri...

    linda:

    Selamat sore... Mohon informasi bagaimana cara pengurusan pembuatan AKTE KEMATIAN dan persyaratan ap...

    Faqih:

    Lapor, Dibelakang Asrama Brimob Cipinang banyak warga yang mendirikan bangunan di atas aliran sungai...

    Mohamad:

    Mohon konfirmasinya apakah KTP model lama masih berlaku pada tahun 2015 nanti? saya sudah hampir 2 t...

  

Kampung Krukut

Posted: Jul 14, 2009 Category: Kampung Tua » Lihat Peta Lokasi
 

Kelurahan Krukut termasuk kampung tua dan padat penduduknya. Letak Kelurahan Krukut dengan luasnya kurang lebih 55,05 ha ini diapit oleh dua aliran sungai yaitu sungai Ciliwung dan sungai Cideng, sungai Ciliwung berada di sebelah Timur sedangkan sungai Cideng berada di sebelah Barat. Adapun batas-batas wilayah Kelurahan Krukut adalah sebagai berikut :

- Sebelah Timur    : Jl. Gajah Mada dan kali Ciliwung, berbatasan dengan Kelurahan Mahpar.

- Sebelah Utara     : Jl. Kerajinan berbatasan dengan kelurahan Keagungan.

- Sebelah Barat     : berbatasan dengan Jl. Thabib III atau kali Krukut dan Kelurahan Tanah Sareal.

- Sebelah Selatan : Jl. K.H. Zaenal Arifin dan berbatasan dengan wilayah Kelurahan Petojo.

Pada mulanya Kelurahan Krukut merupakan daerah yang sangat jarang penduduknya. Penduduk yang menghuni daerah ini adalah orang-orang Betawi/Jakarta Asli. Tetapi oleh karena letaknya yang strategis karena diapit oleh dua aliran sungai, yaitu sungai Ciliwung sebelah Timur dan sungai Cideng sebelah Barat termasuk jalur transportasi sungai yang mudah, maka jalur pelayaran perdagangan dari Batavia (dahulu Bandar Jakarta) ke daerah pedalaman melewati daerah ini sehingga tempat ini menjadi ramai.

Hilir mudiknya para pedagang yang kebanyakan berasal dari Arab dan Cina tersebut ke kampung Krukut ini disebabkan juga oleh karena daerah tersebut merupakan lahan yang agak terbuka dan telah dihuni pula oleh penduduk Betawi asli dan sedikit orang-orang Jawa. Kemudian orang-orang Arab dan Cina tersebut memutuskan untuk menetap di kampung Krukut. Dengan demikian penduduk Betawi/Jakarta yang semula telah tinggal di kampung Krukut lama kelamaan tergeser oleh desakan kedatangan orang-orang Arab dan Cina yang jumlahnya makin lama menjadi banyak. Sehingga penduduk Betawi Asli ini menyebar ke daerah seberah Barat yang dahulunya merupakan daerah persawahan dan empang-empang. Perkembangan berikutnya, orang-orang Arab menjadi penduduk mayoritas di Krukut disusul orang Betawi dan Cina, sehingga pada kelanjutan kehidupan bermasyarakat dari ketiga kelompok etnis di Kampung Krurut ini mengakibatkan terjadinya kompetisi di kampung juga mengakibatkan penduduk Kampung Krukut menjadi padat.

Diantara para pendatang ini ada pula orang-orang Jawa, Sunda, Banten, Bugis dan lain-lain. Tetapi setelah mereka saling berinteraksi dan berbaur dengan penduduk asli, Arab dan Cina merekapun akhirnya dapat menjalin hubungan dengan baik. Orang-orang yang Arab semula merupakan mayoritas, baik dalam jumlahnya maupun dibidang perdagangan akhirnya kedudukan mereka dapat tergeser dari kampung Krukut oleh orang-orang Cina sehingga banyak dari mereka yang berpindah tempat ke daerah Tanah Abang, Petamburan, Jatinegara dan lainnya, bahkan ada pula yang pergi ke daerah Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat dan daerah lainnya.

Memperoreh informasi tentang asal-usul nama suatu kampung yang sifatnya akurat merupakan suatu hal yang sulit untuk dilakukan. Oleh karena sumber informasi yang sifatnya akurat hanya dapat diperoleh langsung dari orang yang pernah mengalami kejadian atau peristiwa penamaan kampung yang bersangkutan dengan kata lain ia turut terlibat langsung dalam pemberian nama kampung tersebut. untuk itu dalam memperoreh informasi tentang asal-usul nama Kampung Krukut yang telah tergolong ke dalam kampung yang sangat tua ini, hanya dapat diperoreh informasi yang bersifat sekunder dari beberapa sumber dengan didalamnya masih terdapat beberapa perbedaan pendapat dan pandangan tentang asal-usul nama Kampung Krukut tersebut. Informasi yang bersifat sekunder disini adalah bahwasanya sumber tersebut di dapat dari orang yang hidup pada generasi berikutnya.

Adapun sumber informasi yang diperoleh tentang asal-usul terbentuknya nama Kampung Krukut terdapat beberapa pendapat, diantaranya :

Krukut berasal dari nama buah Krokot yang tumbuh banyak dan subur di daerah Kampung tersebut.

Krukut berasal dari nama sindiran yang diberikan oleh orang-orang Betawi kepada orang-orang Arab yang hidupnya sangat hemat, yang artinya pelit/kikir, yang semula namanya kedekut, namun diganti dengan Krukut, agar orang-orang Arab tersebut tidak terlalu tersinggung.

Nama Krukut berasal dari bahasa Belanda "Kerkhof" yang artinya kuburan, karena dahulu Kampung Krukut tersebut , merupakan daerah kuburan orang-orang pribumi.

Penduduk yang menempati daerah Kampung Krukut pada mulanya hanyalah orang-orang Betawi asli serta beberapa orang Jawa, namun kemudian datanglah orang-orang Arab dari Handramaut, mereka datang dengan tujuan berdagang. Kedatangan orang-orang Arab inipun diterima dengan baik oleh penduduk asli tersebut karena terdapat persamaan agama, yaitu agama lslam. Walaupun sebelumnya orang-orang Arab ini mendatangi Kampung Krukut ini hanya sebagai tempat berdagang saja, namun lama kelamaan mereka malah menjadi penduduk tetap di Kampung Krukut ini. Maka untuk selanjutnya orang-orang Arab ini menikahi wanita-wanita pribumi dan mempunyai keturunan yang banyak, sama dengan populasi penduduk pribumi sendiri. Tingkat penduduk Arab yang mayoritas ini diikuti pula dengan tingkat kewajiban dalam sistim perdagangannya.

Namun tidak lama kemudian karena terbukanya perdagangan dengan dunia luar, serta banyaknya saingan dalam dunia perdagangan seperti orang-orang Cina dan suku bangsa lainnya, maka orang-orang Arab pun mengalami kesulitan di bidang ekonomi, sehingga banyak diantara mereka yang pindah ke daerah di luar Kampung Krukut, terlebih dahulu menjual rumah dan tanah mereka kepada orang-orang Cina dan suku bangsa lainnya.

Karena meningkatnya penduduk yang sangat pesat serta terbukanya usaha-usaha di bidang lain, menyebabkan orang-orang Arab yang tinggal di kampung Krukut tinggal beberapa orang saja.

Kampung Krukut memiliki sejarah yang hampir seumur dengan lahirnya kota Jakarta. Nama Kampungnya tetap bertahan sejak masa Jayakarta dahulu sampai masa Daerah Khusus lbukota (DKI) Jakarta, walaupun telah beberapa kali mengalami pergantian dan perubahan sistim pemerintahan wilayah administratif. Pada masa pemerintahan Belanda kurang lebih tahun 1620 pada saat itu Batavia dipimpin oleh Jan Pieterszoon Coen, Kampung Krukut menurut pengaturan sistim administrasi saat itu terbagi ke dalam 3 (tiga) orang pemimpin Kapiten, yang masing-masing memimpin golongannya, yaitu Kapiten Arab, Kapiten Cina dan Kapiten Betawi.

Pada tahun 1905-1942 Kampung Krukut masuk wilayah Kelurahan Krukut, Kecamatan Penjaringan (Onderdistrik Penjaringan) Distrik Batavia. Adapun kampung-kampung lain yang termasuk ke dalam Kelurahan Krukut meliputi Pacebokan, Tanah Sareal, Krukut, Petojo Ilir dan Gang Chasee/Jl. Pembangunan.

Pada tahun 1942 pada saat pemerintahan Jepang Kampung Krukut masuk ke dalam wilayah Penjaringan Shiku. Pada tahun 1950-1964 yaitu pada masa Kotapraja Jakarta Raya Kampung Krukut masuk wilayah Kecamatan Krukut, Kawedanan Penjaringan.

Pada tahun 1964 Kampung Krukut masuk wilayah Mangga Dua, Jakarta Pusat pada tahun 1966 Kampung Krukut masuk wilayah Kecamatan Taman Sari, Jakarta Barat.

Di Kampung Krukut terdapat pula peninggalan-peninggalan sejarah yang cukup penting dan sampai sekarang masih terawat dengan baik misalnya : Gedung Arsip Nasional dibangun pada tahun 1760 oleh Gubernur General Reiner de Klerk, yang terletak di Jalan Gajah Mada No. III.

Mesjid Krukut yang dibangun pada tahun 1786 dengan luasnya 1.000 m2. Mesjid ini masih digunakan sebagai tempat kegiatan ajaran-ajaran Islam dan tertetak di Jl. Kejayaan.

Makam Diazudin dibangun pada masa pemerintahan Belanda dan merupakan makam seorang pahlawan Kemerdekaan yang sebelumnya tidak dikenali.

Penduduk kampung Krukut memiliki keanekaragaman pada corak kehidupan sosial budayanya. Adapun penduduk kelurahan Krukut yang terdiri dari orang-orang Betawi, Arab, cina, Jawa, Sunda, dsb. memungkinkan timbulnya berbagai corak bentuk perilaku sosial dan budayanya. Namun seperti juga keberadaan kampung-kampung lainnya di kota Jakarta, penduduk Kelurahan Krukut juga masih cukup teguh dalam memegang adat dan tradisinya. Gotong royong yang merupakan ciri dari masyarakat tradisional, masih melekat erat dalam kehidupan sosial budaya penduduk Kampung Krukut. Sifat dari kegotong-royongan penduduk Kampung Krukut ini dapat dilihat dari keaktifan setiap warganya bila ada kegiatan-kegiatan sosial yang bermanfaat bagi penduduk kampung Krukut itu sendiri. Begitu pula bila ada musibah kematian dan kebakaran, mereka saling memberikan bantuan baik bersifat materi maupun moril. Bila dilihat dari komposisi penduduknya yang terdiri dari orang-orang Betawi, Arab maupun Cina dan Jawa serta Sunda, maka perbedaan-perbedaan terhadap tata cara adat istiadat dalam hubungannya dengan tingkah laku sosial budayanya tentu secara mencolok akan dapat terlihat, yang dapat menimbulkan kemungkinan timbulnya pertentangan yang tajam, namun berkat kesadaran masing-masing pihak akan eksistensinya sebagai warga Negara Indonesia yang baik, maka hal itu bukanlah suatu persoalan.

Kampung Krukut yang terletak di kawasan jalur lalu lintas perdagangan serta pusat-pusat kegiatan ekonomi, mempengaruhi terhadap jenis mata pencaharian bagi setiap penduduk Kampung Krukut. Oleh karena itu sebagian penduduk Kampung Krukut mempunyai mata pencaharian yang bergerak dalam sektor perdagangan. Maka tak heran apabila di daerah Kampung Krukut ini terdapat banyak toko, gudang, usaha material, konveksi, bermacam kantor PT atau CV, hingga ke warung-warung nasi di pinggir-pinggir lorong.

Pendidikan yang diperoleh maupun yang terdapat di Kelurahan Krukut pada dasarnya tidak jauh berbeda dengan tingkat pendidikan yang telah diperoleh oleh penduduk kampung lainnya. Sarana pendidikan di Kelurahan Krukut sudah cukup memadai dalam turut menunjang program wajib belajar.

Namun dari keseluruhan jumlah sekolah yang terdapat di Kelurahan Krukut ini yang jumlah penduduknya mencapai 23.140 orang, masih dikatakan kurang memadai. Maka untuk pemerataan dalam pemerolehan pendidikan, sebagian dari mereka yang masih termasuk kedalam usia wajib belajar harus bersekolah dengan menggunakan sarana-sarana pendidikan yang terdapat diluar daerah Krukut.

Penduduk Kampung Krukut merupakan penduduk yang tergolong taat beribadah. Walaupun penduduk Kampung Krukut ini terdiri atas berbagai golongan kelompok etnis, yaitu orang-orang Betawi, Arab, Cina serta suku bangsa lainnya, namun mereka mampu untuk saling hidup berdampingan secara rukun.

Seperti yang telah kita pahami bersama bahwasanya melalui suatu bahasa, kebudayaan suatu bangsa akan dapat terbentuk dan dibentuk dengan suatu usaha pembinaan dan usaha perkembangannya dari generasi ke generasi berikutnya. Bahasa memiliki kekuatan dalam mengarahkan manusia kedalam usahanya untuk saling berinteraksi dan menyesuaikan diri dengan segala macam kegiatan di lingkungannya baik secara fisik maupun secara sosial budaya.

Penduduk Kampung Krukut dari golongan tiga etnis/golongan yaitu Betawi, Arab dan Cina dengan disadari ataupun tidak mereka telah terlibat ke dalam suatu usaha interaksi serta penyesuaian diri dalam lingkungan masyarakat dimana mereka tinggal dan menetap dalam kehidupan bermasyarakat dengan segala perbedaan sosial budaya, adat istiadat maupun tingkat intelektualnya. Keragaman warga di Kampung Krukut ini mengakibatkan timbulnya sedikit perbedaan yang khas sifatnya dalam menggunakan bahasanya, istilah-istilah baru timbul dari hasil interaksi komunikasi mereka yang saling mengisi dan mempengaruhi. Beberapa contoh dari istilah-istitah atau kata-kata yang telah menjadi akrab di telinga kita, misalnya :

a. Dari bahasa Arab : Ana (saya), Ente (kamu), Fulus (uang), Babe (ayah), Ganis (jatuh) dan  sebagainya;

b. Dari bahasa Cina : Gopek (Rp 500), Cepek (Rp 100), Enci, Engko dan sebagainya;

c. Dari bahasa daerah : Modar (mati), Loyo (lemas), Kapok (sadar), Bacot (bicara), Ngeriung (berkumpul) dan sebagainya.

Namun demikian masih banyak di kalangan orang-orang Arab dan Cina yang mempergunakan bahasa ibu mereka dikalangan keluarga mereka. Hal itu mungkin untuk melestarikan bahasa nenek moyang mereka sendiri.

Adat istiadat dan tradisi lama maupun yang masih diterapkan yang melingkupi kehidupan penduduk Kampung Krukut, kebanyakan mengacu pada ajaran-ajaran Islam, hal itu disebabkan oleh karena mayoritas penduduk Kampung Krukut adalah beragama Islam. Tradisi- tradisi yang masih bernapaskan ajaran Islam ini terutama mewarnai kegiatan-kegiatan besar yang dilakukan oleh penduduk Kampung Krukut ini. Adapun tradisi-tradisi tersebut seperti saat-saat perkawinan, meminang, kehamilan, kelahiran, khitanan dan kematian. Ciri-ciri kegiatan yang termasuk kedalam tradisi lama maupun yang masih berlaku di Kampung Krukut masih dapat kita lihat pada tradisi-tradisi besar yang diadakan oleh penduduk Kampung Krukut sebagaimana diatas tadi, diantaranya :

a. Pada tradisi perkawinan

Keluarga yang baru menikah masih tinggal serumah sementara dengan mertuanya. Ada tiga jalan dalam menentukan pasangan perkawinannya, yaitu :

- Berdasarkan pilihan orang tuanya;

- Berdasarkan peraturan yang dilakukan oleh makcomblang dalam menghubungkan kedua pasangan tersebut;

- Berdasarkan pendekatan kepada orang yang berkuasa (dedengkot), bila calon pasangannya tinggal jauh di luar kampung. Kalau bagi orang-orang Arab dan Cina pada waktu itu, hanya kaum prianya saja yang diijinkan untuk dapat menikah dengan wanita pribumi, sedangkan wanitanya tidak diijinkan.

b. Pada tradisi meminang

- Keluarga calon pengantin pria datang melamar kepada keluarga calon pengantin wanita, dengan sebelumnya memberitahukan terlebih dahulu dengan disaksikan oleh para tetua yang dihormati di kampung tersebut.

- Di saat melamar keluarga calon pengantin pria membawa 40 macam jenis makanan dan kue yang disukai oleh calon pengantin wanita, dengan menggunakan nampan kayu yang terukir indah berbentuk persegi panjang, wadah ini disebut Sial-Sial.

- Dalam masa pertunangan, calon pengantin wanita dipingit (tidak diperkenankan keluar rumah) selama waktu yang telah ditentukan sampai peresmian pernikahan ditentukan.

- Para gadis dan jejaka akan datang silih berganti untuk membantu persiapan pesta perkawinan tersebut.

- Adanya Tamsil berperibahasa Arab yang masih dipegang teguh dalam menyambut kegembiraan disaat pesta perkawinan berlangsung. Tamsil tersebut berbunyi : "La Farhah kafarhi Arusyin wa la waj'ata kawaj'i Dursin". Artinya : "Tiada kegembiraan sebagaimana kegembiraan sepasang pengantin. Dan tiada rasa sakit sebagaimana pedihnya orang yang sakit gigi".

c. Pada tradisi kehamilan dan kelahiran

- lbu hamil tidak boleh keluar rumah saat magrib dan harus membawa benda-benda tajam seperti gunting, pisau kecil dan sedikit kunyit.

- Saat kehamilan ketujuh bulan, calon ibu disiram dan dikeramasi dengan air bunga 7 macam oleh para ibu lainnya dan juga dibuatkan rujak dari 7 macam buah pula.

- Selama masa kehamilan calon ibu dianjurkan untuk selalu membaca Al-Qur'an surat Yusuf.

- Setelah kelahiran bayi sekitar 7 atau 40 hari diadakan upacara atau selamatan puputan (pengguntingan rambut bayi) sambil dibacakan kitab suci Al-Qur'an dan salawat Nabi Muhammad SAW.

d. Pada tradisi meninggal dunia

- Orang-orang yang melayat membawa beras, uang serta kopi dan makanan yang lainnya.

- Setiap saat salah satu dari keruarga si mayit membacakan ayat-ayat suci Al-Qur'an.

- Sepanjang jalan menuju ke kuburan jenazah senantiasa dibacakan tahlil secara bersama-sama.

- Pada hari ke 7 hingga ke 40 setelah masa kematian diadakan pengajian di rumah keluarga si mayit.

Budaya Betawi sebagai kesenian tradisional Jakarta yang hampir selalu ada di seluruh pelosok Kampung di Jakarta, tak terkecuali juga dengan yang ada di Kampung Krukut, merupakan kesenian yang digemari baik oleh kaum muda maupun kaum tua. Namun adakalanya kesenian Betawi tersebut khususnya yang berada di Kampung Krukut ini mendapat pengaruh dari unsur-unsur kesenian Arab maupun Cina.  

- Kesenian budaya Betawi tradisional yang mendapatkan pengaruh dari unsur-unsur kesenian Arab, misalnya : Sambra, Rebana, Gambus, Kasidahan moderen dan sebagainya.

- Kesenian budaya Betawi tradisional yang mendapatkan pengaruh dari unsur-unsur kesenian Cina, misalnya : Tari cokek, Lenong, Barongan Naga yang diarak-arak, wayang Cina dan sebagainya. Dari jenis-jenis kesenian tradisional yang pernah ada di Kampung Krukut, maka hanya beberapa jenislah yang sekarang masih ada, dan terbanyak adalah jenis kasidahan yang merupakan pembaharuan dari seni rebana dan seni pencak silat.
 

Referensi : Kampung Tua di Jakarta, Dinas Museum dan Sejarah, 1993.
Sumber : diskominfomas

 


© 1995 - 2014 Dinas Komunikasi, Informatika dan Kehumasan Pemprov DKI Jakarta
Jl. Medan Merdeka Selatan 8-9 Blok F Lt 1 Telp: (+6221)3822255 Fax: (+6221)3822255 email: dki@jakarta.go.id | site map