Jakarta.go.id
  •  •  English
  •  •  Login
  •  •  Signup
  • Balai Warga 2980

    yudi:

    siang pak saya ingin bertanya apakah di jakarta akan ada program pemutihan imb? bangunan rumah orang...

    Rika:

    Yth. Bapak/ Ibu Humas Pemprov Bagian Kependudukan. Saat ini saya berusia 22 tahun, dan ingin membuat...

    aldi:

    test...

    mandala:

    kpd, humas pemda dki. dimana saya dapat men-download DPA APBD 2014, kel gunung sahari utara? yg ter...

    Lie:

    Sore Pak, saya ingin bertanya, apakah diperlukan permintaan PM1 dan PM2 sebagai persyaratan perijina...

  

Dongeng

Posted: Jan 01, 1990 Category: Teater
 

Mereka biasa mendapat panggilan dari orang yang mempunyai hajatan untuk ikut memeriahkan "malam ngangkat" yaitu malam sebelum pesta sesungguhnya dilangsungkan.

Pada "malam ngangkat" itu telah berkumpul sanak keluarga yang empunya hajat, dari dekat dari jauh, untuk  ikut membantu persiapan dan pelaksanaan hajatan. Pria dan wanita bekerja menurut kemampuan dan tugas masing-masing. Ada yang menyiapkan "pelampang" yaitu, bangunan sementara untuk menerima tamu, ada yang menyiapkan panggung untuk tontonan. Demikian pula yang menyiapkan penganan ditempat yang khusus disediakan untuk keperluan itu. Sebagian, yang tugasnya sudah selesai, sebagian sambil terus bekerja menyelesaikan tugasnya, dihibur dengan mendengarkan "tukang dongeng" membawakan cerita yang menarik, lebih-lebih diselipi dengan penggeli hati.

Cerita yang biasa dibawakan Tukang Dongeng berbeda dengan cerita yang dibawakan oleh juru Sahibul Hikayat. Dalam bercerita mereka tidak pernah memulai ceritanya dengan kata "sahibul hikayat". Cerita yang disajikan biasanya mirip dengan kata "sahibul hikayat". Cerita yang disajikan biasanya mirip dengan cerita pantun Sunda, seperti cerita "sumur Bandung","Ciung Wanara", "Mundinglaya", "Ki Ajar Surawisesa" dan sebagainya. Sudah barang tentu dengan versi yang berbeda, sebagaimana umumnya foklor lisan. Biasa pula dibawakan cerita-cerita yang sering dipentaskan oleh rombongan Blantek atau Topeng, seperti cerita "Mandor Alias", "Si Ombak", "Amatv Tompel" dan sebagainya. Cerita dibawakan tanpa iringan musik, tidak seperti "pantun" Sunda yang biasa disertai kecapi, tarawangsa dan suling.

Pada umumnya Tukang Dongeng tidak mendapat imbalan uang. Mereka cukup bila disediakan makanan dan minuman, serta kalau pulang dibekali sekedarnya untuk oleh-oleh bagi keluarganya dirumah. Sebagaimana telah diuraikan pada bagian lain, dewasa ini tukang dongeng yang terdapat di wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya telah berumur lanjut. Boim di Ciracas sudah berusia 75 tahun pendengarannya sudah kabur, berbicara pun sudah kurang jelas. Ilam di Curug, dekat Depok, yang menurut keterangannya sudah berumur lebih dari 80 tahun, sudah hampir tidak berjalan, penglihatannya sudah sangat kurang. Uwen di kali malang sudah meninggal dunia, Cuneg di Cijantung masih belum begitu tua, tetapi kemampuannya bercerita kurang dapat diketengahkan. Popularitas Tukang Dongeng didaerah pinggiran itu telah lama memudar. terutama akhir-akhir ini makin terdesak oleh kemajuan hiburan-hiburanelektronik, seperti radio, kaset dan televisi, jarang sekali orang mendengarkan Tukang Dongeng bercerita.

 

referensi :DINAS KEBUDAYAAN DAN PERMUSEUMAN PROPINSI DKI JAKARTA, Ikhtrisar Kesenian Betawi, 2003

sumber :DINAS PARIWISATA DAN KEBUDAYAAN

 


© 1995 - 2014 Dinas Komunikasi, Informatika dan Kehumasan Pemprov DKI Jakarta
Jl. Medan Merdeka Selatan 8-9 Blok F Lt 1 Telp: (+6221)3822255 Fax: (+6221)3822255 email: dki@jakarta.go.id | site map