Jakarta.go.id
Login  •  Signup

Beranda Ensiklopedi
CARI DI ENSIKLOPEDI

Topik Terkait

 
 

Indonesia Raya, Surat Kabar

Share

Surat kabar nasional yang mengalami dua kali masa penerbitan, pada masa pemerintahan Soekarno dan Soeharto, dan keduanya mengalami larangan terbit. Tiga harian lainnya adalah Abadi, Nusantara, dan Pedoman. Selama masa penerbitan pertama 1949-1968, lima wartawannya pernah ditahan selama beberapa hari sampai satu bulan. Pemimpin redaksinya, Mochtar Lubis, menjadi tahanan rumah dan dipenjarakan selama sembilan tahun tanpa proses peradilan. Harian ini mengalami seluruhnya enam kali pembreidelan; semuanya terjadi pada tahun 1957-1958.

Pertama kali Indonesia Raya tutup, ketika di dalam perusahaan terjadi konflik intern antara ketiga pemegang saham: Mochtar Lubis, Hasjim Mahdan, dan Sarhindi. Mochtar Lubis ingin tetap bersikap kritis terhadap pemerintah, sementara dua lainnya menginginkan "sikap netral." Kedua pemegang saham terakhir ini berhasil memperoleh SIT tanggal 7 Oktober 1958. Para wartawan pengasuh harian itu seluruhnya muka baru, karena semua wartawan Indonesia Raya lama mendukung pendirian Mochtar Lubis. Indonesia Raya baru ini hanya berumur kurang dari tiga bulan, sampai 2 Januari tahun berikutnya, karena kehilangan para pelanggan.

Masa penerbitan kedua selama lima tahun (1968-1974), terjadi satu kali pembreidelan. Harian boleh terbit lagi pada masa pemerintahan Orde Baru, dan mulai muncul pada tanggal30 Oktober 1968. Sebagian wartawan dan staf tata usaha Indonesia Raya generasi pertama mengasuh kembali harian ini dibawah pimpinan Mochtar Lubis sebagai pemimpin umum merangkap pemimpin redaksi. Selama 10 bulan pertama penerbitannya berbentuk tabloid, dan baru pada tanggal I September 1969 diubah ke dalam ukuran standar. Pada tahun-tahun awal terbitnya, harian ini mendukung pemerintahan Soeharto seperti dinyatakan dalam kata pengantar edisi perdana, tanpa menanggalkan sikap kritisnya yang khas. Indonesia Raya terkenal dengan kritik-kritiknya terhadap pengelolaan Pertamina, sering mengungkapkan kasus korupsi,
dan laporan penyelidikan tentang pelanggaran hak asasi manusia.

Demonstrasi mahasiswa di Jakarta selama kunjungan kenegaraan PM Jepang Kakuei Tanaka, antara tanggal 14 malam hingga 17 pagi Januari 1974, dan berakhir dengan apa yang disebut Peristiwa Malari, berekor larangan terbit tanpa batas waktu terhadap sebelas surat kabar dan satu majalah berita. Termasuk di antaranya harian Indonesia Raya, yang mengalami pencabutan Surat Izin Cetak tanggal 21 Januari 1974 dan Surat Izin Terbit dua hari kemudian. Selama periade ini pun dua pimpinannya mengalami penahanan, Mochtar Lubis selama hampir 2,5 bulan, dan wakil pemimpin redaksi Enggak Bahau'ddin selama hampir satu tahun. Keduanya disangka terlibat Peristiwa Malari, tetapi kemudian dibebaskan tanpa syarat.

Hits: 1961

Paling Populer

 
 
© 1995 - 2010 Dinas Komunikasi, Informatika dan Kehumasan Pemprov DKI Jakarta
Jl. Medan Merdeka Selatan 8-9 Blok F Lt 1 Telp: (+6221)3822255 Fax: (+6221)3822255 email: dki@jakarta.go.id | site map