Jakarta.go.id
Login  •  Signup

Beranda Ensiklopedi
CARI DI ENSIKLOPEDI

Topik Terkait

 
 

Taman Lapangan Banteng

Share

Taman Lapangan Banteng- Jakarta Pusat

Alamat

Jalan Lapangan Banteng Barat, Pasar Baru, Jakarta Pusat

Luas

52.790 m2

Tanaman Hias

1.037 m2

Pohon Pelindung

640 Pohon

Fasilitas

Lapangan Olahraga, plaza

Jenis Vegetasi Mahoni (Swietani mahagoni); Angsana (Pterocarpus Indictus); Salam; Asem (Tamarindus Indica); Kupu-kupu (Bauhinia) sp)

Latitude Longitude

-6.171268192186186, 106.83487951755524

 

Terletak di Jalan Lapangan Banteng Barat, Pasar Baru, Jakarta Pusat. Lapangan Banteng, yang pada jaman penjajahan Belanda disebut Waterlooplein, tidak seluas Lapangan (Medan) Merdeka yang dulu disebut Koningsplein dan sekarang menjadi Lapangan Monumen Nasional atau Monas, Jakarta Pusat.

Pada masa pemerintahan kolonial Belanda lapangan tersebut dikenal dengan sebutan Lapangan Singa, karena ditengahnya terpancang tugu peringatan kemenangan perang antara Waterloo, dengan patung singa di atasnya. Tugu tersebut dirobohkan pada jaman pemerintahan pendudukan tentara Jepang. Setelah Indonesia merdeka namanya diganti menjadi Lapangan Banteng. Rasanya memang lebih tepat, bukan saja karena singa mengingatkan kita pada lambang penjajah, tetapi juga tidak terdapat dalam dunia fauna kita. Sebaliknya, banteng merupakan lambang nasionalisme Indonesia. Disamping itu, besar kemungkinan pada jaman dahulu tempat yang kini menjadi lapangan itu dihuni oleh berbagai macam satwa liar seperti macan, kijang, dan banteng. Pada waktu Jp. Coen membangun kota Batavia di dekat muara Ciliwung, lapangan tersebut dan sekelilingnya masih berupa hutan belantara yang sebagian berpaya-paya (De Haan-1935:69).

Menurut catatan resmi, pada tahun 1632 kawasan tersebut menjadi milik Anthony Paviljoen Sr., dikenal dengan sebutan Paviljoensveld, atau lapangan Paviljoen Jr. Agaknya, pemilik kawasan itu lebih suka menyewakannya kepada orang-orang Cina, yang menanaminya dengan tebu dan sayur-mayur, sedangkan untuk dirinya sendiri ia hanya menyisakan hak untuk beternak sapi. Pemilik berikutnya adalah seorang anggota Dewan Hindia, Cornelis Chastelein, yang memberi nama Weltevreden, yang kurang lebih artinya "sungguh memuaskan", bagi kawasan tersebut. Setelah berganti-ganti pemilik, termasuk Justinus Vinck yang mula pertama membangun Pasar Senen, pada tahun 1767, tanah Weltevreden menjadi milik Gubernur Jenderal van der Parra. Pada awal  abad ke-19 Weltevreden semakin berkembang. Di sekitarnya dibangun gedung-gedung, disamping sejumlah tangsi pasukan infanteri, juga berbagai kesenjataan lainnya yang tersebar sampai ke Taman Pejambon dan Taman Du Bus, di belakang kantor Departemen Keuangan sekarang. Pada pertengahan abad ke-19 Lapangan Banteng menjadi tempat berkumpulnya golongan elit Kota Batavia dan setiap sabtu sore sampai malam diperdengarkan musik militer.

Sekitar tahun 1980-an taman ini sempat dipergunakan sebagai terminal bus untuk rute dalam dan luar kota. Pada tahun 1993 fungsi Lapangan Banteng dikembalikan lagi sebagai ruang terbuka hijau kota. Taman Lapangan Banteng ditata secara bertahap dari tahun 2004 sebelum akhirnya disempurnakan pada 2007.

Kini taman ini dipergunakan untuk berbagai macam kegiatan salah satunya event tahunan Pameran Flora dan Fauna.

Hits: 11100
encyclopedia/059cdbd0dae07ffd460da7d391e906ba
lapangan Banteng, berada di depan Istana Daendels (sekarang Depkeu)

Paling Populer

 
 
© 1995 - 2010 Dinas Komunikasi, Informatika dan Kehumasan Pemprov DKI Jakarta
Jl. Medan Merdeka Selatan 8-9 Blok F Lt 1 Telp: (+6221)3822255 Fax: (+6221)3822255 email: dki@jakarta.go.id | site map