Jakarta.go.id
Login  •  Signup

Beranda Ensiklopedi
CARI DI ENSIKLOPEDI

Topik Terkait

 
 

Affandi

Share

Tokoh seni rupa dengan aliran ekspresionisme. Lahir di Cirebon tahun 1907, meninggal di Yogyakarta tahun 1990. Sejak kecil dia gemar melukis wayang, bungsu dari tujuh saudara anak dari Kusuma, yang meninggal, sewaktu Affandi kelas tiga di MULO. Atas saran kakaknya, ia melanjutkan ke Algemene Middelbare School (AMS) bagian B di Jakarta dan menumpang di rumah keluarga pelukis Kartono Yudhokusumo. Namun di tahun 1931, ia tidak lulus ujian akhir, sejak saat itu ia lepas dari tanggung jawab kakaknya. Kemudian bekerja sebagai guru di HIS mer de Qur'an. Di sinilah dia bertemu dengan Maryati salah seorang muridnya yang kemudian menjadi istri pertamanya dengan dikarunia seorang putri yang diberi nama Kartika pada tahun 1934.

Dari Jakarta mereka pindah ke Bandung untuk meneruskan bakat melukisnya. Karena hanya melahirkan seorang putri atas saran Maryati, Affandi menikah lagi. Istri kedua Affandi yang juga dipilih dan dicarikan oleh Maryati bernama Rubiyem, dikarunia tiga orang anak. Kehidupannya semakin sulit hingga akhirnya dia pindah ke Yogya dan mempunyai sebuah gubuk di Desa Papringan, sebelah barat Kali Gajah Wong. Tempat ini sekarang menjadi Museum Affandi yang mulai dibangun tahun 1961 dan diresmikan 15 Desember 1973 oleh Prof. DR. Ida Bagus Mantra.

Pada tahap awal melukis Affandi lebih bersifat realis fotografis, sebuah karya lukis yang memperhatikan motif sebagaimana mata melihat ujud fisiknya. Affandi belum banyak mengungkapkan faktor kejiwaan dalam karya-karya lukisannya. Karya lukis Affandi pada permulaan diantaranya: Potret Diri (1928), Istriku (1928) serta Affandi dan Kartika (1939). Karya-karya tersebut lebih cenderung pada unsur teknik. Pada perkembangan berikutnya, di samping realisme yang menunjukkan kecermatan penguasaan teknik terdapat realis dengan sapuan ritmis. Seperti karyanya Potret Diri (1944), Ibu Dalam Kamar (1944), Belajar Anatomi (1948) dan Cucu Pertama (1953) yang semuanya menggunakan cat minyak. Pada empat karya terakhir, Affandi melampiaskan emosi pribadi melalui objeknya. Seni lukis Affandi tidak hanya dikuasai oleh imaji subjektif, melainkan juga dipengaruhi oleh pengalaman estetis, harkat kemanusiaan dan cita artistik. Affandi mulai menggeluti dunia ekspresionisme dalam ungkapan karya lukisnya. Aktivitas seninya didominasi oleh emosi atau gelombang kalbu, garis-garisnya lebih liar, kadang-kadang bentuknya diabaikan, sehingga kesan ruang hilang menjadi dwi matra, namun struktur bentuk masih dapat dikenali.

Di dunia ekspresionisme seni lukisnya, Affandi adalah seorang humanis serta tidak menyukai keindahan yang fantastis dan berbau klise. Misi sosial-kemanusiaan dalam jiwa seninya terungkap nyata melalui karya-karyanya antara lain: Pengemis (1944), Kampung Ikan di India Selatan (1951), Pengemis Tidur (1964), Pondok Tua, Gubuk Rusak, Tukang Puntung, dan Nelayan Tua. Dapat dilihat, goresan tangan Affandi lebih merupakan kritik terhadap kehidupan sosial, seraya mengingatkan realitas kehidupan yang menyentuh rasa kemanusiaan. Kecenderungan Affandi pada kemanusiaan ini, mengakibatkan dirinya lebih banyak memilih objek manusia daripada benda-benda atau yang lainnya.

Affandi seorang pelukis yang sangat produktif, karya-karyanya lebih banyak tersebar di luar negeri. Dia merupakan pelukis Indonesia yang paling banyak mengadakan pameran ke luar negeri, namun tidak banyak terpengaruh unsur kebudayaan asing dalam kreativitas seni lukisnya. Sebagai seorang maestro seni lukis Indonesia modern terpenting, bagi Affandi, melukis adalah kepuasan diri. Melukis baginya diperuntukkan bagi kepentingan kemanusiaan bukan untuk kepentingan seni, sebagaimana pandangannya tentang kesenian adalah perikemanusiaan.

Hits: 14302
encyclopedia/fd854e97b0a577127a75f2f65b95a962

Paling Populer

 
 
© 1995 - 2010 Dinas Komunikasi, Informatika dan Kehumasan Pemprov DKI Jakarta
Jl. Medan Merdeka Selatan 8-9 Blok F Lt 1 Telp: (+6221)3822255 Fax: (+6221)3822255 email: dki@jakarta.go.id | site map