Jakarta.go.id
Login  •  Signup

Beranda Ensiklopedi
CARI DI ENSIKLOPEDI

Topik Terkait

 
 

Makam Souw Beng Kong, Situs Pendukung Ingatan Tragedi Mei 1998

Share
Makam Souw Beng Kong
Alamat

Gang Taruna, Jl. Pangeran Jayakarta RT 002/RW 007, Kelurahan Mangga Dua, Kecamatan Sawah Besar, Jakarta Pusat

Atau dapat menghubungi

Yayasan Makam Souw Beng kong, Jl. Kebon Jeruk 15 No. 13 Kelurahan Maphar, Taman Sari, Jakarta Barat
Telepon 021-6120473
Fax 021-6120479

 

Makam Souw Beng Kong terletak di tengah pemukiman masyarakat tepatnya di Gang Taruna, Jl. Pangeran Jayakarta RT 002/RW 007, Kelurahan Mangga Dua, Kecamatan Sawah Besar, Jakarta Pusat. Makam Souw Beng Kong merupakan salah satu dari Situs Pendukung Ingatan Tragedi 1998.

Souw Beng Kong adalah tokoh masyarakat Tionghoa Indonesia yang diperkirakan lahir di Tang Oa dekat Kota Pelabuhan Amoy, Provinsi Hokkian. Istri resminya diperkirakan berdarah Melayu bernama INQUA, karena surat wasiat terakhir dari Souw Beng Kong harus diterjemahkan dahulu ke dalam Bahasa Melayu. Souw Beng Kong mempunyai seorang anak yang masih tinggal di daerah asalnya di Tiongkok. Ia juga mempunyai 2 orang putra, anak dari 2 perempuan Bali, seorang putra lagi dari istri lain seorang perempuan Tionghoa dan seorang putri dari istri yang tidak pernah disebut namanya.

Pada abad ke-15, Souw Beng Kong datang ke Indonesia tepatnya ke daerah Banten. Di Banten Souw Beng Kong menjadi pedagang hasil bumi dan rempah-rempah yang ternama. Souw Beng Kong sangat dihormati dan dipercaya penuh oleh para petani dan pedagang di wilayah itu, setiap pedagang asing dari Inggris, Portugis dan Belanda yang membeli hasil bumi, haruslah melakukan pembelian dan negosiasi harga dengan kehadiran pihak Souw Beng Kong.

Pada masa itu sudah banyak masyarakat Tionghoa yang tinggal mengelompok di tempat yang dikelilingi pohon bambu yang dikenal dengan sebutan daerah Bambu Cina. Masa itu Pelabuhan Banten adalah sebuah pelabuhuan yang sangat ramai dikunjungi oleh para pedagang dari mancanegara, terutama pada bulan Februari sampai April. Banyak pedagang dari Daratan Tiongkok yang datang untuk membeli hasil bumi terutama lada dan kopra.

Peranan kelompok orang Tionghoa sangatlah penting dalam turut memajukan perdagangan di wilayah Kesultanan Banten sejak zaman dahulu. Hal ini terlihat dari hasil penggalian di daerah Banten Girang menunjukkan bahwa orang-orang Tionghoa sudah berinteraksi dengan masyarakat Banten sejak Abad ke 7 – 8 dan setidaknya dari hasil penggalian purbakala tersebut terlihat bahwa telah terjadi hubungan erat yang saling menguntungkan kedua belah pihak. Kebanyakan dari orang Tionghoa kala itu datang dari pesisir Daratan Tiongkok Selatan. Pada awalnya, mereka datang untuk berdagang dan memuat barang-barang dagangan dengan Jung-Jung (Kapal China zaman dulu yang sangat terkenal) dan kembali ke negeri asalnya, setelah itu banyak dari mereka yang memutuskan untuk tinggal dan mencari penghidupan di sini. Pengaruh mereka sangatlah besar kemudian berkembang memasuki hampir semua sektor ekonomi, mulai dari tata cara bertani sampai ke pemasaran hasil bumi, dari berdagang keliling sampai ke perdagangan dengan kalangan internasional, dari tukang kayu sampai pandai besi, dari pembuatan garam sampai pembuatan batu bata.

Pada Tahun 1611, Gubernur Jenderal VOC Pieter Both mengutus bawahannya Jan Pieterzoon Coen ke Tanah Banten untuk membeli hasil bumi dan rempah-rempah terutama lada. Di Banten dia berkenalan dengan Souw Beng Kong (oleh orang Belanda ditulis sebagai BENCON). Jan Pieterzoon Coen yang datang untuk membeli hasil bumi mulai mencoba mempengaruhi dan menekan Souw Beng Kong, tetapi tidak berhasil karena sebagai pedagang yang piawai Souw Beng Kong tidaklah mudah untuk diintimidasi dan ditekan. Dalam hal ini Sultan Banten waktu itu merasa sangat senang dan terbantu oleh Pihak Souw Beng Kong dan kelompok Tionghoa lainnya, yang dianggap bisa mengadakan negosiasi dagang yang bisa menguntungkan Kesultanan Banten.

Ketika Jan Pieterzoon Coen berhasil merebut Jayakarta/Sunda Kelapa pada Tahun 1619, penduduk setempat tidak mau mengadakan hubungan dagang dengan pihak Belanda, demikian juga dengan orang Tionghoa, karena sebelumnya Belanda telah membuat perjanjian dengan Pangeran Jayakarta. Dalam perjanjian itu disebutkan bahwa orang-orang Tionghoa tidak diperbolehkan membangun rumah disekitar loji yang didirikan Belanda. Padahal saat itu sudah banyak orang Tionghoa yang tinggal di sekitar pesisir pantai dimana Belanda banyak mendirikan loji-lojinya, sehingga banyak dari warga Tionghoa yang rumahnya harus dibongkar dan harus pindah ketempat lain untuk menjauhi loji-loji tersebut.

Untuk merebut hati golongan Tionghoa, maka akhirnya Coen menghapus peraturan tersebut, namun golongan Tionghoa sudah patah arang dan tidak percaya lagi pada Belanda, serta tidak mau lagi berhubungan dagang. Menghadapi hal ini Coen teringat pada Souw Beng Kong, pedagang yang sangat dihormati oleh masyarakat Tionghoa. Pemboikotan yang dilakukan oleh komunitas Tionghoa ini makin lama makin hebat, para pedagang Tionghoa juga tidak mau lagi menjual dagangannya kepada pihak Belanda, bahkan tidak ada orang Tionghoa yang mau memperbaiki sepatu para Serdadu Belanda. Jan Pieterzoon Coen akhirnya sadar akan potensi kerugian lebih besar yang bisa terjadi kalau masalah ini berlarut-larut, akhirnya ia memutuskan untuk menemui Souw Beng Kong dan meminta bantuannya untuk mengatur dan mengurus komunitas Tionghoa di Batavia maupun di Banten. Kepada bawahannya dia memberi perintah bahwa “Siapapun yang ingin memperluas dan memperkuat perdagangan serta pengaruh Belanda, harus bekerja sama dengan komunitas Tionghoa, karena mereka adalah bangsa yang ulet, rajin dan giat bekerja” dan hanya Souw Beng Kong lah orang yang tepat untuk diajak bekerja sama.

Demikian setelah melalui proses pendekatan dan bersaing dengan pihak Kesultanan Banten, karena Sultan Banten telah melakukan kesalahan fatal dengan menyuruh membongkar semua rumah orang Tionghoa yang terletak dipinggiran pantai Banten, hal ini dianggap terlalu mengganggu pemandangannya dalam memantau Pantai Banten. Maka berangsur-angsur orang-orang Tionghoa di bawah pimpinan Souw Beng Kong dan Lim Lak Co (Shoemaker van Banten/pembuat sepatu dari Banten) pindah ke Batavia. Sejak itu pelan-pelan Pelabuhan Banten mulai ditinggalkan oleh para pedagang mancanegara, pusat kegiatan perdagangan pun mulai berpindah ke Batavia.

Gelombang pertama perpindahan itu sebanyak 170 Keluarga Tionghoa dari Banten mulai memasuki Batavia dan Souw Beng Kong harus menampung dan mengurusi mereka. Untuk keperluan mengatur masyarakat Tionghoa tersebut, maka Jan Pieterzoon Coen pada tanggal 11 Oktober 1619 mengangkat Souw Beng Kong menjadi Kapiten (Kapitein) Tionghoa yang pertama yang diangkat oleh pihak Belanda. Pada masa itu penduduk Tionghoa yang ada di Batavia sudah sekitar 400 keluarga dan terus bertambah.

Souw Beng Kong juga diangkat sebagai Ketua Kongkoan (Dewan Tionghoa masa itu), Dewan itu bertugas untuk mengatur segala keperluan dan kepentingan orang-orang Tionghoa mulai dari upacara perkawinan, upacara di tempat pemakaman serta memilih tempat-tempat pemakaman untuk orang Tionghoa di Batavia. Souw Beng Kong ditugasi untuk mengurusi urusan sipil termasuk harus bisa mengatasi bila ada keributan antar sesama orang Tionghoa. Pada 24 Juni 1620 di Batavia dibentuk College van Schepenen, Souw Beng Kong sebagai Kapiten Tionghoa saat itu juga diberi jabatan dalam Dewan tersebut. Jabatan Souw Beng Kong dalam Dewan tersebut bukan hanya memberikan nasihat, tetapi juga memutuskan dan bertanggungjawab atas segala perkara-perkara yang berkenaan dengan orang Tionghoa yang diajukan kepada Dewan/Majelis tersebut.

Dengan Surat Keputusan Gubernur Jenderal pada 18 Agustus 1620, Souw Beng Kong diberi kekuasaan penuh untuk menangkap orang-orang Tionghoa yang menurut pendapatnya harus ditangkap (semisal terlibat tindakan kriminal) dan menyerahkannya kepada pemerintah Belanda. Pengangkatan Souw Beng Kong dalam jabatannya tersebut juga disetujui oleh Pemerintah Pusat di Negeri Belanda, seperti yang tertera dalam surat kepada J.P. Coen yang antara lain menyatakan “Pemerintah Kerajaan Belanda menyetujui pengangkatan Tuan BENCON (Belanda menyebut Souw Beng Kong dengan nama BENCON) sebagai anggota Dewan College van Schepenen

Dalam melaksanakan tugasnya, Souw Beng Kong dibantu oleh seorang sekretaris yang beragama Islam yang bernama Gouw Cay. Atas jasa-jasanya, dengan Surat Keputusan 1 Februari 1623 Gubernur Jendral JP Coen memberi hadiah 2 bidang kebun kelapa kepada Souw Beng Kong. Diatas tanah tersebut kemudian dibangun rumah-rumah batu yang cukup megah atas biaya Pemerintah Belanda, penjagaan 24 jam juga diberikan demi menjaga keamanan Souw Beng Kong dan keluarganya. Dan Gouw Cay, sekretaris Souw Beng Kong dengan Surat Keputusan Gubernur Jenderal Belanda tertanggal 1 Agustus 1621 diberi sebidang tanah berupa kebun kelapa di Kampung Bebek. Ditempat tersebut pada Tahun 1625, Gouw Cay membangun sebuah Mesjid yang sampai Tahun 1920an masih berdiri. Dalam bekerja keduanya tidak diberi gaji, namun diberi hak untuk menarik cukai sebesar 20% dari pajak judi yang dikenakan Pemerintah Belanda kepada para Pachter (Penyelenggara Rumah Judi) di Batavia.

Tahun 1628-1629 terjadi perang antara Belanda dengan tentara Sultan Agung di front timur, dengan tentara Banten di front barat dan tentara Inggris dari laut di front utara, maka Souw Beng Kong menunjukkan sikap netral dan tidak memihak, berkali-kali J.P Coen dari pihak Belanda meminta bantuan tapi ditolak oleh Souw Beng Kong dan Sultan Banten yang pernah punya hubungan baik dengannya juga meminta bantuan Souw Beng Kong, tetapi juga ditolaknya dengan halus, ini membuktikan bahwa kedatangan orang Tionghoa di Bumi Nusantara ini tidak punya maksud untuk terlibat dalam konflik dan ingin menjadi penguasa, tetapi murni karena ingin berdagang dan mencari kehidupan yang lebih baik.

Setelah berhasil melakukan penyusupan kedalam pasukan Sultan Agung dan berhasil membakar ransum, serta berhasil mengalahkan pasukan tentara Banten dan juga mengalahkan armada Inggris, maka Pemerintah VOC makin memperkokoh posisinya di Batavia, Pemerintah Belanda memberlakukan peraturan yang ketat, setiap warga dilarang bepergian tanpa surat izin dari Pemerintah Belanda.

Souw Beng Kong menjadi tidak senang bekerjasama lagi dengan pihak pemerintah Belanda, ia mengajukan permohonan untuk kembali ke Tiongkok. Setelah permohonannya dikabulkan, maka dengan menumpang kapal perang “De Swaen“ dia berangkat ke Tiongkok melalui Taiwan.

Namun, ketika di Taiwan dia membaca maklumat dari pemerintah Tiongkok yang menyatakan bahwa, barang siapa yang pernah bekerja sama dengan pihak Belanda, maka harta bendanya akan disita dan orangnya akan dikenakan hukuman berat. Karena takut, maka Souw Beng Kong membatalkan kepulangannya ke Tiongkok dan selama dua tahun dia tinggal di Taiwan sambil berdagang dan ternyata usahanya tersebut gagal.

Selama di Taiwan, Souw Beng Kong akhirnya terlibat dalam sejumlah usaha penyelundupan dan perdangangan gelap, tetapi mengingat akan jasa-jasanya kepada kaum Tionghoa di Batavia, maka dia tetap dilindungi oleh para sahabatnya. Para pejabat Belanda di Batavia mengirimkan utusan dan surat kepada Gubernur Taiwan, sehingga dia lolos dari hukuman pemerintah Tiongkok dan akhirnya ia memutuskan kembali ke Batavia.

Pada tahun 1639, dengan menumpang Kapal perang Belanda “Brouckoort“ dia pun bersama keluarganya kembali ke Batavia. Ternyata sesampai di Batavia Souw Beng Kong tetap dihormati, walaupun kedudukannya sebagai anggota College van Schepenen telah digantikan oleh Phoa Beng Gan (yang oleh Belanda disebut Binggam), tetapi jasa-jasa Souw Beng Kong masih diingat oleh pihak Belanda. Kemudian Souw Beng Kong mendapat kehormatan kembali untuk menjabat sebagai Boedel Kamer atau Balai Harta Peninggalan, untuk mengurus dan melindungi harta warisan kaum hartawan Tionghoa yang tidak memiliki ahli waris, yang disebut dengan Boedel Mester.

Souw Beng Kong bersama rekannya Lim Lak Co mengajukan resolusi agar pemerintah Belanda menaruh perhatian khusus dan serius kepada kampung orang Tionghoa untuk menjaga kesehatan dan diperbaiki lingkungannya. Tuntutan kedua orang ini dipenuhi oleh pemerintah Belanda dan hasilnya adalah penataan lingkungan pecinan di seputar Pancoran-Kota yang sampai sekarang masih belum banyak berubah. Pengaruh Souw Beng Kong pun semakin bertambah kuat, akhirnya karena telah berusia lanjut Souw Beng Kong mengajukan pengunduran diri dan Lim Lak Co dipilih menjadi pengganti Souw Beng Kong.

Souw Beng Kong meninggal pada 8 April 1644. Seluruh masyarakat Tionghoa ikut berkabung, pemerintah Belanda juga menyatakan turut berbelasungkawa. Phoa Beng Gan sebagai Kapitein pengganti Souw Beng Kong pun mengajukan permohonan, agar jenazah Souw Beng Kong boleh disemayamkan di rumahnya, yang saat ini berada di Gang Taruna, Jl. Pangeran Jayakarta RT 002/RW 007, Kelurahan Mangga Dua, Kecamatan Sawah Besar, Jakarta Pusat. Namun, sejak peristiwa Angke (sekitar tahun 1740)  makam Souw Beng Kong terlantar, tidak terurus dan pada tahun 1929 seorang Mayor berdarah Tionghoa di masa penjajahan Belanda menemukan makam Souw Beng Kong yang sudah tertutup rumput, lalu dipugar pada tahun yang sama. Mayor tersebut sadar bahwa Souw Beng Kong memiliki jasa yang besar terhadap Batavia.

Pada tahun 2008, dilakukan pemugaran kembali oleh Yayasan Kapitein Souw Beng Kong yang dipimpin oleh KRT Hendarmin Susilo (Su Sien Ming). Program pertama dari yayasan tersebut adalah membebaskan tanah di sekeliling makam Souw Beng Kong yang sudah dikuasai oleh warga sekitar, karena tepat diatas makam Souw Beng Kong tersebut pernah berdiri sebuah rumah lengkap dengan kamar mandinya. Saat ini makam Souw Beng Kong sudah dianggap layak sebagai makam seorang tokoh yang berjasa. Pihak yayasan juga telah mendaftarkan makam tersebut sebagai Situs Makam Kuno yang dilindungi sebagai Situs Cagar Budaya. Yayasan Kapitein Souw Beng Kong  juga mengadakan upacara-upacara adat sesuai dengan kepercayaan yang dipeluk oleh almarhum Kapitein Souw Beng Kong.

Hits: 2118

Paling Populer

 
 
© 1995 - 2010 Dinas Komunikasi, Informatika dan Kehumasan Pemprov DKI Jakarta
Jl. Medan Merdeka Selatan 8-9 Blok F Lt 1 Telp: (+6221)3822255 Fax: (+6221)3822255 email: dki@jakarta.go.id | site map