Jakarta.go.id
Login  •  Signup

Beranda Ensiklopedi
CARI DI ENSIKLOPEDI

Topik Terkait

 
 

Bioskop

Share

Tempat pemutaran film, yang pada masa itu sering juga disebut Gambar Idoep. Bioskop pertama di Batavia diusahakan oleh seorang Belanda bernama Talbot. "Gedung" nya sebuah bangsal berdinding gedek dan beratap seng, sehingga bisa dibawa keliling ke kota-kota lain. Pertama kali Talbot memutar film di Lapangan Gambir. Kemudian disusul Schwarz, seorang Belanda, awalnya mengusahakan bioskop di tempat orang belajar menunggang kuda, lalu di Kebon Jahe, dekat Tanah Abang. Kemudian ia mendirikan Bioskop Schwarz, hingga menempati gedung, permanen di Pasar Baru tapi tak lama kemudian gedung permanen itu habis terbakar.

Kemudian seorang Belanda bernama de CaHone mengusahakan bioskop di Deca Park. Berawal dari bioskop terbuka di lapangan disebut misbar (gerimis bubar), ia lalu menggunakan sebuah gedung Capitol di Pintu Air. Setelah itu seorang pengusaha Cina juga mendirikan bioskop di Pintu Air, bernama Elite. Beberapa tahun kemudian bioskop itu dijual kepada Universal Film Co.

Pada masa itu penonton sangat menyukai film-film seperti Fantomas, Zigomar, Tom Mix, Edi Polo, dan film lucu yang dibintangi oleh Charlie Chaplin, Max Linder, Arsene Lupin, dan lain-lain. Film-film tersebut adalah film bisu yang diramaikan oleh orkes.

Tahun 1920-an, zaman pra film bersuara (sound film), di Batavia belum banyak bioskop. Di bagian utara kota, daerah "Kota", orang Belanda menyebutnya Benedenstad, hanya ada dua: Gloria Bioscoop di Pancoran dan Cinema Orion di Glodok.Bagian selatan (bovenstad atau Weltevreden) ada Cinema Palace di Krekot, Globe Bioscoop di Pasar Baru, Deca Park di Gambir (sekarang Lapangan Monas), dan Dierentuin di Cikini (di kompleks TIM sekarang).

Penonton bioskop-bioskop di bovenstad umumnya berasal dari lapisan masyarakat atas, yaitu para tuan toko, pemimpin perusahaan-perusahaan besar Belanda dan pegawai serta orang-orang dari golongan berduit, karena harga-harga karcis bioskop di bagian selatan kota lebih tinggi. Penonton di bioskop-bioskop di daerah kota umumnya dari golongan menengah ke bawah. Sampai tahun 1942, bioskop-bioskop yang ada di Batavia adalah: Rex di Kramat Bunder, Cinema di Krekot, Astoria di Pintu Air, Centraal di Jatinegara, dua bioskop masing-masing di Senen dan Tanah Abang (Surya). Kemudian bioskop Thalia di Jl. Hayam Wuruk, Olimo, Orion di Glodog, dan Al Hambra,

Pada dekade 1950-an gedung-gedung bioskop di Jakarta didominasi oleh film Amerika. Film Indonesia dan Hongkong (Taiwan) masih sedikit. Sedang film India baru mulai beredar. Harga tiket yang berlaku di gedung bioskop kelas satu seperti Capital di Pintu Air Menteng dan Globe untuk balkon (loge) f 3 dan stalles f 2. Tema cerita bermacam-macam dari melodrama, musik, petualangan, dan cowboy. Beberapa bioskop pada tahun 1960-an mencakup bioskop Capital dan Astoria yang berada di dekat pintu air (kira-kira di depan Mesjid Istiglal). Tidak jauh dari Pasar Baru, di daerah Krekot ada bioskop Globe. Sedangkan di daerah Senen dan Kramat ada bioskop Rialto, Rex, dan Grand yang sering memutar film Indonesia dan film action. Di kebun binatang Cikini (sekarang Taman Ismail Marzuki) terdapat Garden Hall dan New Podium. Kemudian yang terkenal adalah bioskop Menteng dan Metropole (Megaria). Di Jatinegara, tidak jauh dari jembatan kereta api terdapat bioskop Central.

 

 

Hits: 2397

Paling Populer

 
 
© 1995 - 2010 Dinas Komunikasi, Informatika dan Kehumasan Pemprov DKI Jakarta
Jl. Medan Merdeka Selatan 8-9 Blok F Lt 1 Telp: (+6221)3822255 Fax: (+6221)3822255 email: dki@jakarta.go.id | site map