Jakarta.go.id
Login  •  Signup

Beranda Ensiklopedi
CARI DI ENSIKLOPEDI

Topik Terkait

 
 

Kampung Tugu

Share

Kampung Tugu secara administratif termasuk Kelurahan Semper Barat, Kecamatan Koja, Jakarta Utara, Propinsi DKI Jakarta. Kampung yang merupakan peninggalan sejarah Kota Batavia ini sejak dulu memang dikenal sebagai kampung yang dihuni oleh tawanan portugis yang telah dibebaskan oleh Pemerintah Belanda. Menurut riwayat, sejak VOC menaklukkan kekuasaan Bangsa Portugis di Malaka pada tahun 1641 M, para tawanan dan budak Portugis diboyong oleh Belanda ke pusat kota dagang baru di Batavia. Para budak dan tawanan tersebut terdiri dari orang-orang Portugis dan orang-orang dari daerah yang diduduki oleh Portugis kala itu seperti Goa, Malabar, Bengal, dan Colomander. Rata-rata mereka beragama Katolik dan menggunakan bahasa Portugis sebagai bahasa percakapan.

Namun semenjak berada di Batavia para budak dan tawanan Portugis ini dimerdekakan oleh Belanda, dengan syarat berpindah agama menjadi Protestan dan mengganti bahasa mereka dengan bahasa Belanda. Istilah untuk menyebut para tawanan dan budak yang dimerdekakan itu dikenal dengan nama “kaum Mardjiker”, yang berarti kaum yang dimerdekakan (dekat dengan kata mardika atau merdeka). Sampai akhir abad ke-18, Pemerintah Belanda di Batavia melarang agama Katolik dipeluk oleh masyarakat Batavia. Baru semenjak penaklukan Perancis atas Batavia pada masa Daendels (tahun 1808 M), Gubernur Batavia saat itu, agama Katolik diperbolehkan.

Setelah memerdekakan para tahanan dan budak Portugis (kaum Mardjiker), pengurus Gereja Batavia dengan persetujuan VOC memindahkan kaum Mardjiker ke sebuah kampung yang berjarak sekitar 20 kilometer sebelah tenggara Batavia pada tahun 1661 M. Kampung inilah yang sekarang dikenal dengan nama Kampung Tugu (Kampung Toegoe). Tidak kurang ada sekitar 22 kepala keluarga—terdiri 150 jiwa—dipindahkan ke Kampung Tugu. Sejak itu, para Mardjiker menetap di Kampung Tugu dan melakukan perkawinan dengan suku-suku lain yang beragama Kristen. Orang Belanda pada saat itu lebih suka menyebut para peranakan kaum Mardjiker ini dengan nama ‘Mustisa‘ (Mestiezen), yang berarti campuran (mestizo). Namun oleh masyarakat sekitar, penduduk yang menempati Kampung Tugu disebut ‘orang Tugu‘ atau juga disebut ‘orang Serani‘, dengan identifikasi agama Nasrani (Kristen) yang dipeluk oleh mayoritas penduduknya.

Ada beberapa versi tentang asal-usul nama Kampung Tugu. Sejarawan Belanda, De Graff, menyebut nama Tugu berasal dari kata por tugu ese (Portugis), sebutan orang Portugis yang tinggal di kampung itu. Namun, ada juga versi lain yang mengatakan nama Tugu dikaitkan dengan penemuan sebuah prasasti (tugu) batu bertuliskan huruf Pallawa dari masa kekuasaan Raja Purnawarman, Kerajaan Taruma Negara, di sekitar perkampungan tersebut. ‘Tugu‘ sendiri berarti ‘tiang‘, ‘batu bersurat‘, atau ‘batu peringatan‘. Prasasti ini dikenal dengan nama Prasasti Tugu. Sejak tahun 1911 M, Prasasti Tugu dipindahkan ke Museum Nasional (Museum Sejarah Jakarta).

Kampung Tugu dikenal oleh masyarakat Batavia salah satunya karena keberadaan Gereja Tugu di kampung ini. Konon gereja ini didirikan seiring dipindahkannya para Mardjiker dari Kota Batavia. Saat di Batavia para Mardjiker biasanya beribadah di Gereja Sion—dikenal dengan sebutan gereja Portugis Luar Kota (di luar benteng Kota Batavia) atau Gereja Portugis. Namun semenjak pindah ke Kampung Tugu para Mardjiker menggunakan Gereja Tugu sebagai sarana ibadahnya. Ada yang menaksir, Gereja Tugu didirikan antara tahun 1676—1678 M bersamaan dengan pendirian sekolah rakyat pertama kali di Hindia Belanda oleh Melchior Leydekker, seorang doktor ilmu kedokteran dan teologi dari Belanda yang ditempatkan di Kota Batavia. Gereja inilah yang hingga sampai sekarang menjadi landmark Kampung Tugu. Gereja yang dapat menampung sekitar 300 jemaat ini terbilang unik, tidak seperti bangunan lain yang biasanya menghadap jalan, gereja ini justru menghadap sungai Cakung. Hal Ini semakin mengukuhkan bahwa dulu, Cakung merupakan jalur lalu-lintas transportasi air utama untuk menuju gereja. Sejak tahun 1970 daerah Kampung Tugu berusaha dijaga kelestariannya oleh pemerintah DKI Jakarta melalui SK Gubernur tahun 1970, yakni radius 600 meter dari Gereja Tugu.


Menyusuri serpih-serpih sejarah di Kampung Tugu seolah membawa ke suasana Kota Batavia zaman dulu. Saat mulai masuk perkampungan akan disuguhi suasana perkampungan dengan lanskap bangunan-bagunan kuno, jalan, dan sungai/ kali. Kali ini oleh masyarakat Tugu dan sekitar disebut Kali Cakung. Dulu, hingga tahun 1960 kali ini masih dipakai untuk jalur transportasi dan masih dimanfaatkan untuk mandi. Namun sekarang sungai ini tak lagi menjadi jalan transportasi, karena telah mendangkal dan berlumpur. Meskipun begitu tetap saja sungai ini memberi nuansa tersendiri bagi Kampung Tugu.

Selain menikmati arsitektur gereja, di Kampung Tugu juga dapat menikmati peringatan Ritual Mandi-mandi. Meski bernama “mandi”, tak ada kegiatan mandi yang dilakukan dalam acara ini. Ritual Mandi-mandi lebih merujuk pada upacara saling memaafkan di antara warga Kampung Tugu yang dibumbui kegiatan mencorengkan bedak di antara para warga. Ritual ini merupakan warisan kaum Mardjiker dan diselenggarakan setiap perayaan tahun baru.

Tak hanya itu, wisatawan yang berkunjung ke Kampung Tugu juga dapat menikmati kesenian musik khas bernama Keroncong Tugu. Kesenian ini sering dipentaskan pada berbagai tempat dan kesempatan, seperti pesta perkawinan, ulang tahun, peresmian, jamuan makan, menyambut tamu asing, perayaan Natal, dan perayaan tahun baru. Konon, keroncong ini telah dimainkan sejak tahun 1661 M, tahun kedatangan para Mardjiker di Kampung Tugu. Pada saat itu, kesenian ini masih disebut keroncong asli, karena jenis irama yang masih dipengaruhi Keroncong Portugis. Namun, seiring perkembangan zaman, keroncong ini telah banyak mengadopsi beberapa elemen yang membuatnya berbeda. Hal ini misalnya dapat dilihat pada jenis iramanya yang lebih cepat dan rancak, dikarenakan suara ukulele yang dimainkan dengan cara menggaruk keseluruhan senar secara cepat.

Selain itu di Kampung Tugu juga masih bisa melihat beberapa deretan rumah khas Batavia yang berusia ratusan tahun, atau juga beberapa kuburan kuno peninggalan zaman Belanda.


Sumber    : www.wisatamelayu.com
Foto         : www.krontjongtoegoe.com

Hits: 11062
encyclopedia/10de54c8f39130dd19d4dce5583a08aa
Satu-satunya peninggalan rumah keluarga keturunan Portugis yang masih berdiri di Kampung Tugu. Rumah ini dirawat oleh Ketua Ikatan Keluarga Besar Tugu, Andre Juan Michiels
encyclopedia/6388370cad1bbd0014ab1d8428260834
Sebuah lukisan karya F. Dancx (1703 M), yang mengisahkan keluarga keturunan Portugis di Kampung Tugu yang dilatarbelakangi Gereja Tugu.
encyclopedia/b0129f99392dc0799b3b4e0c6b79634a
Warisan alat-alat instrumen musik Keroncong, Masyarakat Tugu

Paling Populer

 
 
© 1995 - 2010 Dinas Komunikasi, Informatika dan Kehumasan Pemprov DKI Jakarta
Jl. Medan Merdeka Selatan 8-9 Blok F Lt 1 Telp: (+6221)3822255 Fax: (+6221)3822255 email: dki@jakarta.go.id | site map