Jakarta.go.id
Login  •  Signup

Beranda Ensiklopedi
CARI DI ENSIKLOPEDI

Topik Terkait

 
 

Tomang-Jati Pulo, Kampung

Share

Salah satu daerah yang termasuk dalam Kelurahan Jati Pula. Tomang-Jati Pulo merupakan daerah asli dari seluruh wilayah
Kelurahan Jati Pulo dan Tamang. Di sekitar daratan yang berbentuk pulau ini dikelilingi dengan rawa-rawa yang selalu penuh air di musim hujan atau kemarau.

Sejarah Tomang-Jati Pulo: Tomang berarti "bunga", sedang pula berarti "pulau atau daratan". Jadi "Tomang Pula" merupakan bunga yang tumbuh di pulau. Pada zaman Belanda masih berupa hutan dan sawahs-awah milik penduduk. Di daerah ini tidak ada rumah Belanda, walaupun mereka kadang berpatroli ke Tomang-Jati Pulo. Kebanyakan orang Belanda tinggal di asrama di sekitar Petojo. Kemungkinan mereka takut terjangkit penyakit malaria karena banyaknya rawa di daerah Tomang-Jati Pulo.

Penduduk: Penduduk daerah ini sudah bercampur antara masyarakat asli dengan pendatang dari Jawa khususnya Sunda, Sumatera, Nusa Tenggara, dan keturunan Cina. Penduduk asli banyak yang hidup berkecukupan dengan menjual tanah yang dulunya masih belum bertuan. Rumah tradisional Tomang-Jati Pulo berbentuk kebaya dan masih berdinding gedek serta beratap rumbia. Hanya rumah kepala kampung saja yang sebagian sudah bertembok. Antara satu rumah dengan rumah yang lain masih terdapat hutan kecil atau semak belukar. Di samping rumah dibangun blandengan untuk menimbun dedak. Selain itu juga ada empang/kolam ikan yang juga digunakan untuk buang air besar. Di belakang rumah ada kandang kambing dan sumur untuk air minum. Di dekat rumah juga ada tempat sholat untuk tiga atau empat orang. Pada saat lebaran, penduduk selalu membunyikan petasan. Kalau tidak akan dianggap tidak menghormati hari raya ini.

Kehidupan Sosial-Budaya: Untuk tata cara perkawinan hampir sama dengan daerah lain di Jakarta. Hal yang unik terjadi ketika pasangan mempelai belum saling mengenal karena mereka dijodohkan oleh orang tuanya. Pada malam pengantin, pengantin laki-laki menegur istrinya dengan meletakkan uang sebesar 25 atau 50 sen di sebuah tempat kemudian dia harus menyingkir jauh-jauh sambil melirik apakah uang itu diambil atau tidak oleh pengantin wanita. Jika diambil maka istrinya akan menyahut kalau ditegur. Tetapi kalau tidak, uangnya harus ditambah. Waktu melamar pihak laki-laki juga mengirim mas kawin berupa selop, kain batik, cincin emas, tusuk konde, kancing baju dara mas berentengan, almari pakaian berkaca, toilet, dan tempat tidur. Sedang kesenian yang ada di daerah Tomang-Jati Pulo antara lain Rebana Ketimpring untuk mengiringi arak-arakan pengantin perempuan, Lenong, Tanjidor, dan Cokek.

Hits: 2143

Paling Populer

 
 
© 1995 - 2010 Dinas Komunikasi, Informatika dan Kehumasan Pemprov DKI Jakarta
Jl. Medan Merdeka Selatan 8-9 Blok F Lt 1 Telp: (+6221)3822255 Fax: (+6221)3822255 email: dki@jakarta.go.id | site map