Jakarta.go.id
Login  •  Signup

Beranda Ensiklopedi
CARI DI ENSIKLOPEDI

Topik Terkait

 
 

Kwee Tek Hoay

Share

Sastrawan Melayu Tionghoa dan teosof. Lahir di Bogor pada tahun 1886, beberapa tahun sebelum Tjoe Bou San lahir dan meninggal di Cicurug pada tahun 1951. Pendidikan yang pernah ditempuhnya mencakup setengah tahun di Tiong Hoa Hak Tong Serang, pindah ke Tiong Hoa Hak Tong Betong selama setahun, ke Tiong Hoa Hwe Koan Batavia, lalu pindah ke Tiong Hoa Hwe Koan Bogor karena tidak cocok dengan udara di Batavia. Setelah tiga tahun di Bogor menamatkan semua kelas rendah dan kelas terakhir (7th standard) kemudian meneruskan ke Khay Lam Hak Tong di Nanking (Tiongkok) bagian dagang (setingkat SMU). Setelah lulus lalu melanjutkan ke Shanghai College of Commerce, sekolah tinggi cabang dari South Eastern University di Nanking. Hanya belajar satu tahun karena pelajaran yang diberikan sama dengan di Khay Lam Hak Tong. Lalu pinda ke Fuktan University di bagian Urusan Uwang (Financie) dan setelah dua tahun berhasil mendapat gelar Bachelorof Commercial Science.

Ia mulai menulis novel dan drama pada akhir 1920. Karya pertamanya berjudul "Allah yang Palsoe" terbit tahun 1919, yang menceritakan seorang tokoh yang memuja uang dan akhirnya membawa malapetaka kepada dirinya. Drama yang lain berjudul "Korban Kongrek" terbit tahun 1926. Ia mengkritik penyalahgunaan dana yang dilakukan beberapa pemimpin THHK yang menurut Claudine Salmon, plotnya diambil dari karangan Ibsen yang berjudul Musuh Publik. Roman karya Kwee yang mengharumkan namanya ialah Boenga Roos dari Tji kembang yang diterbitkan pertama kali tahun 1927.

Karya Kwee terbesar adalah Drama di Boven Digoel dengan tebal 718 halaman, pertama kali dimuat 1931. Tahun 1938 novel ini diterbitkan berupa buku, ceritanya sangat kompleks, tokoh-tokohnya kebanyakan pribumi yang mempunyai keyakinan ideologi dengan latar belakang keluarga yang berbeda. Namun, akhirnya mereka dipertemukan di Boven Digul, tempat orang-orang komunis dibuang setelah gagalnya pemberontakan komunis antara tahun-tahun 1926-1927. Pada dasarnya buku itu merupakan kisah cinta tetapi ia juga membahas masalah-masalah pergerakan politik, emansipasi wanita, bakti anak kepada orang tua, dan hubungan antara pribumi dan Tionghoa. Ada kritik sastra yang mengatakan, buku ini merupakan roman peranakan terbaik yang diterbitkan sebelum PD II.

Di antara sekian banyak pendukung kesastraan Melayu Tionghoa, Kwee yang paling menonjol. Dari jumlah karya sampai bobot tulisannya. Buku Sastra Cina Peranakan dalam Bahasa Melayu karya Claudine Salmon misalnya, mencatat tak kurang dari 115 karangan Kwee. Bisa jadi tulisan itu belum mencakup seluruh tulisannya, terutama esai-esainya yang tersebar di berbagai media di dalam dan luar negeri. Selain mengenai sastra, esai-esai tersebut juga mengupas masalah politik, sosial budaya, pendidikan, tata bahasa, juga soal perempuan. Itu sebabnya Kwee disebut sebagai penulis serba bisa. Selain itu, Kwee juga dikenal sebagai pendiri Sam Kauw Hwee, suatu ajaran yang menggabungkan tiga agama: Konfusius, Tao, dan Budha. Bahkan ia juga menulis tentang tesof agama Kristen dan Islam. Namanya dikenal di dunia internasional sebagai redaktur pelbagai media massa, seperti Panorama, Moestika Romans, dan Moestika Dharma. Novel hasil karyanya antara lain Ruma Sekola yang Saya Impikan (Bandung, 1925), Bunga Roos dari Cikembang (Batavia, 1927), dan Drama Dari Krakatau (Batavia, 1929). Salah satu karya politiknya, "Atsal moelahnya timboel pergerakan Tionghoa di Indonesia yang ditulisnya kurun 1936-1939 dimuat secara bersambung di Majalah Moestika Romans dan diterjemahkan oleh Prof. Lea Williams hingga diterbitkan oleh Cornell University Press.

Merupakan orang pertama yang minta jenazahnya diperabukan dan sejak saat itu banyak orang Tionghoa mengikuti jejaknya. Kemudian dua tempat perabuan dibangun, pertama dl Muara Karang (1958) dibiayai oleh Yayasan Shamsan Bumi dan Gabungan Sam Kauw Indonesia, kedua di Jelambar Hilir daerah Grogol dibiayai oleh Yayasan Krematorium. Abu biasanya dimasukkan ke dalam buli-buli dan diserahkan kembali kepada keluarganya. Abu disimpan di rumah atau diletakkan dalam rumah abu di Klenteng Cilincing. Ia merupakan tokoh Budha, usahawan dan sastrawan Indonesia berdarah Melayu-Cina. Ia menulis banyak buku tentang agama Budha, Islam, Taoisme, dan Konfusianisme. Karya sastranya bersifat didaktis, memberikan ajaran moral, sosial, dan pengertian teosofi kepada pembacanya.

 

 

Hits: 4284
encyclopedia/1c6708fc3160062fab228d387a69e700
Kwee Tek Hoay

Paling Populer

 
 
© 1995 - 2010 Dinas Komunikasi, Informatika dan Kehumasan Pemprov DKI Jakarta
Jl. Medan Merdeka Selatan 8-9 Blok F Lt 1 Telp: (+6221)3822255 Fax: (+6221)3822255 email: dki@jakarta.go.id | site map