Jakarta.go.id
Login  •  Signup

Beranda Ensiklopedi
CARI DI ENSIKLOPEDI

Topik Terkait

 
 

Kebayoran Baru

Share

Suatu wilayah kota baru yang merupakan upaya awal kota Jakarta untuk membagi beban dalam menyediakan fasilitas perkotaan yang mempunyai daya dukung dan perencanaan pembangunan perkotaan yang terencana, setelah era kemerdekaan. Pemekaran wilayah Kebayoran menghasilkan pusat pertumbuhan baru di selatan kota yang terus berkembang sampai saat ini. Pemekaran ini bagaimanapun juga sangat berpengaruh bagi pertumbuhan fisik kota. Kebayoran Baru merupakan satu model pemukiman yang bagus beserta infrastruktur dan sarana pendukungnya. Proyek pembangunan diserahkan kepada Centrale Stichting Wederopbouws (CSW), dan untuk Kebayoran Commissie diangkat pegawai pamongpraja dengan sebutan Stedelijk Bestuursambtenaar. Sejak 1952, jawatan yang diberi tugas membangun Kebayoran Baru bernama PCK (Pembangunan Chusus Kebayoran). Selanjutnya Kebayoran Baru mendapat sebutan Kota Satelit. Penyebutan tersebut berdasarkan letak kota yang dibangun di suatu dataran indah di sebelah selatan kota Jakarta dan sebelah timur desa Kebayoran yang sudah ada (Kebayoran Lama) seluas 730 ha dengan tujuan untuk meringankan kepadatan penduduk Kota Jakarta.

Berbeda dengan kawasan Menteng di Jakarta Pusat yang merupakan kota taman pertama di Indonesia rancangan para arsitek Belanda, Kebayoran Baru di Jakarta Selatan adalah kota taman pertama di Indonesia yang dirancang arsitek lokal, Moh. Soesilo (1948). Kebayoran Baru merupakan adaptasi kota taman bergaya Eropa (Belanda) dalam iklim tropis sehingga sering disebut sebagai kota taman tropis yang banyak dikembangkan oleh Thomas Karsten di beberapa kota di Jawa (Bogor, Bandung, Malang) dan luar Jawa, di mana arsitek Moh. Soesilo adalah salah satu muridnya.

Kebayoran Baru memiliki konsistensi hierarki jalan dan peruntukan lahan yang jelas, mulai dari Blok A hingga Blok S. Sebagai kota taman, rancangan didominasi ruang terbuka hijau (RTH) lebih dari 30% dari total luas kota Kebayoran Baru 720 hektar. Taman kota (Taman Puring, Taman Patung Tumbuh Kembang, Taman Langsat, Taman Leuser, Taman Barito, Taman Christina Marta Tiahahu, Taman PKK), taman pemakaman umum (TPU Blok P yang sudah digusur, TPU Kramat Pela), lapangan olahraga (Blok S yang bersejarah, Al Azhar), jalur hijau jalan raya, dan bantaran sungai saling menyatu dengan didominasi deretan pohon besar berusia puluhan tahun berdiameter lebih dari 50 cm yang harus dilindungi.

Kebayoran Baru dikelilingi sabuk hijau bantaran Kali Grogol di Barat dan Kali Krukut di timur, serta kompleks Gelora Bung Karno di utara. Fasilitas ruang publik dengan konsep taman-taman penghubung (connector park), seperti yang biasa ditemukan pada kota-kota taman di Singapura, Melbourne, atau London, disediakan dalam bentuk taman kota dan taman lingkungan yang tersebar sistematis, terencana, dan saling berhubungan tak terputus disesuaikan dengan peruntukan hunian. Kebayoran Baru juga masih memiliki cadangan RTH cukup luas yang merupakan halaman hijau bangunan, seperti di Hotel Dharmawangsa yang eksotik, American Club, Kantor Kejaksaan Agung RI, SMA 70 Bulungan, Kompleks Yayasan Al Azhar, Kantor Departemen Pemukiman dan Prasarana Wilayah, serta Mabes Polri.

Kebayoran Baru memiliki kekayaan warisan budaya arsitektur bangunan yang sederhana, modern, dan tropis yang semestinya harus dilindungi. Berbagai tipe bangunan hunian dengan berbagai ukuran dan gaya berbeda melatarbelakangi sejarah panjang kota taman ini. Konservasi tipe-tipe bangunan bersejarah seperti rumah besar di Jl. Sriwijaya, Jl. Adityawarman, Jl. Galuh, Jl. Kertanegara, Jl. Daksa, Jl. Erlangga, Jl. Pulokambeng (Blok J dan L); rumah sedang (300-500 m) di Jl. Lamandau dan Jl. Mendawai (Blok D); rumah kecil berdiri tunggal maupun gandeng dua (200 m') di Jl. Kerinci (Blok E) dan di Jl. Gandaria (Blok C), rumah jengki di Jl. Sinabung yang dirancang Moh Soesilo, arsitek kota Kebayoran Baru; rumah deret mungil dan cantik di Jl. Brawijaya; serta gedung dan flat Bank Indonesia di Blok J, dan flat Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian di Jl. Wijaya yang termasuk gedung modern pada zamannya. Selain itu masih ada Masjid Al-Azhar, Masjid At-Taqwa, Gereja Santa Perawan Maria, Gereja Pantekosta, Gereja Santo Yohanes, serta tak ketinggalan kediaman (alm) Ibu Fatmawati di Jl. Sriwijaya 26 yang sangat bersejarah.

Kebayoran Baru juga sudah merencanakan pusat-pusat perniagaan, seperti Pasar (tradisional) Santa, Pasar Blok A dengan menara airnya yang menjadi landmark, Pasar Mayestik, dan Blok M, serta kios-kios bunga, buah, dan burung yang berada di sekitar Jl. Barito, yang masih dapat dikembangkan lebih optimal ketimbang mengubah kawasan perumahan secara keseluruhan menjadi kawasan usaha.

 

 

Hits: 3407
encyclopedia/b828f34d2f160c36638edf16b3d38055
Salah satu model rumah di kawasan Kebayoran Baru

Paling Populer

 
 
© 1995 - 2010 Dinas Komunikasi, Informatika dan Kehumasan Pemprov DKI Jakarta
Jl. Medan Merdeka Selatan 8-9 Blok F Lt 1 Telp: (+6221)3822255 Fax: (+6221)3822255 email: dki@jakarta.go.id | site map