Data Dinas Damkar dan PB DKI Jakarta menyebutkan, pada tahun 2009 jumlah petugas lapangan pemadam kebakaran mencapai 3.063 orang. Namun, pada tahun 2010 ini, sebanyak 216 petugas damkar pensiun, sehingga jumlah petugas lapangan menyusut menjadi 2.847 orang. Idealnya, untuk melayani penduduk Jakarta yang berkisar 10 juta orang, dibutuhkan lagi tenaga petugas damkar sebanyak 7.521. Karena itu, Dinas Damkar pun telah mengusulkan permohonan tenaga petugas damkar kepada Gubernur DKI Jakarta sebanyak 4.674 orang. Hingga kini usulan tahap pertama ini belum mendapatkan persetujuan dari Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo.
Selain kekurangan petugas di lapangan, Dinas Damkar DKI Jakarta ini juga mengalami kekurangan staf operasional kantor karena pegawai yang pensiun. Data staf operasional kantor yang tercatat pada tahun 2010, jumlahnya mencapai 2.500 orang. Namun pada tahun 2011 akan menyusut sekitar 326 orang atau menjadi 2.174 orang.
Kepala Dinas Damkar dan PB DKI Jakarta, Paimin Napitupulu, membenarkan pihaknya kekurangan SDM sebagai petugas damkar di lapangan. Terlihat dari satu unit mobil pemadam kebakaran hanya dioperasikan oleh tiga orang. Padahal idealnya, satu unit mobil damkar itu harus dioperasikan oleh enam orang petugas. Sedangkan mobil damkar yang dimiliki ada sebanyak 160 unit. Itu belum termasuk petugas damkar di lapangan yang bertugas memadamkan api.
Melihat kondisi ini, Paimin mengungkapkan perlu adanya sebuah lembaga atau tempat pendidikan untuk melatih SDM baru yang akan bertugas sebagai petugas pemadam kebakaran. “Ke depan akademi ini akan menjadi rujukan bagi daerah lain, untuk melatih SDM yang akan lulus sebagai tenaga yang andal dan terampil dalam menanggulangi kebakaran,” ujar Paimin Napitupulu usai menerima kunjungan perwakilan Pemadam Kebakaran Malaysia di kantor Dinas Damkar dan PB DKI Jakarta, Selasa (2/2).
Rencananya, akademi ini akan menggantikan Balai Pusat Pendidikan dan Pelatihan Dasar Militer di Ciracas. Pembentukan materi pelajaran dan pelatihan akan bekerja sama dengan Pemadam Kebakaran Malaysia dan tiga universitas di Jakarta yaitu Universitas Negeri Jakarta, Universitas Indonesia, dan Universitas Pelita Harapan.
Namun begitu, hingga kini, Paimin belum bisa menentukan kapan Fire Academy ini akan dibangun, sebab pihaknya sedang melakukan pengkajian terlebih dahulu. “Belum tahu pasti target kapan dibangun akademi ini. Karena kita sedang kaji sistem pengajaran, pelatihan, dan biaya pembangunan,” jelasnya.
Ketua Timbalan Bomba dan Penyelamat Pemadam Kebakaran Malaysia, Datu Wan Mohammad Noor Ibrahim, menyatakan bersedia membantu pendirian Akademi Pemadam Kebakaran di Jakarta. Sebab, di Malaysia sendiri sudah memiliki Akademi Bomba dan Penyelamat Malaysia di Wakaf Tapai, Terengganu, Malaysia. “Saya bersedia membantu. Karena permasalahan yang dihadapi damkar di Jakarta sama dengan yang dihadapi di Malaysia,” kata Datu Wan.
Dia mengungkapkan, personil damkar di Malaysia hanya mencapai 13 ribu personil untuk melayani populasi Malaysia sebanyak 27 juta orang. Artinya satu petugas damkar harus melayani 2 ribu orang. Namun dengan adanya akademi pemadam kebakaran, dia optimis kekurangan personil akan bisa terpenuhi.
Peserta didik yang masuk ke akadami tersebut cukup banyak karena gaji yang diterima petugas damkar mencapai 1.000 ringgit atau sebesar Rp 3,4 juta per bulan. Selain itu, disediakan helikopter untuk membantu petugas dalam mengevakuasi korban kebakaran agar cepat sampai ke rumah sakit.
Sumber : beritajakarta.com


