Di Taman : Kita Semai Peradaban

Di Taman : Kita Semai Peradaban

Masih adakah ruang untuk menyemai peradaban di tengah hiruk-pikuk Jakarta? Datanglah ke beberapa taman kota. Di sana, kita bisa bergabung dengan warga yang melepaskan diri dari keruwetan kota, bersantai, sekaligus bergaul dengan sesama secara lebih manusiawi.

Taman Suropati di Jalan Diponegoro, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (31/7) malam lalu, berdenyut hidup. Puluhan warga duduk-duduk santai di ruang terbuka di antara pohon-pohon mahoni berusia ratusan tahun. Sinar temaram lampu yang menyorot dari bawah menambahkan suasana romantis.

Sejumlah pasangan suami-istri bercengkerama di dekat kolam sambil mengawasi anak- anaknya berlarian di rerumputan. Banyak pasangan kekasih asyikngobrol di bangku. Kelompok pengamen tak henti mendendangkan lagu-lagu cinta.

Jika haus, mereka membeli minuman dari pedagang asongan yang hilir mudik dengan sepeda. Maklum, di taman peninggalan Belanda itu ada jalur-jalur jalan yang dirapikan dengan batu alam. Lingkungannya juga bersih dan asri.

Berdiam sejenak di ruang terbuka seluas sekitar 1, 3 hektar itu serasa menemukan ruang rehat yang menyegarkan. Kemacetan lalu lintas, cengkeraman gedung-gedung tinggi, atau kebisingan kota seperti redam begitu saja.

”Di sini saya bisa menghirup udara segar dan anak-anak bisa bermain di rumput luas,” kata Rino Maretta (31) dan istrinya, Puspasari (30), keluarga pengunjung taman.

Suasana itu kontras dengan lingkungan tempat tinggalnya di permukiman padat di Kramat Raya, Jakarta Pusat. Di sana nyaris tak ada tempat terbuka, apalagi taman. ”Kalau buka pagar rumah, sudah langsung jalan!” kata Rino.

Banyak keluarga lain yang juga langganan menyambangi taman ini, terutama setiap akhir pekan. Tempat ini dianggap nyaman untuk bersantai. Biayanya juga murah karena hanya perlu merogoh uang belasan ribu rupiah untuk ongkos parkir atau jajan ala kadarnya. Bandingkan saja dengan jalan-jalan di mal atau pusat perbelanjaan.

Masih ada sejumlah taman di Jakarta yang tetap lestari dan berfungsi seperti Taman Suropati. Sebut saja Taman Ayodya di dekat Blok M, Jakarta Selatan; Taman Menteng di Jalan HOS Cokroaminoto; Taman Situ Lembang di Menteng; atau Hutan Kota Srengseng di Kembangan, Jakarta Barat.

Pertemuan

Tak sekadar jadi tempat bercengkerama, taman-taman itu juga enak untuk menyalurkan beragam ekspresi. Setiap orang bebas memilih kegemaran masing-masing. Ada yang senang joging, senam, main musik, diskusi, melukis, atau pacaran, atau sekadar kongko-kongko.

Moenarso (78) dan istrinya, warga Bintara, Bekasi, misalnya, suka berjalan-jalan di Taman Menteng. Olahraga kecil ini bagus buat lelaki yang pernah terkena serangan stroke itu. ”Di sini tenang, enak buat dede (berjemur),” kata Nyonya Moenarso sambil menyuapi suaminya buah pepaya.

Di beberapa taman, bahkan ada komunitas terorganisasi yang berkegiatan rutin. Ambil contoh Taman Suropati yang menjadi markas bagi komunitas juggling (permainan lempar botol minuman ala bartender) serta Komunitas Taman Seni Indonesia (Kota Seni). Kelompok seni ini rutin menggelar latihan main instrumen musik setiap akhir pekan.

”Saya ikut latihan main biola siang hari. Sorenya, praktik main orkestra di depan banyak orang,” kata Melodi (15), siswa SMA Setiabudi, Jakarta, yang ikut bergabung dalam kelompok ini sejak dua tahun lalu.

Sebagai ruang publik, taman juga mendekatkan hubungan antarmasyarakat. Beragam kelompok masyarakat bisa berinteraksi dalam satu ruang bersama, tanpa beban kelas ekonomi atau sosial. Mereka bisa saling menenggang rasa antarsesama.

Lihat saja kerumunan ratusan pengunjung Taman Ayodya setiap malam Minggu. Kendaraan, pakaian, makanan, dan perilaku mereka bisa bermacam-macam, bahkan rada-rada aneh. Tetapi, ketika duduk bersama di jejeran bangku berundak mirip teater arena di taman itu, semuanya melebur secara demokratis.

”Macam-macam orang di sini, tapi tidak saling ganggu, bahkan bisa saling berkenalan,” kata Doni (20), pemuda dari Cilandak, Jakarta Selatan, yang rajin menyambangi taman itu sejak diresmikan pemerintah Maret 2009.

Peradaban

Meski luasnya masih minim (hanya 9,6 persen dari total luas DKI Jakarta), taman-taman kota di Jakarta masih diandalkan sebagai ruang publik bersama. Di situ, setiap warga ambil jeda sejenak dari berbagai persoalan yang menghantui Jakarta, katakanlah seperti lalu lintas macet, tata kota ruwet, polusi, banjir, atau kriminalitas.

”Kota ini terlalu kasar dengan beton-beton yang sesak, kehidupan yang keras dan hedonis, kepungan transaksi komersial, dan perilaku manusia yang semakin individualis dan instan. Taman bisa meredakan semua kekerasan itu dan menjadi ruang kontemplasi bersama,” kata pengamat tata kota dari Universitas Trisakti Jakarta, Yayat Supriatna.

Maka, wajar saja jika Daniel Stokols dan Irwin Altman, editor buku Public Space: Environment and Behavior Series (Cambridge University Press, New York, 1992), menyebut taman sebagai paru-paru kota,the lungs of the city. Bahkan, lebih dari membuat kita bisa bernapas secara sehat, taman sejatinya juga memfasilitasi tumbuhnya peradaban.

(XAR)

Foto :KOMPAS/PRIYOMBODO

Sumber : Kompas.com