www.jakarta.go.id

Wilayah Budaya Betawi

Wilayah Budaya Betawi

Wilayah Budaya Betawi

Jakarta.go.id - Di Batavia dan sekitarnya berangsur-angsur terjadi pembauran antar suku, bahkan antar bangsa, Perbauran itu terjadi terutama akibat campuran. Sebagai contoh. istri Pangeran Purbaya dari Banten, adalah puteri dari kapten Matara dari Makasar.

Hasil dari pembaruan antar suku dan antar bangsa itu lambat laun keturunannya kehilangan ciri-ciri hudaya asal masing-masing yang pada akhirnya semua unsur itu luluh menjadi sebuah kelompok etnis yang kemudian dikenal dengan sebutan orang Betawi, masyarakat Betawi atau biasa pula disebut kaum Betawi, sebagaimana yang ditampilkan oleh Mohamad Husnirhamrin sebagai ketua kaum Betawi nama sebuah organisasi yang masih bersifat kesukuan pada masa sebelum terbentuknya organisasi-organisasi yang bersifat kebangsaan, awal abad ke duapuluh.

Dari masa ke masa masyaiakat Betawi terus berkembang rJengan ciri-ciri budayanya yang makin lama semakin mantap, sehingga mudah dibedakan dari kelompok etnis yang lain. Namun bila dikaji lebih mendalam tampak unsur-unsur kebudayaan yang menjadi sumber asalnya.

Bagi masyarakat Betawi sendiri segala yang tumbuh dan berkembang ditengah kehidupan budayanya dirasakan sebagai miliknya sendiri seutuhnya, tanpa mempermasalahkan dari mana asal unsur-unsur yang telah membentuk kebudayaannya itu. Demikian pulalah sikapnya terhadap keseniannya sebagai salah satu unsur kebudayaan yang paling kuat mengungkapkan ciri-ciri ke Betawiannya, terutama pada seni pertunjukannya, disamping bahasanya.

Bahasa Melayu dialek Betawi yang untuk mudahnya biasa disebut bahasa Betawi, merupakan ciri kebudayaan yang paling menonjol dari orang Betawi,digunakan mereka secara turun temurun sebagai bahasa sehari-hari. Berdasarkan penggunaan bahasa oleh penduduk "aslinya",ternyata bahwa wilayah yang dapat dianggap sebagai wilayah budaya Betawi itu meliputi seluruh wilayah DKI Jakarta, sebagian besar wilayah Bekasi, sebagian wilayah Bogor, sebagian wilayah Kecamatan Batu Jaya di Kabupaten Krawang dan sebagian wilayah Tangerang.

Menurut garis besarnya wilayah budaya Betawi dapat dibagi menjadi dua bagian yaitu Betawi tengah atau Betawi Kota dan Betawi pinggiran. Yang termasuk Betawi tengah atau Betawi Kota dapatlah disebutkan kawasan wiiayah yang pada zaman akhir pemerintahan jajahan Belanda termasuk wilayah Gemeente Batavia, kecuali beberapa tempat seperti Tanjung Priuk dan sekitarnya. sedangkan daerah-daerah diluar kawasan tersebut, baik yang termasuk wilayah DKI Jakarta apalagi daerah-daerah disekitarnya, merupakan wilayah Betawi pinggiran yang pada masa-masa yang lalu oleh orang Betawi Tengah suka disebut Betawi Ora.

Timbulnya dua wilayah budaya Betawi disebabkan berbagai hal antara lain karena perbedaan perkembangan historis, ekonomi, sosiologiS, perbedaan kadar dari unsur-unsur etnis yang menjadi cikal bakal penduduk setempat, termasuk kadar budaya asal suku masing-masing yang mempengaruhi kehidupan budaya mereka selanjutnya seperti halnya pendidikan. Di wilayah Betawi rengah sudah sejak awal abad ke sembilan belas terdapat prasarana pendidikan formal seperti sekolah-sekolan, Demikian juga untuk pendidikan keagamaan. Apalagi sejak awal abad keduapuluh, setelah Pemerintah Jajahan Belanda melaksanakan apa yang disebut politik etis, yang penyelenggaraannya banyak ditunjang oleh pemerintah Gemeente ( Kota Praja )Batavia.

Betawi pinggiran hampir tidak terdapat prasarana pendidikan formal. Hal ini disebabkan karena hampir seluruh daerah itu pada zaman yang lalu sampai masa pendudukan balatentara Jepang, merupakan tanah-tanah partikelir yang dikuasai oleh tuan{uan tanah. Tuan-tuan tanah itu sama sekali tidak menaruh perhatian terhadap kemajuan penduduk yang menggarap tanahnya. Yang penting bagi mereka hanya masuknya cukai hasil pertanian yang dipungut dari para penggarap tanah. Kemajuan penduduk bahkan dianggap ancaman bagi kedudukan dan keuntungan mereka. Apabila pendidikan Agama, dalam hal ini agama lslam, karena ternyata setiap perlawanan rakyat bersenjata di kawasan tanah pertikelir khususnya, berlangsung atas pimpinan pemuKa agama, seperti pemberontakan Entong Gendut di condet pada tahun 1916 secara langsung digerakan oleh Haji Amat Awab.

Pemberontakan di Tangerang pada tahun 1926 secara tidak langsung dipimpin Haji Kamul dan Haji Riun dari Kalideres.

Masyarakat Betawi yang bermukim di tanah{anah pertikelir itu seolah-olah memperoleh penjajahan ganda, dari pemerintah Jajahan sendiri dan dari tuan-tuan tanah yang seolah-olah mempedakukan mereka sebagai budaknya dan tidak Jarang bertindak sewenang-wenang melalui kaki tangannya. sebagai akibatnya sebagian penduduknya menjadi apatis menerima nasibnya yang malang. Ada pula yang dengan mengandalKan kekuatan fisik serta keterampilannya berkelahi, ditambah dengan ilmu klenik sebagai penguat semangat, berusaha untuk melepaskan diri dari ikatan penjajahan ganda itu bahkan banyak yang terus melangkah pada jalan kriminal, melakukan teror, perampokan dan sebagainya. Keadaan seperti itu terbayang dalam cerita-cerita seperti tuan Tanah Kedawung Mandor Alias, Jampang, Mat tompel dan sebagainya. pendukung utama dari cerita-cerita seperti itu adalah masyarakat Betawi pinggiran, sebagaimana terbukti dari pergelaran-pergelaran Topeng atau Lenong.

Masyarakat Betawi Tengah yang pada umumnya iebih maju dari yang dipinggiran, lebih banyak menggemari cerita-cerita yang bernafaskan Agama lslam yang mendapat pengaruh budaya Timur Tengah seperti cerita-cerita dari seribu satu Malam yang terkenal itu. sedangkan masyarakat keturunan cina sudah barang tentu lebih menyenangi cerita-cerita yang berasal dari tanah leluhurnya, seperti sam Kok atau cerita Tiga Negeri, pho Si Lie Tan dan sebagainya.

Diwilayah budaya Betawi tengah tampak keseniannya banyak menyerap seni budaya Melayu, sebagaimana terlihat pada musik dan tari samrah. Hal ini antara lain disebabkan karena setelah adanya Konvensi London pada tahun 1824 dan Traktat sumatra tahun 1871, banyak orang-orang Riau kepulauan dari daratan sumatra Timur hijrah ke Batavia, sebagai pedagang. Disamping itu masyarakatnya merupakan pendukung kesenian yang bernafaskan lslam, seperti berbagai macam rebana, gambus dan kasidahan. sedang didaerah pinggiran berkembang kesenian tradisional lainnya seperti Topeng, Wayang, Ajeng, Tanjidor dan sebagainya yang tidak terdapat dalam masyarakat Betawi tengah. Demikian pula dalam hal bahasa. Menurut garis besarnya juga dapat dibagi dua sub dialek yaitu sub dialek Betawi Tengah atau Kota dan sub dialek Betawi pinggiran atau Betawi ora. pada sub dialek Betawi tengah menurut garis besarnya, terdapat vokal akhir /e/ pada beberapa kata yang dalam bahasa Indonesia berupa /a/ atau /ah/. Dipinggiran tidak terdapat perubahan vokal /a/ menjadi /e/. Di Betawi Tengah pun terdapat beberapa sub-sub dialek, yang sekedar ilustrasi dapat dikemukakan di sini sebagai berikut :

 

Bahasa

Indonesia

SUB DIALEK
Jatinegara Tanah Abang Slipi Kemayoran Glodok

Rumah

 

 

saya

bisa

satu

roti

bapak

rume

(e miring)

 

saye

bisa

hatu

ruti

babe

rume

(e pepet)

 

saye

bise

atu

roti

a

rume

(e.miring.dengan.tekanan.akhir)

 

saye

bise

atu'

roti

baba

 

 

 

saye

bisa

hatu

ruti

babe

 

 

 

sayah

bisa

satu

roti

babah

 

Satu hal lain yang dapat dicatat bahwa pemakaian dialek atau logat yang satu tidak akan mengalami kesulitan untuk, berbicara dengan pemakai logat lainnya. Pembicaraan berlangsung lancar, meskipun orang-orang yang terlibat masing-masing menggunakan Bahasa Betawi menurut logat masing-masing, termasuk logat pinggiran.

Perlu dicatat pula, bahwa dalam hal seni budaya, masyarakat Metawi Tengah tampaknya masih banyak yang sampai sekarang tidak dapat menerima seni budaya Betawi Pinggiran sebagai miliknya. Demikian pula sebaiknya, orang Betawi Pinggiran belum menerima seni budaya Betawi Tengah sebagai salah satu bentuk seni budayanya.

 

Referensi : Dinas Kebudayaan Dan permuseuman Provinsi DKI Jakarta, Ikhtisar Kesenian Betawi, 2003

Sumber : Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta