www.jakarta.go.id

Seni Sastra

Seni Sastra

Demikian pula kumpulan cerita pendek yang ditulis oleh S.M Ardan "Terang Bulan Terang di Kali" (1955) dianggap sebagai sastra indonesia modern. Karya ini melukiskan kehidupan rakyat kecil di Jakarta dan dituliskan dengan bahasa Betawi, tetapi para pengamat sastra membicarakannya dalam rangka sastra indonesia, modern. Bahkan S.M. Ardan yang terlahir di Medan, dianggap "tokoh pertama dalam sastra Indonesia modern yang secara sadar mempergunakan dialek Jakarta untuk kepentingan artistik.....".

Karya sastra dengan bahasa Betawi dan menceritakan kehidupan sehari-hari masyarakat jakarta sekarang banyak beermunculan dalam mingguan-mingguan yang terbit di Jakarta. Seorang anak Betawi asli, Firman Muntaco merupakan tokoh terpenting dalam jenis karya ini, baik oleh jumlah tulisannya yang cukup banyak maupun oleh keahliannya menggunakan ungkapan-ungkapan khas betawi. Seberkas cerita pendek dalam bahasa Betawi yang dikumpulkan dan diterjemahkan kedalam bahasa Jerman. (Adiwimarta :1973) merupakan penanda pentingnya kenyataan ini, juga dimata peneliti asing.

pemakaian bahasa Betawi sebagai wahana untuk menulis kritik-kritik sosial, dalam rubrik-rubrik "pajak" atau untuk dialog dalam cerita-cerita pendek, bahkan dalam film-film cerita, bahkan dalam film-film cerita, dewasa ini sudah menjadi umum, dan rupanya diterima sebagai bagian dari bahasa sastra indonesia modern, Sejajar dengan itu RRI pun mempunyai mata acara tetap yang diberi nama "Kang sadi dari kang gado-gado" (kusir delman dan penjual gado-gado) yang umumnya berupa kritik sosial.

Dan ternyata bukan saja sekarang, surat-suratkabar menggunakan bahasa Betawi dalam rubrik "pojok" nya, surat kabar sebelum perang Kemerdekaan pun menggunakannya dalam rubrik non formal. Surat kabar "Taman Sari" yang terbit pada awal abad ini juga mempunyai rubrik yang diberi nama "Omong-omong Hari Senen" yang diasuh oleh orang yang menanamkan dirinya Oom Piet, dan menggunakan bahasa Betawi untuk tujuan yang sama. Surat kabar yang sama juga memuat laporan peradilan yang menggunakan bahasa Betawi dalam dialog-dialog pemeriksaan (13 januari 1984).

Pada akhir abad 19 dan permulaan abad 20, ketika di Indonesia mulai tumbuh sastra modern dan mulai banyak bahan cetak yang beredar dalam masyarakat, di Jakarta berkembang cerita-cerita dalam bahasa Melayu yang ditulis tangan. Uniknya naskah-naskah itu (yang diantaranya masih tersimpan dalam Museum Nasional) beredar sebagai bahan bacaan yang disewakan. Salah satu cerita semacam itu yang digarap oleh Nikmat Sunardjo berjudul "Hikayat Maharadja Gerebeg Djagad". Dalam naskah itu tertulis"

Ini hikayat cerita Maharaja Garebeg Jagat namanya, terlalu indah sekali ceritanya dan sedap wartanya. Dikasi tau wang sewanya sehari semalam sepuluh sen, sebab saya miskin, ada mempunyai anak dan istri, tiada mempunyai pekerjaan melainkan mengharap belas kasihannya yang sewa hikayat buat sehari semalam sepulu sen adanya. yang empunya saya, muhammad Bakri bin Sofyan bin usman Fadli, Betawi, Kampung Pecenongan Langgar Tinggi. Selesai sekarang pada 19 Nopember 1892 dan 29 Rabiulakhir "Hijratun-Nbi sallallahu" alayhi wa salam sanat" 1310.

Jelas sekali dikatakan bahwa menyewakan naskah merupakan mata pencaharian: oleh karenanya, jumlah naskah semacam itu tentunya jauh lebih banyak dari yang masih tersimpan sekarang. Menurut daftar yang sekarang masih ada, kebanyakan naskah itu merupakan cerita wayang, suatu jenis cerita yang ternyata sangat populer pula di kalangan orang Betawi waktu itu. Penulis cerita tersebut mencantumkan 30 judul cerita yang disewakannya.

Sayang sekali sastra tulis bahasa Betawi itu, baik yang modern yang sekrang berkembang maupun yang berasal dari masa yang lalu, belum dicatat dan analisis secara sungguh-sungguh.

Selanjutnya jenis sastra yang termasuk sastra lisan sebagai berikut. Jenis sastra lisan memberikan gambaran tentang keadaan masyarakatyang menghasilkannya, betapapun sederhananya bentuk penciptaannya memberikan pesan-pesan secara seni, halus terselubung. Tidak tidak berupa doktrin dalam bentuk brosur atau "leaflet" yang gamblang terbuka. Masyarakat yang agraris-ladang seperti orang Sunda misalnya, menggambarkan dalam sastranya tentang perkembangan pertaniannya karena adanya pengaruh luar yang lebih maju, dengan legenda "Lutung Kasarung". Riwayat perkawinan raja Erlangga dengan putri dari Sriwijaya telah digubah oleh Mpu darmaja adalah gambaran perkawinan Kamewara, raja kediri. Melalui kakawin itu pengarangnya menuliskan kameswara sebagai penjelmaan Dewa Asmara atau Kamajaya. Sastra yang dihasilakan masyarakat feodal, akan bersifat feodal pula. Masyarakat dalam peralihan budaya yang menurut ukuran tradisi dianggap menjurus kearah dekadensi, digubah oleh abdul Muis dalam karyanya Salah Asuhan.

Masyarakat jajahan, seperti halnya mesyarakat Betawi pada masa yang lalu, menghasilkan sastra yang jelas menggambarkan keadaan masyarakatnya yang tergencet, terbelakang, penuh penderitaan. kalaupun ada yang diceritakan "memperoleh penghidupan yang layak, ialah mereka yang beruntung "sebagai alat penjajah, karena ketaatannya, karena kesediaannya untuk dijadikan alat penjajah, sebagaimana banyak diceritakan dalam cerita rakyat Betawi, menjadi mandor atau pecalang, kedudukan yang lumayan bagi pribumi ditanah-tanah partikelir. masyarakat tergencet, terbelakang, penuh penderitaan tanpa ada harapan terlepas dari kemiskinan dan tekanan. Karena itu terjadi pengkultusan terhadap tokoh-tokoh seperti pitung, sebagai pembela orang-orang miskin yang terjepit, yang diabaikan dalam bentuk cerita rakyat Betawi.

Masyarakat Betawi yang sebagian bermukim ditanah-tanah partikelir, seolah-olah menjadi masyarakat jajahan ganda. Di samping pemerintah jajahan juga menjadi jajahan, bahkan menjadi budak tuan tanah yang tidak jarang bertindak sewenang-wenang terhadap penduduk melalui kaki tangannya. Sebagai akibatnya, sebagian besar penduduk menjadi aptis menerima nasibnya yang malang. Ada pula yang dengan mengandalkan kekuatan fisik serta ketrampilannya berkelahi, ditambah dengan ilmu klenik sebagai penguat semangat, melepaskan diri dari ikatan penjajahan ganda itu, melangkah pada jalan kriminal, melalui teror, pembunuhan, penganiayaan, perampokan dan sebagainya. Keadaan seperti itu terbayang dalam serita-cerita seperti "Tuan Yanah Kedaung: Mandor Alias: Jampang: Mat Tompel" dan sebainya. Golongan yang mungkin nenek moyangnya warga Pajajaran, ada pula yang mengabadikan kenangan terhadap leluhurnya dengan memelihara cerita-cerita seperti "sumurbandung: Ciungwanara: Ki ajar Surawisesa", dan sebagainya, yang mengingatkan kita pada cerita-cerita pantun sunda. Tetapi tentu saja dengan versi Betawi, pertemuan itu berlangsung berkat kemampuan Ciung Wanara membuat 7 kodi (140 buah) golok "'ujung turun". Perbedaan versi itu merupakan hal yang wajar terjadi dalam folklor lisan, seperti cerita rakyat."

Pendukung utama cerita-cerita seperti itu umumnya berada di daerah pinggiran wilayah budaya Betawi yang berbatasan dengan wilayah budaya Sunda, Masyarakat Betawi yang berada di daerah tengah atau orang Betawi kota, lebih banyak menggemari cerita-cerita yang diambil dari Seribu Satu Malam yang terkenal itu. Cerita-ceritanya berkisar sekitar Bagdad, Mesir, Damsyik dan sebagainya di timur Tengah. Masyarakat Betawi keturunan Cina sudah pasti lebih menyenangi cerita-cerita yang berasal dari negara leluhurnya, seperti cerita Sam Pek Eng Tay, roman semacam Romeo dan Yuliet, Pho Sie Lie Tan, yang menggambarkan suka derita seoarang putra raja Cina jaman dulu.

 

referensi :DINAS KEBUDAYAAN DAN PERMUSEUMAN PROPINSI DKI JAKARTA, Ikhtisar Kesenian Betawi, 2003

sumber :DINAS PARIWISATA DAN KEBUDAYAAN