Beranda Ensiklopedi

Topik Terkait

 
 

Wahidin Sudirohusodo, Mas Ngabehi

Share

Pelopor pergerakan Kebangsaan Indonesia dan pendiri Budi Utomo. Lahir di Melati, Yogyakarta, 7 Januari 1857 dan meninggal di Jakarta 26 Mei 1917. Masuk sekolah desa (sekolah Angka Dua) di desa Melati, pindah ke Yogyakarta untuk memasuki Lagere School dengan pertolongan iparnya seorang Belanda, Frits Kohle, administrator pabrik gula di Wonolopo, Sragen, Surakarta. Melanjutkan ke Tweede Europese Lagere Schooldi Yogyakarta. Tahun 1864 memasuki Sekolah Dokter Jawa di Jakarta, kemudian menjadi asisten pengajar di Sekolah Dokter Jawa tersebut. Mendirikan studie-fonds yang khusus disediakan untuk anak-anak yang pandai tetapi tidak mampu.

Sebagai seorang dokter, ia banyak bergaul dengan rakyat biasa. Karena itu, ia mengetahui penderitaan mereka dan menyadari bagaimana terbelakang dan tertindasnya rakyat akibat penjajahan Belanda. Salah satu cara untuk membebaskan diri dari penjajahan, rakyat harus cerdas. Ia mengunjungi tokoh-tokoh masyarakat di beberapa kota di Jawa. Mereka diajaknya untuk mendirikan 'dana pelajar'. Dana itu akan dipakai untuk menolong pemuda-pemuda yang cerdas, tetapi tidak mampu melanjutkan sekolahnya. Ajakannya kurang mendapat sambutan. Di Jakarta, ia mengunjungi para pelajar STOVIA dan dibentangkan gagasannya. Para pelajar itu dianjurkannya supaya mendirikan organisasi yang bertujuan memajukan pendidikan dan meninggikan martabat bangsa. Buah pikirannya mendapat sambutan baik dari pelajar-pelajar STOVIA. Mereka juga menyadari bagaimana buruknya nasib rakyat Indonesia pada waktu itu. Pada tanggal 20 Mei 1908 berdirilah sebuah organisasi yang diberi nama Budi Utomo. Organisasi itu didirikan oleh Sutomo dan kawan kawannya, tetapi yang menjadi pendorong untuk berdirinya ialah Dr. Wahidin. Budi Utomo merupakan organisasi modern pertama yang lahir di Indonesia. Karena itu, tanggal lahir Budi Utomo diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional.

Selain itu, ia menerbitkan majalah Rewa Doemilah (1904) yang artinya "penerangan", dimaksudkan untuk menyampaikan kepada rakyat bagaimana pentingnya arti pengajaran. Majalah Guru Desa menerangkan bagaimana pentingnya kesehatan, sebagai lawan terhadap kepercayaan kepada dukun dan tahyul di waktu itu. Karena pengaruh darinya pula, Sutomo dan kawan-kawannya murid-murid STOVIA, mendirikan Budi Utomo pada 20 Mei 1908, yang kemudian diakui sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Di Jakarta, namanya diabadikan sebagai nama jalan di daerah Gunung Sahari, Jakarta Pusat.

Hits: 5367

Paling Populer