|
|

Beranda 
Mengenal Jakarta 
Kilas Jakarta Kilas Jakarta
|
|
|   | | Sejarah Jakarta |
| | | 04 Jan, 2008
|
|
|
Jakarta bermula dari sebuah bandar kecil di muara Sungai Ciliwung sekitar 500 tahun silam. Selama berabad-abad kemudian kota bandar ini berkembang menjadi pusat perdagangan internasional yang ramai. Pengetahuan awal mengenai Jakarta terkumpul sedikit melalui berbagai prasasti yang ditemukan di kawasan bandar tersebut. Keterangan mengenai kota Jakarta sampai dengan awal kedatangan para penjelajah Eropa dapat dikatakan sangat sedikit.

Laporan para penulis Eropa abad ke-16 menyebutkan sebuah kota bernama Kalapa, yang tampaknya menjadi bandar utama bagi sebuah kerajaan Hindu bernama Sunda, beribukota Pajajaran, terletak sekitar 40 kilometer di pedalaman, dekat dengan kota Bogor sekarang. Bangsa Portugis merupakan rombongan besar orang-orang Eropa pertama yang datang ke bandar Kalapa. Kota ini kemudian diserang oleh seorang muda usia, bernama Fatahillah, dari sebuah kerajaan yang berdekatan dengan Kalapa. Fatahillah mengubah nama Sunda Kalapa menjadi Jayakarta pada 22 Juni 1527. Tanggal inilah yang kini diperingati sebagai hari lahir kota Jakarta. Orang-orang Belanda datang pada akhir abad ke-16 dan kemudian menguasai Jayakarta.
Nama Jayakarta diganti menjadi Batavia. Keadaan alam Batavia yang berawa-rawa mirip dengan negeri Belanda, tanah air mereka. Mereka pun membangun kanal-kanal untuk melindungi Batavia dari ancaman banjir. Kegiatan pemerintahan kota dipusatkan di sekitar lapangan yang terletak sekitar 500 meter dari bandar. Mereka membangun balai kota yang anggun, yang merupakan kedudukan pusat pemerintahan kota Batavia. Lama-kelamaan kota Batavia berkembang ke arah selatan. Pertumbuhan yang pesat mengakibatkan keadaan lilngkungan cepat rusak, sehingga memaksa penguasa Belanda memindahkan pusat kegiatan pemerintahan ke kawasan yang lebih tinggi letaknya. Wilayah ini dinamakan Weltevreden. Semangat nasionalisme Indonesia di canangkan oleh para mahasiswa di Batavia pada awal abad ke-20.
Sebuah keputusan bersejarah yang dicetuskan pada tahun 1928 yaitu itu Sumpah Pemuda berisi tiga buah butir pernyataan , yaitu bertanah air satu, berbangsa satu, dan menjunjung bahasa persatuan : Indonesia. Selama masa pendudukan Jepang (1942-1945), nama Batavia diubah lagi menjadi Jakarta. Pada tanggal 17 Agustus 1945 Ir. Soekarno membacakan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia di Jakarta dan Sang Saka Merah Putih untuk pertama kalinya dikibarkan. Kedaulatan Indonesia secara resmi diakui pada tahun 1949. Pada saat itu juga Indonesia menjadi anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Pada tahun 1966, Jakarta memperoleh nama resmi Ibukota Republik Indonesia. Hal ini mendorong laju pembangunan gedung-gedung perkantoran pemerintah dan kedutaan negara sahabat. Perkembangan yang cepat memerlukan sebuah rencana induk untuk mengatur pertumbuhan kota Jakarta. Sejak tahun 1966, Jakarta berkembang dengan mantap menjadi sebuah metropolitan modern. Kekayaan budaya berikut pertumbuhannya yang dinamis merupakan sumbangan penting bagi Jakarta menjadi salah satu metropolitan terkemuka pada abad ke-21.
* Abad ke-14 bernama Sunda Kelapa sebagai pelabuhan Kerajaan Pajajaran.
* 22 Juni 1527 oleh Fatahilah, diganti nama menjadi Jayakarta (tanggal tersebut ditetapkan
sebagai hari jadi kota Jakarta keputusan DPR kota sementara No. 6/D/K/1956).
* 4 Maret 1621 oleh Belanda untuk pertama kali bentuk pemerintah kota bernama Stad
Batavia.
* 1 April 1905 berubah nama menjadi 'Gemeente Batavia'.
* 8 Januari 1935 berubah nama menjadi Stad Gemeente Batavia.
* 8 Agustus 1942 oleh Jepang diubah namanya menjadi Jakarta Toko Betsu Shi.
* September 1945 pemerintah kota Jakarta diberi nama Pemerintah Nasional Kota Jakarta.
* 20 Februari 1950 dalam masa Pemerintahan. Pre Federal berubah nama menjadi Stad
Gemeente Batavia.
* 24 Maret 1950 diganti menjadi Kota Praj'a Jakarta.
* 18 Januari 1958 kedudukan Jakarta sebagai Daerah swatantra dinamakan Kota Praja
Djakarta Raya.
* Tahun 1961 dengan PP No. 2 tahun 1961 jo UU No. 2 PNPS 1961 dibentuk Pemerintah
Daerah Khusus Ibukota Jakarta Raya.
* 31 Agustus 1964 dengan UU No. 10 tahun 1964 dinyatakan Daerah Khusus Ibukota
Jakarta Raya tetap sebagai Ibukota Negara Republik Indonesia dengan nama Jakarta.
* Tahun1999, melalaui uu no 34 tahun 1999 tentang pemerintah provinsi daerah khusus
ibukota negara republik Indonesia Jakarta, sebutan pemerintah daerah berubah menjadi
pemerintah provinsi dki Jakarta, dengan otoniminya tetap berada ditingkat provinsi dan
bukan pada wilyah kota, selain itu wiolyah dki Jakarta dibagi menjadi 6 ( 5 wilayah
kotamadya dan satu kabupaten administrative kepulauan seribu)
Undang-undang Nomor 29 tahun 2007 tentang Pemerintahan Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta sebagai Ibukota Negara Kesatuan Republik Indonesia(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 140, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4700); | | | |
|
Jakarta.go.id - Dahulu kala ada seekor ayam dan seekor bebek bersama. Keduanya bersahabat akrab. Kemana pun ayam pergi, bebek selalu menyertainya, kecuali apabila ayam sedang berenang. Waktu itu memang bebek tak dapat berenang, ayamlah yang cakap berenang. |
|
Jakarta.go.id - Si Amat seorang yang malas luar biasa. Setiap hari kerjanya hanya mengilik-ngilik telinga dengan bulu ayam. Karenanya ia tak dihiraukan oleh orang-orang. Pada suatu hari seorang tetangganya mengadakan selamatan. Semua orang di kampungnya diundang. Hanya Si Amat saja yang tidak. Bahkan tak ada seorang pun yang ingat untuk mengajaknya. Saat selamatan berlangsung, terdengarlah suara puji-pujian berzanzi dari rumah itu. Si Amat mendengarkan dari samping rumah itu. Terbayanng di benaknya, berbagai juadah panganan yang disuguhkan orang selamatan. Tak kuasa Si Amat menahan titik air liurnya. Karena sangat inginnya menikmati panganan berkat selamatan, Si Amat menjadi kesal. Pikirnya, sungguh tak adil, semua orang diundang sedang dirinya tidak. Makin keras berzanzi berkumandang, makin gusar hati Si Amat. |
|
Jakarta.go.id - Tersebutlah seorang laki-iaki, si Bener namanya. Tiada lain kerja si Bener hanyalah mengail. Setiap hari ia mengail dilaut. Mata kailnya jarum sedang, umpannya bekatul. Karena itu ia tak pernah berhasil mendapatkan ikan. Malah ikan-ikan di laut menjadi kian banyak, sebab setiap hari memakan bekatul umpan kail Si Bener. Raja ikan di dasar lautan mengetahui hal itu. Maka sang raja mengumpulkan seluruh rakyatnya. Kepada para ikan raja itu berkata,"Hai rakyatku, kita harus menyayangi Si Bener, sebab setiap hari kita diberinya makan". "Akur-akuur". Seru ikan-ikan itu senang. "Hai raja" , ujar cucu! "Umurku sudah amat tua. Tak guna lagi hidup. Aku ingin membuktikan nyawaku kepada Si Bener". "Na baguslah jika demikian", sahut Raja ikan, "Ini telanlah"' Raja ikan membeiikan intan sebesar kepala. |
|
Jakarta.go.id - Di atas dahan pohon yang rindang, si tua bangau tong-tong memperhatikan air telaga di hadapannya. Ikan-ikan besar, kecil tampak berenang-renang dengan elok-eloknya. Bangau tong-tong hanya mampu menelan liurnya. Perutnya keroncongan minta diisi, namun ia terlalu tua untuk memburu ikan-ikan di telaga yang jernih itu. Tiba-tiba paruh si tua bangau mendongak ke langit. Ia baru saja mendapat satu akal bulus. Suatu cara untuk mendapatkan ikan tanpa harus mengejar-ngejar mereka. "Hai kawan-kawan", "Si Bangau berseru-seru, "kemarau segera akan tiba." "Heh, apa pedulimu," ujar si Cabus. "Semua juga tahu kemarau pasti datang", sahut Si Ketam. "Sudah, tak perlu hiraukan si tua pandir itu" si Tele berkata ketus. |
|
Jakarta.go.id - "Ck ck ck, sungguh menakjubkan", decak Kura-kura, "Bukan main indahnya". "Tetapi kek, "aku masih melihat yang lebih hebat lagi", sahut si Bangau. "Jadi masih ada yang lebih indah lagl?"ahan alam ini", tutur Si Bangau. Kakek kura-kura menunduk sedih. Semua itu h "Tentu saja kek, tak terhitung jumlahnya keindanya dapat didengarnya saja dari cerita si bangau. Ia sendiri tak pemah melihatnya. "Mengapa kakek sedih", tanya si Bangau, 'Adakah ucapanku mengganggu perasaan kakek?" Kura-kura tua itu menggeleng. Ia lalu menceritakan betapa inginnya ia melihat sendiri semua yang diceritakan sahabatnya itu. Sejenak si Bangau termenung, lalu ia tersenyum. |
|
Jakarta.go.id - Malam telah larut. Rohim berjalan tergesa-gesa. Pemuda tanggung itu sesungguhnya enggan pulang malam itu. Namun karena mendapat kabar mengenai ibunya yang sakit, terpaksalah ia pulang. Untuk menghemat waktu Rohim memotong jalan. Saat melewati belakang rumah Mpek Tong Seng, pemuda itu melihat seekor anjing. Namun ketika angin bertiup, awan pun menyingkir, cahaya bulan menerangi, tampaklah olehnya seekor babi. Betapa terkejutnya Rohim, babi dilihatnya amat besar, nyaris sebesar anak kerbau. Lekas pemuda berteriak-teriak menghalau. Babi itu pun lari. Melihat binatang itu lari, timbul keberanian Rohim. Dengan sebatang kayu ia mengejar babi itu. Namun Rohim kembali terperanjat, saat di kelokan, babi itu tiba-tiba lenyap begitu saja. Tanpa ampun pemuda itu lari pontang-panting. Berulang kali ia jatuh bangun, tersandung-sandung. |
|
Jakarta.go.id - Tersebutlah seorang pertapa yang mempunyai dua orang putera. Keduanya laki-laki, yang tertua bernama Darma Jaya, yang bungsu bernama Darma Larang. Darma Jaya amatlah tampan. Sedangkan Darma Larang sebaliknya. Wajahnya amat buruk, kulitnya sehitam arang, tubuhnya kecil namun perutnya buncit. Disuatu pagi yang cerah, sang pertapa duduk dihadap oleh Darma Jaya. "Ayahanda", sembah Darma Jaya, " Mohon izinkalah hamba pergi ke Ibukota. Hamba ingin sekali mengabdi kepada baginda raja" "Pergilah anakku", sahut sang pertapa, "Semoga pengabdianmu berkenan bagi baginda raja". Darma Jaya pun menyembah dan undur dari penghadapan. Saat ia Keluar dan pertapaan, Darma Larang adiknya memanggil, "Kang mau kemana kang?". |
|
Jakarta.go.id - Mansur adalah seorang pedagang keliling. Ia menjajakan dagangannya hingga ke Cirebon. Karena itu, sekali ia pergi, paling cepat ia baru akan kembali seminggu kemudian. Suatu pagi Mansur baru akan berangkat, di jalan ia berjumpa sahabatnya, Otong dan Udin. "Mau jalan lu Sur?" tegur Udin. "Iya, nanti malam giliran kita ronda yah?" ,ujar Mansur seraya menyodorkan sejumlah uang. "Ini buat beli bako". "Wah jadi nggak enak nih", sahut Otong, namun tak urung uang itu dikantunginya juga. Mansurpun meneruskan perjalanannya, sedang Otong dan Udin bergegas menuju kebun. Malamnya Otong dan Udin bersama beberaPa orang lain meronda. Sepanjang malam mereka berjaga dan berkeliling. Menjelang dini hari mereka memutuskan untuk pulang. |
|
Jakarta.go.id - Pada zaman dahulu, nun jauh di sana tersebutlah sebuah negeri yang elok permai. Alkisah rakyat negeri itu tengah dilanda kesusahan. Ada seekor burung raksasa pemakan manusia datang ke negeri itu. Telah banyak anak negeri yang dimakan burung buas itu. Baginda raja pun gundah. Telah banyak hulubalang perkasa mencoba melawan burung itu. Namun tak satu pun hulubalang itu yang kembali dengan selamat. Hatta datanglah tiga hewan menghadap baginda raja. Mereka adalah anjing belang nyungcang, tikus jinada putih dan kucing candramawat. Ketiganya menyediakan diri untuk melawan burung raksasa itu. "Hai kalian bertiga", sabda baginda raja, "pekerjaan ini teramat sukarnya." "Dengan titah telapak duli paduka, kami akan melaksanakan", sembah kucing candramawat. |
|
Jakarta.go.id - Tersebutlah sepasang remaja yang saling berkasih-kasih. Percintaan mereka tak disetujui oleh orang tua si gadis. Sebab si pemuda amatlah miskin. Suatu ketika, berkatalah pemuda itu kepada kekasihnya, "Dik, orang tua adik jelas-jelas tak menyetujui hubungan kita", Pemuda itu menjelaskan, "Mungkin karena abang orang miskin. Karena itu abang hendak pergi merantau. Siapa tahu nasib abang membaik. Dan jika kita memang berjodoh, kelak pasti kita akan dapat bersama lagi". "Jika memang itu keputusan abang, pergilah". sahut gadis itu dengan berlinang air mata. "Tetapi jika abang sudah berhasil di rantau, lekaslah pulang". Dengan diiringi linangan air mata, pergilah pemuda itu. |
|
|