BERITA INDONESIA

Senin, 01 Januari 2018 00:00 WIB

Surat kabar nasional pertama sesudah Indonesia merdeka, terbit di Jakarta sejak 6 September 1945. Dengan misi mendukung Proklamasi Kemerdekaan. Pendiri harian ini terdiri atas pemuda dan mahasiswa seperti Anas Ma'ruf, Roesli Amran, Sidi Mohammad Sjaaf, Soeraedi Tahsin, Suardi Tasrif, Hasjim Mahdan, Abdul Moerad dan Erie Soedewo. Mereka mula-mula menerbitkan dan mengedarkannya secara sembunyi-sembunyi untuk menghindari tindakan keras tentara Jepang.

Berita Indonesia mulai terbit secara terbuka dengan menggunakan percetakan De Unie milik orang Belanda di Jalan Hayam Wuruk (waktu itu Molenvliet Straat). Penerbitan harian ini terhenti beberapa kali akibat teror tentara Belanda yang menyusup ke Jakarta bersama pasukan Inggris.

Beralih tangan beberapa kali, Berita Indonesia pernah dipimpin oleh B.M. Diah, pendiri harian Merdeka. Ketika terjadi Peristiwa 17 Oktober 1952, demonstrasi di Jakarta yang menuntut pembubaran parlemen, Berita Indonesia bersama Merdeka dilarang terbit selama tiga hari. Pimpinannya yang terakhir adalah Soemantoro, seorang pengikut Tan Malaka dan Partai Murba.

Sejak terjadi pembatasan terhadap koran-koran milik penerbit Cina, Berita Indonesia mulai berkembang dan mampu menjadi salah satu harian nasional terbesar. Namun pada masa kekuatan komunis semakin radikal, kehidupan pers, terutama pers pendukung Barisan Sukarnoisme, mulai terganggu kelangsungannya. Bahkan Berita Indonesia pun sempat dicabut izin penerbitannya. Setelah penumpasan G-30-S, penerbitan-penerbitan itu memperoleh izin terbit kembali, tetapi kebanyakan menemui kesulitan untuk bangun kembali. Soemantoro mencoba mengembalikan masajaya korannya, tetapi gagal merebut hati pembaca dan akhirnya gulung tikar. Soemantoro sendiri meninggal di Jakarta pada tanggal 24 Oktober 1971.